KOMPAS.com - Lapisan berwarna marun mewarnai Teluk Maine, Amerika Serikat (AS), hasil dari 65.000 liter bahan kimia alkali yang sengaja dipompa oleh para ilmuwan ke laut.
Eksperimen ilmiah untuk menghadapi pemanasan global dan pengasaman laut itu disebut peningkatan alkalinitas laut (Ocean alkalinity enhancement/OAE). Pendekatan OAE bekerja seperti pelapukan alami dalam skala waktu manusia, bukan geologis.
Baca juga:
“Laut sudah sangat basa. (Laut menyimpan) 38.000 miliar ton karbon, yang tersimpan sebagai bikarbonat terlarut, atau soda kue,” kata ahli oseanografi utama dari tim peneliti yang mengumumkan hasil awal dari uji coba mereka di Pertemuan Ilmu Kelautan AGU di Glasgow, Adam Subhas, dilansir dari The Guardian, Rabu (11/3/2026).
Secara teori, kenaikan alkalinitas alami ini yang dipicu antasida kimia, akan mendorong lautan untuk menyerap lebih banyak karbon.
Di area permukaan yang luas dan dikombinasikan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) yang tajam, OAE dapat mencegah suhu global melebihi dua derajat celsius di atas tingkat pra-industri.
Hal itu mengurangi keasaman laut secara lokal, yang saat ini lebih tinggi daripada titik mana pun dalam satu juta tahun terakhir dan menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan laut maupun perikanan.
Baca juga:
Ilmuwan melakukan eksperimen OAE untuk menghadapi pemanasan global dan pengasaman laut.Para ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic Institution telah mengantongi izin dari Badan Perlindungan Lingkungan AS dalam percobaan di 50 mil (sekitar 80,4 kilometer) lepas pantai Massachusetts, yang biasa digunakan untuk penangkapan ikan kod, haddock, dan lobster.
Kendati berskala kecil dan masih menunggu peninjauan sejawat, studi dari percobaan itu menemukan hasil yang menjanjikan.
Selama lima hari di laut, proyek Loc-Ness memakai teknologi mutakhir, di antaranya, glider otonom, kendaraan bawah air otonom jarak jauh, serta sensor di atas kapal untuk melacak penyebaran 65.000 liter natrium hidroksida, bahan kimia alkali yang diberi label dengan pewarna merah dari lokasi pelepasan.
Mereka mengukur hingga 10 ton karbon yang masuk ke laut dan peningkatan pH lokal di lokasi pemasangan dari 7,95 menjadi 8,3, yang menunjukkan kembalinya alkalinitas laut ke tingkat pra-industri.
Percobaan tersebut menunjukkan tidak ada bahaya signifikan bagi makhluk hidup, seperti plankton dan larva ikan serta lobster. Namun, para peneliti tidak mengukur dampaknya pada ikan dewasa atau mamalia laut.
Dalam praktiknya, OAE sangat mirip dengan pengapuran, yang pertama kali digunakan 2.000 tahun yang lalu oleh petani Yunani untuk menetralkan keasaman ladang mereka.
Baru-baru ini, pada tahun 1980-an, sungai-sungai Skandinavia yang mengalami penurunan populasi ikan akibat hujan asam diberi dosis kapur alkali dalam jumlah besar.
Saat ini, sudah ada banyak perusahaan rintisan OAE yang terverifikasi untuk menjual kredit karbon melalui registrasi penghapusan karbon internasional, Isometric. Kredit tersebut dibeli oleh perusahaan-perusahaan yang bertujuan untuk mengklaim bisnis mereka sebagai net zero emission (NZE).
Meski demikian, sebenarnya masih belum jelas apakah OAE bekerja dengan aman pada tingkat yang dibutuhkan untuk memberikan manfaat iklim.
Baca juga:
Tim Subhas, yang mencakup peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution, Rutgers University, dan Environmental Defence Fund, secara perdana menguji hal ini di perairan terbuka.
Rencananya, para peneliti membuat model dan menggunakan data kelautan untuk memahami bagaimana gumpalan kimia tersebut terus menyerap karbon dioksida dari waktu ke waktu.
“Dalam skenario terbaik, penyebaran ini akan menyebabkan penyerapan sekitar 50 ton karbon dioksida dari atmosfer ke air laut selama kurang lebih satu tahun,” ucap Subhas.
Sebagai perbandingan, 50 ton karbon setara dengan emisi gas rumah kaca (GRK) tahunan lima warga Inggris.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya