KOMPAS.com - Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata. Hal tersebut menurut penelitian dari Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego, Amerika Serikat (AS).
Studi tersebut menunjukkan, perairan yang dikelola dengan baik akan membuat jumlah ikan kembali melimpah, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dari wisata selam atau biasa juga disebut scuba diving.
Baca juga:
Studi yang diterbitkan di jurnal Ecological Economics ini juga menyediakan sebuah kerangka kerja guna membantu para pengelola atau investor untuk menghitung potensi keuntungan finansial yang bisa mereka dapatkan dari melestarikan laut, dilansir dari Phys.org, Kamis (5/3/2026).
Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata.Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara perlindungan laut dan pendapatan wisata, peneliti melakukan serangkaian analisis.
Peneliti menganalisis biomassa ikan yang sudah dipantau di banyak lokasi di seluruh dunia sebagai indikator standar kesehatan ekosistem.
Selanjutnya, para peneliti mengamati biomassa ikan dan harga paket menyelam di 23 lokasi dari tiga wilayah samudera, dan menemukan adanya korelasi positif.
Setelah itu, tim memasukkan data salah satu lokasi menyelam yakni Taman Nasional Cabo Pulmo di Meksiko.
Di lokasi tersebut, populasi ikan telah pulih berkat perlindungan yang kuat. Kondisi itu menetapkan adanya hubungan positif antara pemulihan ekosistem dengan jumlah penyelam yang mengunjungi lokasi tersebut dari waktu ke waktu.
Berdasarkan kedua hubungan tersebut dan tren pemulihan populasi ikan dari literatur ekologi, para peneliti mengembangkan sebuah kerangka kerja untuk memproyeksikan pendapatan wisata selam dari waktu ke waktu di bawah berbagai tingkat perlindungan.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa lokasi selam yang dilindungi bisa mengalami peningkatan pendapatan hingga 252 persen selama satu dekade, tapi hanya jika perlindungannya kuat dan efektif.
Baca juga:
Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menjaga kelestariannya, tapi juga menambah pendapatan pariwisata.Kawasan dengan status dilindungi, tapi punya penegakan hukum yang lemah, justru menunjukkan penurunan pendapatan dalam periode yang sama karena populasi ikan terus memburuk.
Kerangka kerja ini dirancang agar dapat disesuaikan dengan kondisi di setiap lokasi secara individu.
Para pengelola dapat memasukkan data, seperti pengukuran biomassa ikan lokal, harga dasar paket selam, dan biaya operasional penegakan aturan untuk menghasilkan proyeksi khusus lokasi mengenai estimasi pengembalian investasi (return-on-investment) serta jangka waktu balik modal.
Peneliti juga menyarankan bahwa kerangka kerja ini dapat membantu dalam menyusun instrumen keuangan konservasi, seperti obligasi, yang mana pembayarannya dikaitkan dengan pencapaian tolok ukur ekologis yang telah terverifikasi.
Meskipun penelitian ini berfokus pada wisata selam, dengan menghubungkan variabel kesehatan lingkungan yang dapat diukur dengan kegiatan ekonomi yang tidak merusak alam tersebut, itu dapat diterapkan di bidang lain di mana pun mata pencaharian masyarakat bergantung pada kesehatan ekosistem.
Studi ini dipimpin oleh Fabio Favoretto dosen di Universitas Plymouth, dan ditulis bersama oleh Matthew J. Forrest dan Octavio Aburto-Oropeza dari Scripps Institution of Oceanography.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya