Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global

Kompas.com, 11 Maret 2026, 14:51 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lapisan berwarna marun mewarnai Teluk Maine, Amerika Serikat (AS), hasil dari 65.000 liter bahan kimia alkali yang sengaja dipompa oleh para ilmuwan ke laut.

Eksperimen ilmiah untuk menghadapi pemanasan global dan pengasaman laut itu disebut peningkatan alkalinitas laut (Ocean alkalinity enhancement/OAE). Pendekatan OAE bekerja seperti pelapukan alami dalam skala waktu manusia, bukan geologis.

Baca juga:

“Laut sudah sangat basa. (Laut menyimpan) 38.000 miliar ton karbon, yang tersimpan sebagai bikarbonat terlarut, atau soda kue,” kata ahli oseanografi utama dari tim peneliti yang mengumumkan hasil awal dari uji coba mereka di Pertemuan Ilmu Kelautan AGU di Glasgow, Adam Subhas, dilansir dari The Guardian, Rabu (11/3/2026).

Secara teori, kenaikan alkalinitas alami ini yang dipicu antasida kimia, akan mendorong lautan untuk menyerap lebih banyak karbon.

Di area permukaan yang luas dan dikombinasikan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) yang tajam, OAE dapat mencegah suhu global melebihi dua derajat celsius di atas tingkat pra-industri. 

Hal itu mengurangi keasaman laut secara lokal, yang saat ini lebih tinggi daripada titik mana pun dalam satu juta tahun terakhir dan menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan laut maupun perikanan.

Baca juga:

Hadapi pemanasan global dengan bahan kimia alkali

Bagaimana nasib makhluk hidup di laut?

Ilmuwan melakukan eksperimen OAE untuk menghadapi pemanasan global dan pengasaman laut.Dok. Freepik/Kireyonok_Yuliya Ilmuwan melakukan eksperimen OAE untuk menghadapi pemanasan global dan pengasaman laut.

Para ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic Institution telah mengantongi izin dari Badan Perlindungan Lingkungan AS dalam percobaan di 50 mil (sekitar 80,4 kilometer) lepas pantai Massachusetts, yang biasa digunakan untuk penangkapan ikan kod, haddock, dan lobster.

Kendati berskala kecil dan masih menunggu peninjauan sejawat, studi dari percobaan itu menemukan hasil yang menjanjikan.

Selama lima hari di laut, proyek Loc-Ness memakai teknologi mutakhir, di antaranya, glider otonom, kendaraan bawah air otonom jarak jauh, serta sensor di atas kapal untuk melacak penyebaran 65.000 liter natrium hidroksida, bahan kimia alkali yang diberi label dengan pewarna merah dari lokasi pelepasan.

Mereka mengukur hingga 10 ton karbon yang masuk ke laut dan peningkatan pH lokal di lokasi pemasangan dari 7,95 menjadi 8,3, yang menunjukkan kembalinya alkalinitas laut ke tingkat pra-industri.

Percobaan tersebut menunjukkan tidak ada bahaya signifikan bagi makhluk hidup, seperti plankton dan larva ikan serta lobster. Namun, para peneliti tidak mengukur dampaknya pada ikan dewasa atau mamalia laut.

Dalam praktiknya, OAE sangat mirip dengan pengapuran, yang pertama kali digunakan 2.000 tahun yang lalu oleh petani Yunani untuk menetralkan keasaman ladang mereka.

Baru-baru ini, pada tahun 1980-an, sungai-sungai Skandinavia yang mengalami penurunan populasi ikan akibat hujan asam diberi dosis kapur alkali dalam jumlah besar. 

Saat ini, sudah ada banyak perusahaan rintisan OAE yang terverifikasi untuk menjual kredit karbon melalui registrasi penghapusan karbon internasional, Isometric. Kredit tersebut dibeli oleh perusahaan-perusahaan yang bertujuan untuk mengklaim bisnis mereka sebagai net zero emission (NZE).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Pemerintah
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Pemerintah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
Pemerintah
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
LSM/Figur
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Pemerintah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
LSM/Figur
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Pemerintah
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Pemerintah
'Langkah Membumi', Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Swasta
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
LSM/Figur
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pemerintah
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau