JAKARTA, KOMPAS.com - Kakao yang tumbuh di Kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur, dahulu dilarang dimakan lantaran orang tua pada zaman itu menganggapnya beracun. Perwakilan Kelompok Wanita Petani Kakao Kampung Merasa, Irmaya Banaweng, menceritakan alasannya karena banyak orang yang sakit perut setelah makan buah kakao.
"Jadi dulu mereka melarang kami untuk makan buah kakao. Tetapi setelah ada dampingan dari berbagai pihak salah satunya dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara, kakao menjadi makanan dan minuman yang enak," ujar Irmaya dalam Conservation Talk Maybank Indonesia di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).
Lambat laun, para petani di desanya mulai membudidayakan kakao agar layak dikonsumsi. Menurut Irmaya, Kampung Merasa berada jauh dari pusat kota dengan waktu teempuh sekitar 2 jam menggunakan kendaraan.
Baca juga: Maybank Gandeng YKAN Berdayakan Petani Kakao Perempuan di Berau
Secara turun-temurun, Suku Dayak di sana menggantungkan hidup pada hasil hutan.
"Itu sebabnya kami menjaga hutan dengan sepenuh hati, karena kami tahu bahwa hutan adalah warisan dari nenek moyang kami yang harus kami jaga dengan baik. Kemudian, nantinya akan kami wariskan ke anak cucu kami dalam keadaan baik juga," tutur dia.
Biji kakao dari tanah Merasa bercita rasa khas, yakni sedikit masam. Proses pengolahannya, dimulai dengan mengeluarkan biji dari dalam buah, lalu petani memilah kualitas terbaik.
"Yang terbaiknya, biji yang utuh kami masukkan ke kotak fermentasi dan ditutup dengan daun pisang yang masih segar. Kami diamkan selama lima hari, kami melakukan proses pembalikan, kemudian mengukur suhu untuk mengontrol proses fermentasi," tutur Irmaya.
Kini hampir seluruh warga di Kampung Merasa memiliki kebun kakao. Sebagian besar petani perempuan mulai mengolah kakao menjadi produk bernilai tambah seperti cokelat batang, teh kakao, hingga pasta kakao untuk bahan minuman.
Baca juga: Berkaca dari Kejatuhan Karet, Petani Kalbar Enggan Ubah Semua Lahannya Jadi Sawit
Permintaan pasar pun mulai berdatangan, terutama untuk biji kakao fermentasi dari Merasa. Mereka juga mendapatkan pendanaan dan dampingan dari Maybank Indonesia serta YKAN.
"Ini adalah suatu penyemangat buat kami sebenarnya, tetapi kami sadar bahwa tingkat produksi kakao di Kampung Merasa sekarang ini sangatlah terbatas. Jadi harapan kami dengan adanya dukungan dari Maybank agar kapasitas produksi kami bisa meningkat," jelas Irmaya.
"Dengan dukungan ini anak-anak mudanya bisa melihat bahwa bertani kakao memiliki masa depan tanpa harus merusak hutan," imbuh dia.
Biji petani dari Kampung Merasa diproduksi menjadi produk bekerja sama dengan Pipiltin Cocoa. Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska, menjelaskan pihaknya menyasar perempuan lantaran dinilai kelompok ini lebih minim risiko ketika mengelola keuangan.
Selain itu, perusahaan ingin mengasah potensi petani perempuan yang berdampak pada peningkatan ekonomi di keluarga maupun negara.
"Melalui Yayasan Maybank Indonesia, kami mempunyai tiga pilar dari sisi kegiatan ataupun aksi sosial salah satunya adalah community empowerment, di mana fokus kami saat ini memang adalah untuk ke pemberdayaan perempuan," ungkap Maria.
Di samping pemberdayaan perempuan, perusahaan turut mendukung konservasi alam terutama pada perkebunan kakao di Merasa. Maria menyebut, program ini menargetkan 100 petani perempuan dengan luasan 100 hektare kebun kakao melalui pendanaan hingga Rp 1 miliar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya