KOMPAS.com - Studi terbaru memperingatkan warisan budaya di bawah laut terancam pengasaman laut yang dipicu krisis iklim.
Material yang membentuk banyak harta karun arkeologi berisiko mengalami kerusakan ketika tingkat pH air menurun. Pengasaman laut dapat mempercepat pelapukan situs arkeologi yang terendam.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment itu mengungkap bagaimana peneliti mempelajari seberapa cepat material bersejarah memburuk akibat pelarutan dan pelapukan biologis di lingkungan laut. Mereka kemudian mengintegrasikan temuan ini dengan model iklim skala besar.
Baca juga: Kurangnya Data Karbon Laut Bisa Hambat Mitigasi Perubahan Iklim
Dari penelitian diketahui peningkatan emisi dapat memicu peningkatan laju kerusakan secara eksponensial, meski degradasi batu sangat minim pada zaman pra-industri dan tetap relatif terbatas hingga saat ini.
"Perubahan-perubahan ini akan tidak dapat diubah selama beberapa dekade dan abad mendatang, dipengaruhi oleh sifat-sifat material dan dinamika pergeseran biokolonisasi - pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan struktur yang terendam," ujar peneliti utama Luigi Germinario dari Universitas Padua di Italia, dilansir dari Euro News, Rabu (4/3/2026).
Studi tersebut memperingatkan bahwa pengasaman laut akan menimbulkan tantangan serius bagi perlindungan warisan budaya bawah laut. Oleh karena itu, kebijakan konservasi dan adaptasi menjadi lebih mendesak daripada sebelumnya.
Para peneliti melakukan pengujian lapangan di bawah air untuk mensimulasikan skenario pengasaman di masa depan. Mereka bekerja di perairan lepas pantai pulau Ischia, Italia, di mana lapisan tanah vulkanik menciptakan 'lubang ventilasi' yang memancarkan karbon dioksida (CO2) hampir murni pada suhu sekitar, menjadikannya laboratorium hidup untuk mempelajari pengasaman laut.
"Ini adalah lingkungan alami yang memungkinkan kita melihat seperti apa skenario yang diprediksi untuk dekade dan abad mendatang, bahkan pada tingkat pengasaman ekstrem," tutur Germinario.
Mereka menenggelamkan panel yang berisi sampel berbagai material batu yang umum ditemukan dalam warisan budaya. Panel-panel itu ditempatkan di berbagai titik di sekitar lubang ventilasi CO2, sehingga terpapar berbagai tingkat pH dan kondisi pengasaman.
Sementara itu di laboratorium, para peneliti memakai profilometer optik, instrumen beresolusi tinggi yang menciptakan model permukaan tiga dimensi. Hal itu untuk memvisualisasikan dan mengukur efek berbagai tingkat pH pada pelarutan dan erosi.
Baca juga: Studi Ungkap Dampak Tersembunyi Industri Digital Terhadap Perubahan Iklim
“Hal ini memungkinkan kami untuk mensimulasikan apa yang bisa terjadi pada artefak batu di situs arkeologi yang terendam air, baik sekarang maupun di masa depan,” ucapnya.
Temuan dari studi ini menggambarkan masa depan yang mengkhawatirkan bagi warisan budaya bawah laut Eropa. Padahal dalam hal ini, artefak paling rentan justru yang kaya akan kalsium karbonat, seperti marmer dan batu kapur.
Artefak yang bernilai historis atau artistiknya bergantung pada detail-detail kecil dan halus, seperti elemen pahatan, ukiran, dan mosaik, paling berisiko.
Diketahui, Italia adalah rumah bagi beberapa harta karun bawah laut yang spektakuler. Misalnya, Taman Arkeologi Baia dengan mosaik dan lantai marmer dari kota Romawi kuno. Atau, pelabuhan Romawi Egnazia di Puglia.
“Bahkan kerusakan permukaan yang tampaknya kecil pun dapat berarti hilangnya informasi secara permanen,” ujar Germinario.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya