Pengalaman tersebut membuat Sabila semakin aktif terlibat dalam berbagai program sosial perusahaan. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah ketika ia terlibat dalam program Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP) bagi siswa SMAN 81 Jakarta.
Dalam program itu, para siswa diminta mengembangkan proyek bisnis sederhana. Sabila dan tim Starbucks hadir sebagai mentor untuk membantu mereka memahami dasar-dasar membangun usaha.
Baca juga: 300 Gerai Starbucks Indonesia Gelar Kelas Latte Art Serentak, Catat Rekor MURI
“Kami berdiskusi tentang bagaimana menjalankan bisnis, mulai dari ide, pemasaran, sampai kerja tim,” katanya.
Bagi Sabila, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru tentang pekerjaan dan kehidupan. Ia merasa, melalui kegiatan sosial, pekerjaan tidak hanya berhenti pada rutinitas operasional di gerai. Ada kesempatan untuk memberikan dampak nyata bagi orang lain.
“Di Starbucks ada nilai untuk memberi lebih dari yang kita ambil. Itu yang membuat saya merasa pekerjaan ini punya makna lebih,” imbuhnya.
Sebagai perempuan serta pemimpin di gerai, ia percaya empati dan kepedulian adalah kekuatan yang dimiliki banyak perempuan dan dapat memberi dampak besar bagi lingkungan sekitar.
“Perempuan sering punya kepekaan terhadap orang lain. Kalau itu (empati dan kepedulian) digunakan untuk membantu komunitas atau orang di sekitar kita, dampaknya bisa sangat luas,” kata Sabila.
Oleh karena itu, ia berharap, semakin banyak perempuan berani terlibat dalam kegiatan sosial dan berkontribusi di masyarakat, sekecil apapun langkah yang mereka lakukan.
Baca juga: Starbucks Ajak Pelanggan Nikmati Pengalaman Penuh Kesan di Tokyo lewat Kampanye More Than Worth
“Kadang hal kecil yang kita lakukan bisa berarti besar bagi orang lain,” ujarnya.
Kisah ketiganya memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada narasi individual. Ia tecermin dalam struktur organisasi dan budaya kerja.
Data internal PT Sari Coffee Indonesia (PT SCI), pemegang lisensi Starbucks di Indonesia, menunjukkan komposisi karyawan yang relatif seimbang. Dari total staf, 47 persen merupakan perempuan dan 53 persen laki-laki.
Di level manajerial dan ke atas, perempuan menempati 43 persen posisi. Sementara di jajaran Business Leader Team, perempuan mengisi 27 persen posisi.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan hadir di berbagai jenjang organisasi, termasuk di level kepemimpinan.
Public Relations Communications & CSR Division Manager PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks Indonesia) Kiki Rizki menegaskan bahwa perusahaan tidak memiliki program khusus pengembangan perempuan secara terpisah.
Baca juga: Pemprov Jakarta, Inotek, dan Starbucks Indonesia Luncurkan Program KRING untuk Dukung 100 UMKM Kopi
“Akan tetapi, perusahaan benar-benar membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk tumbuh dan berkembang, baik di level manajerial, upskilling partner (barista), maupun di CSR. Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki di perusahaan. Semuanya punya kesempatan yang sama,” ujar Kiki.
Menurut dia, pendekatan tersebut berangkat dari prinsip kesetaraan kesempatan. Setiap partner memiliki akses yang sama terhadap pelatihan, promosi, pengembangan kepemimpinan, hingga keterlibatan dalam program sosial.
Perjalanan Santi menuju posisi operation manager, pencapaian Wanda dalam kompetisi latte art, dan keterlibatan Sabila dalam kegiatan sosial bukanlah pengecualian, melainkan bagian dari sistem yang dikembangkan Starbucks Indonesia untuk memberi ruang tumbuh.
Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk program khusus. Ia bisa hadir dalam kebijakan yang inklusif, budaya kerja yang mendukung, dan kepercayaan untuk mengambil peran strategis.
Momentum Hari Perempuan Internasional menjadi pengingat bahwa kesetaraan bukan sekadar angka statistik, melainkan tentang akses, dukungan, dan keberanian untuk melangkah.
Dari ruang rapat hingga balik bar, dari perjalanan dinas lintas kota hingga kegiatan komunitas, Santi Octaviani, Euis Wanda, dan L Sabila menunjukkan bahwa ketika kesempatan terbuka dan lingkungan mendukung, perempuan dapat tumbuh sesuai potensi dan minatnya.
Dan di balik secangkir kopi yang tersaji hangat, ada perempuan-perempuan yang tidak hanya bekerja, tetapi juga memimpin, berkreasi, dan memberi dampak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya