JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Peringatan ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali serta merayakan nilai kesetaraan, keberanian, dan daya juang perempuan di berbagai ruang kehidupan, termasuk dunia kerja.
Di momentum spesial ini, Kompas.com mengangkat kisah tiga perempuan tangguh yang berhasil mengembangkan karier di Starbucks Indonesia. Para perempuan ini, Santi Octaviani, Euis Wanda, dan Larasati Sabila, membuktikan diri bahwa dengan kesempatan yang diberikan secara setara, perempuan bisa tumbuh memimpin, berkreasi, dan memberi dampak.
Ruang itu bukan sekadar tempat bekerja, melainkan simpul dari puluhan gerai dan ratusan karyawan yang kini berada dalam koordinasinya.
Sebagai Operation Manager Starbucks Indonesia, Santi memimpin operasional di 15 kota yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Ia terbiasa berpindah dari Bandung ke Semarang, dari Karawang hingga kota-kota lain, untuk memastikan setiap gerai berjalan selaras, mulai dari standar pelayanan hingga pencapaian target bisnis.
Baca juga: Saat Meja Bar Kopi Jadi Ruang Tumbuh Barista Indonesia hingga Bawa ke Panggung Dunia
Namun, perjalanan menuju posisi manajerial itu tidak dimulai dari ruang rapat. Perjalanan ini justru bermula dari balik bar kopi.
Pada 2008, saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Santi bekerja sebagai barista paruh waktu di Starbucks Ambarukmo Plaza. Niat awalnya sederhana, yakni mencari pengalaman dan penghasilan tambahan.
“Awalnya hanya ingin punya kesibukan dan penghasilan sendiri. Namun, ternyata saya menemukan passion di dunia hospitality,” ujarnya kepada Kompas.com secara daring, Jumat (6/3/2026).
Di balik bar, ia belajar lebih dari sekadar meracik kopi. Ia belajar membaca ekspresi pelanggan, memahami dinamika tim, dan mengelola tekanan saat antrean memanjang. Ia menyadari bahwa secangkir kopi sering kali menjadi bagian dari momen penting seseorang.
Santi Octaviani memulai perjalanan kariernya dari balik bar kopi. Kini ia memimpin operasional Starbucks di sejumlah kota sambil terus menanamkan empati dalam kepemimpinan. Kariernya pun berkembang dari barista penuh waktu, supervisor, store manager, hingga dipercaya menjadi operation manager pada 2024.
Meski kini lebih banyak menghabiskan waktu dalam rapat dan perjalanan dinas, cara memimpinnya tetap berakar pada pengalaman awalnya sebagai barista.
Baca juga: Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
“Empati dan kepedulian itu penting. Kita harus benar-benar memahami tim,” katanya menjelaskan cara dia memimpin.
Bagi Santi, kepemimpinan tidak sekadar memastikan angka tercapai, tetapi juga memastikan setiap anggota tim merasa didengar dan didukung.
Di luar pekerjaan, ia juga menjalani peran sebagai istri dan ibu. Sejak dipindahkan ke Bandung, ia menjalani long distance marriage.
Suami dan kedua anaknya tetap tinggal di Yogyakarta. Selama tiga minggu ia bekerja di Bandung, lalu pulang satu minggu untuk bersama keluarga.
“Support system sangat penting. Saya bersyukur suami memahami bahwa saya punya tanggung jawab sebagai profesional dan ibu sekaligus,” ujarnya.
Baginya, menjadi perempuan bukan berarti harus memilih antara keluarga dan karier. Menurutnya, perempuan tidak perlu ragu mengejar apa yang mereka cita-citakan selama tetap mampu menjaga diri dan keseimbangan hidup.
Baca juga: Rayakan 2 Dekade Perjalanan, Gerai Pertama Starbucks Indonesia Bersolek
“Kejarlah mimpi, tapi jangan lupa untuk memprioritaskan diri sendiri karena kita harus bisa menjaga diri kita terlebih dahulu sebelum memberi yang terbaik bagi orang lain,” pesan Santi kepada perempuan-perempuan lain Indonesia.
Euis Wanda, barista Starbucks Mulawarman Balikpapan, menekuni latte art sebagai cara mengekspresikan kreativitas sekaligus memberi pengalaman personal bagi pelanggan.
Di Starbucks Mulawarman, Balikpapan, Euis Wanda menemukan ruang tumbuhnya di balik mesin espresso.
Tangannya cekatan menggenggam pitcher susu, menuangkannya perlahan hingga membentuk pola di permukaan kopi. Bagi pelanggan, latte art mungkin hanya detail kecil. Namun, tidak bagi Wanda. Latte art baginya adalah ruang kreativitas dan pembuktian diri sekaligus.
“Ada rasa penasaran bagaimana cara membuat pola itu. Dari situ saya mulai belajar,” katanya.
Ia berlatih berulang kali, memahami tekstur susu, kecepatan menuang, hingga posisi tangan. Baginya, proses belajar itu justru menjadi bagian paling menyenangkan. Melalui latte art, ia merasa dapat mengekspresikan kreativitasnya serta memberikan pengalaman yang lebih personal bagi pelanggan.
“Ketika pelanggan melihat latte art di kopinya dan tersenyum, rasanya ada kepuasan tersendiri,” katanya.
Baca juga: Starbucks Rekrut Eks Eksekutif Amazon sebagai CTO Baru
Namun, perjalanan menjadi barista perempuan juga tidak selalu bebas dari tantangan. Menurut Wanda, masih ada anggapan bahwa pekerjaan di balik bar kopi lebih cocok dilakukan oleh laki-laki karena ritme kerja yang cepat dan cukup menguras tenaga, terutama saat gerai sedang ramai.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya