Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap

Kompas.com, 4 Maret 2026, 14:39 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru memperingatkan warisan budaya di bawah laut terancam pengasaman laut yang dipicu krisis iklim.

Material yang membentuk banyak harta karun arkeologi berisiko mengalami kerusakan ketika tingkat pH air menurun. Pengasaman laut dapat mempercepat pelapukan situs arkeologi yang terendam.

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment itu mengungkap bagaimana peneliti mempelajari seberapa cepat material bersejarah memburuk akibat pelarutan dan pelapukan biologis di lingkungan laut. Mereka kemudian mengintegrasikan temuan ini dengan model iklim skala besar. 

Baca juga: Kurangnya Data Karbon Laut Bisa Hambat Mitigasi Perubahan Iklim

Dari penelitian diketahui peningkatan emisi dapat memicu peningkatan laju kerusakan secara eksponensial, meski degradasi batu sangat minim pada zaman pra-industri dan tetap relatif terbatas hingga saat ini.

"Perubahan-perubahan ini akan tidak dapat diubah selama beberapa dekade dan abad mendatang, dipengaruhi oleh sifat-sifat material dan dinamika pergeseran biokolonisasi - pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan struktur yang terendam," ujar peneliti utama Luigi Germinario dari Universitas Padua di Italia, dilansir dari Euro News, Rabu (4/3/2026).

Studi tersebut memperingatkan bahwa pengasaman laut akan menimbulkan tantangan serius bagi perlindungan warisan budaya bawah laut. Oleh karena itu, kebijakan konservasi dan adaptasi menjadi lebih mendesak daripada sebelumnya.

Para peneliti melakukan pengujian lapangan di bawah air untuk mensimulasikan skenario pengasaman di masa depan. Mereka bekerja di perairan lepas pantai pulau Ischia, Italia, di mana lapisan tanah vulkanik menciptakan 'lubang ventilasi' yang memancarkan karbon dioksida (CO2) hampir murni pada suhu sekitar, menjadikannya laboratorium hidup untuk mempelajari pengasaman laut.

"Ini adalah lingkungan alami yang memungkinkan kita melihat seperti apa skenario yang diprediksi untuk dekade dan abad mendatang, bahkan pada tingkat pengasaman ekstrem," tutur Germinario.

Mereka menenggelamkan panel yang berisi sampel berbagai material batu yang umum ditemukan dalam warisan budaya. Panel-panel itu ditempatkan di berbagai titik di sekitar lubang ventilasi CO2, sehingga terpapar berbagai tingkat pH dan kondisi pengasaman.

Sementara itu di laboratorium, para peneliti memakai profilometer optik, instrumen beresolusi tinggi yang menciptakan model permukaan tiga dimensi. Hal itu untuk memvisualisasikan dan mengukur efek berbagai tingkat pH pada pelarutan dan erosi.

Baca juga: Studi Ungkap Dampak Tersembunyi Industri Digital Terhadap Perubahan Iklim

“Hal ini memungkinkan kami untuk mensimulasikan apa yang bisa terjadi pada artefak batu di situs arkeologi yang terendam air, baik sekarang maupun di masa depan,” ucapnya.

Risiko Hilangnya Informasi

Temuan dari studi ini menggambarkan masa depan yang mengkhawatirkan bagi warisan budaya bawah laut Eropa. Padahal dalam hal ini, artefak paling rentan justru yang kaya akan kalsium karbonat, seperti marmer dan batu kapur.

Artefak yang bernilai historis atau artistiknya bergantung pada detail-detail kecil dan halus, seperti elemen pahatan, ukiran, dan mosaik, paling berisiko.

Diketahui, Italia adalah rumah bagi beberapa harta karun bawah laut yang spektakuler. Misalnya, Taman Arkeologi Baia dengan mosaik dan lantai marmer dari kota Romawi kuno. Atau, pelabuhan Romawi Egnazia di Puglia.

“Bahkan kerusakan permukaan yang tampaknya kecil pun dapat berarti hilangnya informasi secara permanen,” ujar Germinario.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau