“Tantangan pasti ada. Kadang masih ada anggapan bahwa pekerjaan ini lebih cocok untuk laki-laki,” ujarnya.
Meski demikian, Wanda tidak melihat hal tersebut sebagai hambatan. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai motivasi untuk belajar dan membuktikan kemampuan.
“Justru itu jadi motivasi buat saya untuk menunjukkan bahwa kemampuan tidak dilihat dari gender,” katanya.
Pengalaman tersebut juga mengajarkannya untuk lebih percaya diri sebagai perempuan di dunia kerja.
Ia berharap, perempuan tidak membatasi diri sebelum mencoba sesuatu yang mereka minati.
Baca juga: Aksi Cepat Starbucks Salurkan Bantuan bagi Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
“Kalau punya mimpi atau tujuan, jangan terlalu banyak ragu. Coba dulu dan lakukan saja.
Kadang kita merasa tidak cukup baik, padahal sebenarnya kita mampu,” ujar Wanda.
Di Starbucks Indonesia, ia merasa memiliki ruang untuk berkembang. Setiap partner mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan, coaching, dan mentoring untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Jika ingin mengikuti kompetisi atau mengembangkan keterampilan tertentu, perusahaan juga menyediakan dukungan berupa training plan dan mentor.
Menurut Wanda, dukungan tersebut membuat para partner tidak merasa berjalan sendirian dalam perjalanan karier mereka.
“Mau perempuan atau laki-laki, semua saling mendukung. Jadi, kami tidak bergerak sendiri,” ujarnya.
Selain mengasah kemampuan teknis, ia juga belajar banyak hal dari interaksi sehari-hari dengan pelanggan maupun rekan kerja.
Baca juga: Starbucks Bantu Renovasi Sarana Pendidikan yang Terdampak Bencana Banjir Bali
Bagi Wanda, bekerja di industri hospitality mengajarkannya untuk lebih peka terhadap orang lain. Di tengah rutinitas yang padat, pengalaman-pengalaman kecil seperti itulah yang membuat pekerjaan terasa lebih bermakna.
“Kami belajar memahami pelanggan dan juga teman kerja. Kadang kita harus peka melihat kondisi orang lain,” kata Wanda.
Jika Wanda menemukan kebahagiaan dalam seni meracik kopi, Larasati Sabila justru menemukan makna lain dari pekerjaannya melalui kegiatan sosial.
Sabila memulai kariernya di Starbucks pada 2016 setelah mendapat informasi lowongan dari seorang teman. Saat itu, ia bergabung sebagai barista di gerai Starbucks Senayan City, Jakarta.
Seiring waktu, ia semakin memahami bahwa pekerjaan di Starbucks tidak hanya tentang meracik kopi dan melayani pelanggan. Perusahaan juga mendorong para partner untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di masyarakat.
Larasati Sabila aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial bersama komunitas. Baginya, pekerjaan di dunia kopi juga menjadi ruang untuk memberi dampak bagi masyarakat. Ketertarikan Sabila pada kegiatan sosial mulai tumbuh ketika ia mengikuti program bersama komunitas di Pademangan Barat, Jakarta.
Baca juga: Starbucks Catat Rekor MURI dan Rayakan Bulan Kopi Internasional dengan Kompetisi Latte Art
Dalam program tersebut, ia dan sejumlah partner Starbucks datang secara rutin untuk bermain dan belajar bersama anak-anak di lingkungan tersebut.
“Kami datang setiap bulan untuk berinteraksi dengan mereka,” kata Sabila.
Kegiatan yang dilakukan sebenarnya sederhana, yakni mengajar, bermain, atau sekadar berbincang bersama anak-anak.
Namun bagi Sabila, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Awalnya banyak anak yang terlihat pemalu ketika bertemu dengan para relawan. Namun seiring waktu berjalan, mereka mulai lebih terbuka dan percaya diri.
“Melihat perubahan kecil seperti itu rasanya sangat menyentuh,” tutur Sabila.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya