Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya

Kompas.com, 11 Maret 2026, 18:18 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Aktivitas fisik sebenarnya dapat mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, menurut temuan tiga makalah yang diterbitkan di Nature Medicine dan Nature Health.

Peneliti menjelaskan bahwa strategi yang mendukung jalan kaki, bersepeda, dan penggunaan transportasi umum sebagai pengganti kendaraan pribadi dapat mengurangi emisi.

Baca juga: Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim

Tak hanya itu, dilansir dari Phys.org, Rabu (11/3/2026), aktivitas fisik juga mendukung kekebalan tubuh, mengurangi risiko penyakit menular, mengurangi gejala depresi, dan dikaitkan dengan peningkatan hasil pengobatan kanker.

Itulah mengapa para penulis mencatat bahwa tantangan iklim dan kesehatan sangatlah berkaitan erat. Mereka berargumen bahwa agenda aktivitas fisik dan perubahan iklim harus diselaraskan melalui tujuan dan alat ukur yang sama, yang mencerminkan prioritas dari orang-orang yang paling terdampak.

Namun, di sisi lain, mereka juga menunjukkan bahwa beberapa inisiatif aktivitas fisik ternyata bisa ikut menyumbang emisi. Ada juga dampak tak terduga yang mungkin muncul, seperti penggusuran warga saat membangun kota yang ramah bagi pejalan kaki.

Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga

Tim tersebut juga mencatat bahwa untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan inklusif dari bawah ke atas yang melibatkan masyarakat adat serta komunitas rentan lainnya.

Selain itu, diperlukan aksi terkoordinasi dari berbagai sektor, baik dari pemerintah maupun lembaga internasional, demi mendukung pembangunan yang adil dan tahan terhadap perubahan iklim.

Krisis iklim dan pengaruhnya dengan aktivitas fisik

Kesenjangan kebijakan

Aktivitas fisik sebenarnya mendukung adaptasi perubahan iklim. Freepik Aktivitas fisik sebenarnya mendukung adaptasi perubahan iklim.

Sayangnya, peneliti dalam studinya menemukan, meski sebagian besar negara telah mengembangkan dan mengadopsi kebijakan aktivitas fisik, bukti implementasinya masih terbatas.

Kesimpulan itu didapat setelah mereka menilai 661 dokumen kebijakan nasional untuk mempromosikan aktivitas fisik dari 200 negara di seluruh dunia dari tahun 2004 hingga 2025.

Melalui wawancara dengan 46 pemangku kepentingan utama termasuk pejabat pemerintah, akademisi, pemimpin kebijakan, dan perwakilan masyarakat sipil, para peneliti juga menemukan bahwa rendahnya prioritas politik terhadap aktivitas fisik menjadi hambatan utama dalam pelaksanaannya, meskipun perhatian terhadap hal ini mulai meningkat.

Hambatan lain adalah tidak ada lembaga pemerintah yang khusus menangani aktivitas fisik sehingga kepemimpinan dan tanggung jawabnya jadi terpecah-pecah.

Lemahnya kerja sama antar-sektor, yang mana faktor sosial, ekonomi, dan bisnis justru sering kali membuat lingkungan jadi tidak mendukung untuk aktif bergerak.

Baca juga:

Tingkat aktivitas fisik dunia kurang

Sementara itu, peneliti juga menyampaikan, tingkat aktivitas fisik masyarakat dunia tidak membaik selama dua dekade terakhir, meskipun kebijakan sudah banyak dibuat dan diterapkan.i

Hal ini menunjukkan upaya untuk mengajak orang bergerak masih belum cukup. Diperlukan tindakan yang terkoordinasi untuk memastikan aktivitas fisik dapat berkontribusi pada kesehatan masyarakat dan tujuan sosial yang lebih luas, termasuk ketahanan terhadap perubahan iklim.

Di seluruh dunia, lebih dari lima juta kematian setiap tahunnya disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik.

Meski begitu, sekitar satu dari tiga orang dewasa dan delapan dari sepuluh remaja belum memenuhi panduan aktivitas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Panduan ini menyarankan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 menit per minggu bagi orang dewasa dan 60 menit setiap hari bagi anak-anak.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau