Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia

Kompas.com, 7 Maret 2026, 12:46 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengungkapkan mikroplastik ditemukan pada kedalaman 2.450 meter di jalur utama arus lintas Indonesia (Arlindo). Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Malaysia, Amerika Serikat, dan China, menekankan bahwa partikel tersebut berpotensi masuk ke rantai makanan laut yang dikonsumsi manusia.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam BRIN, Corry Yanti Manullang menjelaskan Arlindo adalah sistem arus laut strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melalui sejumlah selat penting antara lain Selat Makassar, Selat Alas, serta Selat Lombok.

“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” ungkap Corry, dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).

Baca juga: Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru

Studi berjudul Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways yang dipublikasikan di Marine Pollution Bulletin itu dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional Triumph.

Peneliti mengambil 92 sampel di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok pada kedalaman 5 hingga 2.450 meter.

Corry menyebut, pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem conductivity, temperature, depth (CTD).

“Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter,” ucap dia.

Baca juga: Risiko di Balik Label Microwave-Safe, Ratusan Ribu Mikroplastik Bisa Masuk ke Makanan

Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, tim peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik. Rata-rata konsentrasinya mencapai 1,062 partikel per liter. Corry mebcatat, miikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian termasuk pada kedalaman lebih dari 2 kilometer di bawah permukaan laut.

Berdasarkan analisis, ditemukan lebih dari 90 persen mikroplastik berbentuk serat (fiber), partikel yang umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.

“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” ungkap Corry.

Selain bentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman, yakni polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri.

“Di kedalaman tertentu, arus Arlindo cukup kuat sehingga partikel plastik bisa terbawa ke berbagai lapisan air,” imbuh dia.

Masuk Tubuh Organisme Laut

Dalam studi lain yang dipublikasikan di jurnal Sains Malaysiana, Corry dan tim menemukan mikroplastik berada dalam tubuh organisme zooplankton kecil bernama kopepoda. Sebanyak 6.000 individu kopepoda dianalisis dari beberapa lokasi di jalur Arlindo. Hasilnya menunjukkan 133 partikel mikroplastik ditemukan di dalam tubuh organisme tersebut.

Rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.

“Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan,” kata Corry.

Penelitian menunjukkan kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibandingkan yang berukuran lebih kecil. Masuknya mikroplastik ke tubuh kopepoda menjadi perhatian karena organisme ini merupakan sumber makanan utama bagi berbagai jenis ikan.

“Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” ujarnya.

Corry menilai, studi mengenai mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan terutama di wilayah laut dalam. Sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter, sehingga penelitian di ekosistem tersebut masih relatif terbatas.

“Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir. Ini sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan,” papar Corry.

Corry berharap penelitiannya dapat menjadi dasar bagi studi lanjutan mengenai pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap organisme laut dan rantai makanan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau