Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terumbu Karang Terancam Dikuasai Alga Tahun 2100 akibat Pengasaman Laut

Kompas.com, 12 Desember 2025, 12:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Kondisi terumbu karang di dunia diprediksi berubah drastis pada tahun 2100. Fleshy algae atau alga berdaging diprediksi mengambil alih terumbu karang karena air laut semakin asam akibat peningkatkan karbon dioksida (CO2), menurut penelitian yang dipimpin oleh Australian Institute of Marine Science (AIMS).

"Pengasaman laut (ocean asidification) merupakan masalah global yang sangat besar, yang hingga saat ini masih kurang diteliti dan dilaporkan," tutur peneliti koral di AIMS dan penulis senior dalam penelitian tersebut, Dr. Katharina Fabricius, dikutip dari SciTechDaily, Kamis (11/12/2025).

Baca juga:

"Penelitian ini merupakan yang pertama dari jenisnya, menyajikan data lapangan yang unik dan memungkinkan kita untuk menilai bagaimana komunitas ekosistem berubah di dunia nyata," imbuh Fabricius. 

Terumbu karang diprediksi dikuasai alga tahun 2100

Penelitian internasional ini menyoroti masa depan terumbu karang di Australia dan dunia.

Menurut para peneliti, peningkatan karbon dioksida akan mengubah kimia air laut sehingga pemulihan terumbu karang berlangsung lambat. Ekosistem juga akan kehilangan kompleksitas dan makin mudah dikuasai alga.

Temuan itu didasarkan pada penelitian jangka panjang di perairan Papua Nugini. Riset ini memanfaatkan lokasi unik di dekat gunung api bawah laut, yang mengeluarkan gas karbon dioksida alami dari dasar laut sehingga menciptakan kondisi mirip lautan masa depan.

Lokasi tersebut, menurut Fabricius, membantu peneliti memahami batas toleransi terumbu karang terhadap paparan karbon dioksida jangka panjang.

Fabricius juga menegaskan penelitian ini bisa membantu menjawab pertanyaan penting.

"Bagaimana terumbu karang akan bertahan jika emisi sejalan dengan tingkat emisi yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris? Bagaimana mereka akan merespons skenario emisi CO2 yang lebih tinggi?" kata dia. 

Baca juga:

Lokasi penelitian di Papua Nugini

Pengasaman laut membuat karang melemah dan alga semakin dominan. Terumbu karang terancam dikuasai alga pada tahun 2100.UNSPLASH/QUI NGUYEN Pengasaman laut membuat karang melemah dan alga semakin dominan. Terumbu karang terancam dikuasai alga pada tahun 2100.

Pada tahun 2000, Fabricius pertama kali melihat gelembung gas muncul dari terumbu karang ketika ia melakukan survei spesies di Milne Bay, sekitar 500 kilometer dari Port Moresby, Ibu Kota Papua Nugini.

Saat isu pengasaman laut muncul pada tahun 2009, ia kembali memikirkan momen itu. Setelah gas tersebut diperiksa, hasilnya mengejutkan. Gas itu hampir murni karbon dioksida.

Temuan itu membuka jalan bagi penelitian selama satu dekade. Tim AIMS kemudian mempelajari bagaimana ekosistem tropis bisa beradaptasi atau berusaha bertahan terhadap paparan karbon dioksida tinggi selama beberapa generasi.

Dr. Sam Noonan, peneliti AIMS dan penulis pertama penelitian tersebut, mengungkapkan ancaman besar yang muncul.

"Terumbu karang di Papua Nugini ini memberi tahu bahwa dengan setiap peningkatan sedikit kadar CO2, kita akan melihat semakin sedikit terumbu karang dan semakin banyak alga berdaging," ucap Noonan.

Selain itu, jumlah karang muda juga menurun. Artinya, terumbu tidak bisa tumbuh dan pulih dengan cepat. Kondisi ini akan berdampak pada spesies laut, misalnya ikan, dan manusia yang bergantung pada terumbu karang.

Laut saat ini memiliki pH sekitar 8.0. Namun, pengasaman meningkat 30 persen. Jika emisi terus naik, pH laut diprediksi turun ke 7.8 pada tahun 2100.

Adapun perubahan ini berlangsung perlahan. Ketika karbon dioksida meningkat, alga berdaging akan semakin mendominasi. 

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
OpenAI Siapkan Rencana Stargate agar Pusat Data AI Tak Bebani Warga
OpenAI Siapkan Rencana Stargate agar Pusat Data AI Tak Bebani Warga
Swasta
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
LSM/Figur
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Pemerintah
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
Swasta
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Pemerintah
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau