KOMPAS.com - Sekitar empat persen dari partikel debu terdiri dari plastik, dengan dua pertiganya berasal dari abrasi ban, menurut studi yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment.
Hasil ekstrapolasi memperkirakan orang-orang di kota, seperti Kota Leipzig di Jerman, menghirup sekitar 2,1 mikrogram plastik per hari melalui udara.
Baca juga:
Dampaknya, risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat sekitar sembilan persen dan kanker paru-paru 13 persen.
"Mikroplastik dan nanoplastik yang terhirup mewakili ancaman yang sering diabaikan bagi lingkungan perkotaan dan kesehatan manusia. Kami menganalisis konsentrasi dan komposisi polimernya dalam partikel halus yang dipisahkan berdasarkan ukuran, yang dikumpulkan di Leipzig, Jerman, menggunakan teknik pirolisis kromatografi gas spektrometri massa," tulis para peneliti, dilansir dari Nature, Selasa (3/3/2026).
Studi menyebut abrasi ban sumbang mikroplastik di udara. Paparan harian 2,1 mikrogram dikaitkan dengan kenaikan risiko kanker paru 13 persen.Temuan dari studi ini menekankan perlunya aksi global melawan polusi plastik, serta memeriksa kualitas udara dan kesehatan di tingkat regional, dilansir dari Phys.org.
Ada banyak kemungkinan sumber polusi jenis partikel plastik masuk ke udara, seperti debu, serat tekstil, dan keausan ban dan rem.
Bahkan, ada kemungkinan plastik yang masuk ke lautan melalui sungai kembali ke udara sebagai mikroplastik dan nanoplastik melalui percikan air laut.
Hingga saat ini, masih terlalu sedikit yang diketahui tentang risiko dari terhirupnya nanoplastik.
Sejauh ini, partikel plastik berukuran kurang dari satu mikrometer ini dapat masuk ke paru-paru dan menimbulkan stres oksidatif atau reaksi inflamasi yang berkontribusi pada penyakit pernapasan.
Nanoplastik berisiko membawa logam berat, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), dan zat-zat lain di permukaannya, yang menguatkan toksisitas.
Minimnya pengetahuan tentang mikroplastik dan nanoplastik menjadi salah satu alasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Uni Eropa saat ini belum memberi rekomendasi atau nilai batas untuk plastik di udara.
Partikel plastik kecil di udara hampir tidak memainkan peran apa pun dalam diskusi politik. Padahal, polusi plastik di lautan kini menjadi bagian dari negosiasi Perjanjian Plastik PBB.
Baca juga: Tak Sekadar Polusi, Mikroplastik Ganggu Laut Serap Karbon Dioksida
Studi menyebut abrasi ban sumbang mikroplastik di udara. Paparan harian 2,1 mikrogram dikaitkan dengan kenaikan risiko kanker paru 13 persen.Penelitian tentang plastik di udara mulai meraih momentum dalam 10 tahun terakhir. Sebab, material ini terdiri dari berbagai kelompok zat yang beragam dengan sifat kimia berbeda-beda.
Maka dari itu, para ilmuwan menggunakan beberapa metode analitik yang saling melengkapi. Teknik spektroskopi dapat memberikan informasi tentang struktur partikel dan karakteristik permukaan.
Sementara itu, pendekatan berbasis massa digunakan untuk menentukan kuantitas keseluruhan.
Namun, nanoplastik sangat sulit untuk dianalisis dan diidentifikasikan secara jelas dalam sampel lingkungan yang kompleks karena ukurannya sangat kecil.
Kemampuan metode optik konvensional mendeteksi partikel dalam rentang nanometer secara andal sangat terbatas. Identifikasi jenis polimer yang tepat juga menjadi tantangan pada skala sekecil ini.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya