JAKARTA, KOMPAS.com - Pola produksi pangan yang dikonsumsi manusia sehari-hari merupakan kontributor utama alih fungsi kawasan hutan jadi lahan pertanian atau deforestasi di Indonesia.
Pola produksi pangan itu disebut menyumbang emisi gas rumah kaca di Indonesia lebih tinggi daripada sektor energi dan manufaktur.
Baca juga:
Dari polemik sistem pangan yang "destruktif", Social Business Indonesia (SOBI) ingin mengembangkan rantai pasok dan pertanian berkelanjutan melalui kemitraan dengan petani.
"Kemitraan ini kami terjemahkan dalam suatu infrastruktur fisik yang kami sebut sebagai Agroforestry Hub, di mana Hub ini menyediakan dukungan kepada petani dalam bentuk suplai bibit, akses kepada financing, habis itu good agriculture practices, market connectivity (konektivitas pasar), dan sistem traceability (ketertelusuran) yang memang dibutuhkan oleh pasar internasional yang sesuai dengan EUDR (European Union Deforestation Regulation) ya," ujar Director Social Business Indonesia, Matt Saragih, dalam media briefing DBS Foundation Grant 2025 di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
SOBI memiliki visi mengubah sistem pangan lama yang destruktif, mengingat cara produksi itu berisiko memperparah krisis iklim, yang pada gilirannya memperburuk bencana hidrometeorologi.
Konektivitas pasar menjadi indikator kesadaran petani dalam memahami pentingnya agroforestri jika ingin mengekspor komoditasnya ke Eropa.
"Jadi, memang kunci ketika kami ingin men-engage agar mereka mau memilih agroforestri atau mau verifikasi, mau beralih ke tata kelola yang jauh lebih baik adalah bahwa kamj harus menyiapkan market connectivity-nya yang bisa mengabsorpsi multi-komoditas yang akan mereka produksi atau yang mereka sudah produksi," tutur Matt.
Baca juga:
Pendiri Parongpong Recycle and Waste Lab, Rendy Aditya Wachid (kanan) memperlihatkan produknya ke Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, dalam media briefing DBS Foundation Grant 2025 di Jakarta pada Selasa (10/3/2026).SOBI termasuk social enterprise dan bisnis berdampak sosial (BFI) yang menerima DBS Foundation Grant Program 2025. Selain SOBI, ada pula Parongpong RAW Lab.
Parongpong RAW Lab meningkatkan pendapatan nelayan dengan mengolah limbah jaring ikan (ghost net) menjadi bahan bangunan bernilai tinggi dan ramah lingkungan (Prototile).
Pendiri Parongpong Recycle and Waste Lab, Rendy Aditya Wachid mengatakan, perusahaannya berfokus mengelola sampah residu yang tidak laku didaur ulang dan tidak bisa menjadi bahan kompos.
Nasib sampah jenis residu seolah berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) seumur hidup.
Bahkan, penimbunan sampah jenis residu akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial lainnya.
Teknologi berbasis thermal yang dikembangkan Parongpong sejak 2019, yang tanpa pembakaran, dapat menyelematkan lingkungan sekaligus menjadi sumber penghidupan.
"Kami bikin produk (Prototile) yang bukan hanya kualitasnya sama secara kekuatan, dia lebih enteng dan 50 persen itu mengurangi karbon. Nah, silakan kalau mau pegang, enggak apa-apa. Yang lebih ringan. Jadi itu dibuat dari sampah masker yang kita kumpulkan waktu COVID," tutur Rendy.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya