Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
LAUT Indonesia selalu digambarkan sebagai kawasan yang kaya, hangat, dan penuh kehidupan. Kita bangga menyebut Nusantara sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia.
Namun, jauh di bawah kilau permukaan laut biru, ada perubahan kimiawi yang pelan, tapi pasti mulai mengancam masa depan ekosistem laut kita, yaitu pengasaman laut (ocean acidification).
Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia sains, tetapi hingga kini Indonesia masih kekurangan data jangka panjang untuk benar-benar memahami bagaimana kondisi lautan kita berubah.
Studi terbaru di perairan paparan Sunda (Sunda Shelf Sea) — kawasan yang mencakup perairan barat Indonesia, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Karimata, dan Laut Jawa — memberikan gambaran yang lebih jelas dan mengkhawatirkan tentang perubahan tersebut.
Mengapa laut bisa menjadi ‘asam’?
Pengasaman laut terjadi ketika karbon dioksida (CO2) di atmosfer larut ke dalam air laut. Reaksi kimia yang terjadi menghasilkan asam karbonat yang membuat pH air laut turun.
Baca juga: Surabaya dalam Ancaman Hujan Mikroplastik
Meski angka penurunan ini tampak kecil, misalnya hanya 0,1 unit sejak era industri, dampaknya sangat besar bagi organisme laut.
Makhluk laut seperti karang, kerang-kerangan, hingga plankton penghasil kalsium karbonat sangat sensitif terhadap perubahan ini.
Jika pH menurun dan kejenuhan aragonit (ΩAr) turun, mereka akan kesulitan membentuk rangka atau cangkang.
Imbasnya bisa berantai mulai dari ekosistem melemah, daya tahan terhadap perubahan menurun, dan produktivitas laut pun terancam.
Selama ini, banyak yang mengira pengasaman laut paling parah terjadi di wilayah kutub dan sub tropis. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perairan tropis, termasuk Indonesia, tidaklah lebih aman dari ancaman pengasaman laut.
Bahkan, beberapa organisme laut tropis lebih sensitif terhadap perubahan rasio ion dalam air laut daripada sekadar kejenuhan aragonit.
Riset yang dilakukan oleh Wahyudi dkk. (2025) menunjukkan bahwa selama periode penelitian, pH air laut (dalam skala total) sering berada di bawah 8.0.
Ini adalah ambang yang mengindikasikan perairan sedang berada dalam kondisi yang rentan bagi organisme berkalsium.
Selain itu, kejenuhan aragonit—penentu kemampuan organisme untuk membentuk kalsium karbonat—sering berada di bawah 3.0, bahkan pernah berada di bawah 2.5, nilai yang dianggap kritis bagi terumbu karang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya