Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Semakin Lestari Laut, Semakin Meningkat Pendapatan Wisatanya

Kompas.com, 5 Maret 2026, 20:17 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata. Hal tersebut menurut penelitian dari Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego, Amerika Serikat (AS). 

Studi tersebut menunjukkan, perairan yang dikelola dengan baik akan membuat jumlah ikan kembali melimpah, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dari wisata selam atau biasa juga disebut scuba diving.

Baca juga:

Studi yang diterbitkan di jurnal Ecological Economics ini juga menyediakan sebuah kerangka kerja guna membantu para pengelola atau investor untuk menghitung potensi keuntungan finansial yang bisa mereka dapatkan dari melestarikan laut, dilansir dari Phys.org, Kamis (5/3/2026). 

Kelestarian laut bisa tambah pendapatan pariwisata

Keuntungan dari perlindungan laut yang baik

Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata.Dok. Freepik/Freepik Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata.

Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara perlindungan laut dan pendapatan wisata, peneliti melakukan serangkaian analisis.

Peneliti menganalisis biomassa ikan yang sudah dipantau di banyak lokasi di seluruh dunia sebagai indikator standar kesehatan ekosistem.

Selanjutnya, para peneliti mengamati biomassa ikan dan harga paket menyelam di 23 lokasi dari tiga wilayah samudera, dan menemukan adanya korelasi positif.

Setelah itu, tim memasukkan data salah satu lokasi menyelam yakni Taman Nasional Cabo Pulmo di Meksiko. 

Di lokasi tersebut, populasi ikan telah pulih berkat perlindungan yang kuat. Kondisi itu menetapkan adanya hubungan positif antara pemulihan ekosistem dengan jumlah penyelam yang mengunjungi lokasi tersebut dari waktu ke waktu.

Berdasarkan kedua hubungan tersebut dan tren pemulihan populasi ikan dari literatur ekologi, para peneliti mengembangkan sebuah kerangka kerja untuk memproyeksikan pendapatan wisata selam dari waktu ke waktu di bawah berbagai tingkat perlindungan.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa lokasi selam yang dilindungi bisa mengalami peningkatan pendapatan hingga 252 persen selama satu dekade, tapi hanya jika perlindungannya kuat dan efektif.

Baca juga:

Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata.Shutterstock Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata.

Kawasan dengan status dilindungi, tapi punya penegakan hukum yang lemah, justru menunjukkan penurunan pendapatan dalam periode yang sama karena populasi ikan terus memburuk.

Kerangka kerja ini dirancang agar dapat disesuaikan dengan kondisi di setiap lokasi secara individu.

Para pengelola dapat memasukkan data, seperti pengukuran biomassa ikan lokal, harga dasar paket selam, dan biaya operasional penegakan aturan untuk menghasilkan proyeksi khusus lokasi mengenai estimasi pengembalian investasi (return-on-investment) serta jangka waktu balik modal.

Peneliti juga menyarankan bahwa kerangka kerja ini dapat membantu dalam menyusun instrumen keuangan konservasi, seperti obligasi, yang mana pembayarannya dikaitkan dengan pencapaian tolok ukur ekologis yang telah terverifikasi.

Meskipun penelitian ini berfokus pada wisata selam, dengan menghubungkan variabel kesehatan lingkungan yang dapat diukur dengan kegiatan ekonomi yang tidak merusak alam tersebut, itu dapat diterapkan di bidang lain di mana pun mata pencaharian masyarakat bergantung pada kesehatan ekosistem.

Studi ini dipimpin oleh Fabio Favoretto dosen di Universitas Plymouth, dan ditulis bersama oleh Matthew J. Forrest dan Octavio Aburto-Oropeza dari Scripps Institution of Oceanography.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau