KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengungkapkan mikroplastik ditemukan pada kedalaman 2.450 meter di jalur utama arus lintas Indonesia (Arlindo). Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Malaysia, Amerika Serikat, dan China, menekankan bahwa partikel tersebut berpotensi masuk ke rantai makanan laut yang dikonsumsi manusia.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam BRIN, Corry Yanti Manullang menjelaskan Arlindo adalah sistem arus laut strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melalui sejumlah selat penting antara lain Selat Makassar, Selat Alas, serta Selat Lombok.
“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” ungkap Corry, dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Baca juga: Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Studi berjudul Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways yang dipublikasikan di Marine Pollution Bulletin itu dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional Triumph.
Peneliti mengambil 92 sampel di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok pada kedalaman 5 hingga 2.450 meter.
Corry menyebut, pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem conductivity, temperature, depth (CTD).
“Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter,” ucap dia.
Baca juga: Risiko di Balik Label Microwave-Safe, Ratusan Ribu Mikroplastik Bisa Masuk ke Makanan
Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, tim peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik. Rata-rata konsentrasinya mencapai 1,062 partikel per liter. Corry mebcatat, miikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian termasuk pada kedalaman lebih dari 2 kilometer di bawah permukaan laut.
Berdasarkan analisis, ditemukan lebih dari 90 persen mikroplastik berbentuk serat (fiber), partikel yang umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.
“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” ungkap Corry.
Selain bentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman, yakni polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri.
“Di kedalaman tertentu, arus Arlindo cukup kuat sehingga partikel plastik bisa terbawa ke berbagai lapisan air,” imbuh dia.
Dalam studi lain yang dipublikasikan di jurnal Sains Malaysiana, Corry dan tim menemukan mikroplastik berada dalam tubuh organisme zooplankton kecil bernama kopepoda. Sebanyak 6.000 individu kopepoda dianalisis dari beberapa lokasi di jalur Arlindo. Hasilnya menunjukkan 133 partikel mikroplastik ditemukan di dalam tubuh organisme tersebut.
Rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.
“Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan,” kata Corry.
Penelitian menunjukkan kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibandingkan yang berukuran lebih kecil. Masuknya mikroplastik ke tubuh kopepoda menjadi perhatian karena organisme ini merupakan sumber makanan utama bagi berbagai jenis ikan.
“Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” ujarnya.
Corry menilai, studi mengenai mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan terutama di wilayah laut dalam. Sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter, sehingga penelitian di ekosistem tersebut masih relatif terbatas.
“Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir. Ini sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan,” papar Corry.
Corry berharap penelitiannya dapat menjadi dasar bagi studi lanjutan mengenai pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap organisme laut dan rantai makanan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya