Penulis
KOMPAS.com - Kondisi terumbu karang di dunia diprediksi berubah drastis pada tahun 2100. Fleshy algae atau alga berdaging diprediksi mengambil alih terumbu karang karena air laut semakin asam akibat peningkatkan karbon dioksida (CO2), menurut penelitian yang dipimpin oleh Australian Institute of Marine Science (AIMS).
"Pengasaman laut (ocean asidification) merupakan masalah global yang sangat besar, yang hingga saat ini masih kurang diteliti dan dilaporkan," tutur peneliti koral di AIMS dan penulis senior dalam penelitian tersebut, Dr. Katharina Fabricius, dikutip dari SciTechDaily, Kamis (11/12/2025).
Baca juga:
"Penelitian ini merupakan yang pertama dari jenisnya, menyajikan data lapangan yang unik dan memungkinkan kita untuk menilai bagaimana komunitas ekosistem berubah di dunia nyata," imbuh Fabricius.
Penelitian internasional ini menyoroti masa depan terumbu karang di Australia dan dunia.
Menurut para peneliti, peningkatan karbon dioksida akan mengubah kimia air laut sehingga pemulihan terumbu karang berlangsung lambat. Ekosistem juga akan kehilangan kompleksitas dan makin mudah dikuasai alga.
Temuan itu didasarkan pada penelitian jangka panjang di perairan Papua Nugini. Riset ini memanfaatkan lokasi unik di dekat gunung api bawah laut, yang mengeluarkan gas karbon dioksida alami dari dasar laut sehingga menciptakan kondisi mirip lautan masa depan.
Lokasi tersebut, menurut Fabricius, membantu peneliti memahami batas toleransi terumbu karang terhadap paparan karbon dioksida jangka panjang.
Fabricius juga menegaskan penelitian ini bisa membantu menjawab pertanyaan penting.
"Bagaimana terumbu karang akan bertahan jika emisi sejalan dengan tingkat emisi yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris? Bagaimana mereka akan merespons skenario emisi CO2 yang lebih tinggi?" kata dia.
Baca juga:
Pengasaman laut membuat karang melemah dan alga semakin dominan. Terumbu karang terancam dikuasai alga pada tahun 2100.Pada tahun 2000, Fabricius pertama kali melihat gelembung gas muncul dari terumbu karang ketika ia melakukan survei spesies di Milne Bay, sekitar 500 kilometer dari Port Moresby, Ibu Kota Papua Nugini.
Saat isu pengasaman laut muncul pada tahun 2009, ia kembali memikirkan momen itu. Setelah gas tersebut diperiksa, hasilnya mengejutkan. Gas itu hampir murni karbon dioksida.
Temuan itu membuka jalan bagi penelitian selama satu dekade. Tim AIMS kemudian mempelajari bagaimana ekosistem tropis bisa beradaptasi atau berusaha bertahan terhadap paparan karbon dioksida tinggi selama beberapa generasi.
Dr. Sam Noonan, peneliti AIMS dan penulis pertama penelitian tersebut, mengungkapkan ancaman besar yang muncul.
"Terumbu karang di Papua Nugini ini memberi tahu bahwa dengan setiap peningkatan sedikit kadar CO2, kita akan melihat semakin sedikit terumbu karang dan semakin banyak alga berdaging," ucap Noonan.
Selain itu, jumlah karang muda juga menurun. Artinya, terumbu tidak bisa tumbuh dan pulih dengan cepat. Kondisi ini akan berdampak pada spesies laut, misalnya ikan, dan manusia yang bergantung pada terumbu karang.
Laut saat ini memiliki pH sekitar 8.0. Namun, pengasaman meningkat 30 persen. Jika emisi terus naik, pH laut diprediksi turun ke 7.8 pada tahun 2100.
Adapun perubahan ini berlangsung perlahan. Ketika karbon dioksida meningkat, alga berdaging akan semakin mendominasi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya