Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof. Dr. A’an Johan Wahyudi
Peneliti

Profesor Riset Biogeokimia Laut, Badan Riset dan Inovasi Nasional; Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI)

Ancaman Pengasaman Laut di Perairan Paparan Sunda

Kompas.com, 21 November 2025, 15:21 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LAUT Indonesia selalu digambarkan sebagai kawasan yang kaya, hangat, dan penuh kehidupan. Kita bangga menyebut Nusantara sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia.

Namun, jauh di bawah kilau permukaan laut biru, ada perubahan kimiawi yang pelan, tapi pasti mulai mengancam masa depan ekosistem laut kita, yaitu pengasaman laut (ocean acidification).

Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia sains, tetapi hingga kini Indonesia masih kekurangan data jangka panjang untuk benar-benar memahami bagaimana kondisi lautan kita berubah.

Studi terbaru di perairan paparan Sunda (Sunda Shelf Sea) — kawasan yang mencakup perairan barat Indonesia, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Karimata, dan Laut Jawa — memberikan gambaran yang lebih jelas dan mengkhawatirkan tentang perubahan tersebut.

Mengapa laut bisa menjadi ‘asam’?

Pengasaman laut terjadi ketika karbon dioksida (CO2) di atmosfer larut ke dalam air laut. Reaksi kimia yang terjadi menghasilkan asam karbonat yang membuat pH air laut turun.

Baca juga: Surabaya dalam Ancaman Hujan Mikroplastik

Meski angka penurunan ini tampak kecil, misalnya hanya 0,1 unit sejak era industri, dampaknya sangat besar bagi organisme laut.

Makhluk laut seperti karang, kerang-kerangan, hingga plankton penghasil kalsium karbonat sangat sensitif terhadap perubahan ini.

Jika pH menurun dan kejenuhan aragonit (ΩAr) turun, mereka akan kesulitan membentuk rangka atau cangkang.

Imbasnya bisa berantai mulai dari ekosistem melemah, daya tahan terhadap perubahan menurun, dan produktivitas laut pun terancam.

Selama ini, banyak yang mengira pengasaman laut paling parah terjadi di wilayah kutub dan sub tropis. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perairan tropis, termasuk Indonesia, tidaklah lebih aman dari ancaman pengasaman laut.

Bahkan, beberapa organisme laut tropis lebih sensitif terhadap perubahan rasio ion dalam air laut daripada sekadar kejenuhan aragonit.

Temuan penting dari riset di perairan paparan Sunda

Riset yang dilakukan oleh Wahyudi dkk. (2025) menunjukkan bahwa selama periode penelitian, pH air laut (dalam skala total) sering berada di bawah 8.0.

Ini adalah ambang yang mengindikasikan perairan sedang berada dalam kondisi yang rentan bagi organisme berkalsium.

Selain itu, kejenuhan aragonit—penentu kemampuan organisme untuk membentuk kalsium karbonat—sering berada di bawah 3.0, bahkan pernah berada di bawah 2.5, nilai yang dianggap kritis bagi terumbu karang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau