Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB

Kompas.com, 12 Maret 2026, 08:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagian besar negara terpantau semakin jauh dari target global PBB tahun 2030 untuk pengurangan risiko pestisida, menurut penelitian terbaru.

Hal tersebut membuat target pengurangan risiko pestisida PBB kemungkinan besar tidak akan tercapai tanpa adanya perubahan besar-besaran pada sistem pertanian di seluruh dunia.

Baca juga:

Sejumlah negara di dunia telah berkomitmen untuk memangkas hingga separuh ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang berasal dari pestisida dan bahan kimia sangat berbahaya lainnya pada tahun 2030, dilansir dari Eco Business, Rabu (11/3/2026).

Komitmen ini disepakati dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-15 (COP15) pada tahun 2022.

Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian besar negara justru bergerak menjauh untuk memenuhi target terkait risiko ekologis dari pestisida itu.

Target pengurangan risiko global dari PBB tersebut pun kemungkinan besar tidak akan tercapai tanpa adanya perubahan besar-besaran pada sistem pertanian dunia.

Hanya satu negara, Chili, yang saat ini berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target PBB untuk mengurangi risiko pestisida sebesar 50 persen pada tahun 2030, menurut temuan terbaru oleh tim ilmuwan lingkungan dari universitas Jerman RPTU Kaiserslautern-Landau, yang diterbitkan dalam jurnal Science.

Dunia semakin jauh dari target pestisida PBB

Mengukur risiko pestisida

Sebagian besar negara terpantau semakin jauh dari target global PBB tahun 2030 untuk pengurangan risiko pestisida, menurut penelitian terbaru.SHUTTERSTOCK/ENCIERRO Sebagian besar negara terpantau semakin jauh dari target global PBB tahun 2030 untuk pengurangan risiko pestisida, menurut penelitian terbaru.

Risiko pestisida dalam konteks ini didefinisikan sebagai kemungkinan senyawa kimia termasuk insektisida, herbisida, dan fungisida yang digunakan untuk membasmi hama pertanian, menimbulkan dampak buruk bagi spesies yang bukan merupakan target utama pestisida tersebut.

Dampak ini kemudian merambat ke ekosistem secara lebih luas, dan pada akhirnya berdampak pada manusia.

Untuk menentukan risiko pestisida secara global, para peneliti dalam studi ini mengamati data penggunaan pestisida dari tahun 2013 hingga 2019 di 65 negara yang secara kolektif mewakili hampir 80 persen luas lahan pertanian dunia.

Mereka kemudian menggabungkan statistik tersebut dengan data tingkat racun dari 625 jenis pestisida terhadap delapan kelompok spesies yang berbeda, termasuk invertebrata dan tanaman air, ikan, serangga penyerbuk, organisme tanah, serta artropoda, tanaman, dan vertebrata darat.

Pendekatan analitis baru ini disebut toksisitas total terapan (TAT), dikembangkan oleh para peneliti RPTU dan pertama kali digunakan tahun 2021.

TAT menghasilkan indikator sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan sejauh mana negara-negara di dunia berhasil mengurangi risiko pestisida mereka.

“TAT pada dasarnya merupakan ekspresi dari jumlah pestisida yang digunakan dalam hal toksisitasnya dan bukan massanya, sehingga kita memiliki perkiraan penggunaan yang berbobot toksisitas,” jelas Ralf Schulz, seorang ahli ekotoksikologi dan profesor ilmu lingkungan di RPTU Kaiserslautern-Landau.

Peneliti kemudian menemukan bahwa toksisitas ekologis pestisida secara keseluruhan meningkat di seluruh dunia, dan hanya empat negara produsen pertanian utama yakni Brasil, Cina, India, dan Amerika Serikat yang menyumbang lebih dari setengah dari TAT global.

Mereka juga menemukan bahwa penggunaan pestisida pada buah-buahan, sayuran, jagung, kedelai, serealia, dan padi menyumbang lebih dari tiga perempat total toksisitas pestisida global.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau