KOMPAS.com - Aktivitas fisik sebenarnya dapat mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, menurut temuan tiga makalah yang diterbitkan di Nature Medicine dan Nature Health.
Peneliti menjelaskan bahwa strategi yang mendukung jalan kaki, bersepeda, dan penggunaan transportasi umum sebagai pengganti kendaraan pribadi dapat mengurangi emisi.
Baca juga: Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Tak hanya itu, dilansir dari Phys.org, Rabu (11/3/2026), aktivitas fisik juga mendukung kekebalan tubuh, mengurangi risiko penyakit menular, mengurangi gejala depresi, dan dikaitkan dengan peningkatan hasil pengobatan kanker.
Itulah mengapa para penulis mencatat bahwa tantangan iklim dan kesehatan sangatlah berkaitan erat. Mereka berargumen bahwa agenda aktivitas fisik dan perubahan iklim harus diselaraskan melalui tujuan dan alat ukur yang sama, yang mencerminkan prioritas dari orang-orang yang paling terdampak.
Namun, di sisi lain, mereka juga menunjukkan bahwa beberapa inisiatif aktivitas fisik ternyata bisa ikut menyumbang emisi. Ada juga dampak tak terduga yang mungkin muncul, seperti penggusuran warga saat membangun kota yang ramah bagi pejalan kaki.
Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Tim tersebut juga mencatat bahwa untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan inklusif dari bawah ke atas yang melibatkan masyarakat adat serta komunitas rentan lainnya.
Selain itu, diperlukan aksi terkoordinasi dari berbagai sektor, baik dari pemerintah maupun lembaga internasional, demi mendukung pembangunan yang adil dan tahan terhadap perubahan iklim.
Aktivitas fisik sebenarnya mendukung adaptasi perubahan iklim. Sayangnya, peneliti dalam studinya menemukan, meski sebagian besar negara telah mengembangkan dan mengadopsi kebijakan aktivitas fisik, bukti implementasinya masih terbatas.
Kesimpulan itu didapat setelah mereka menilai 661 dokumen kebijakan nasional untuk mempromosikan aktivitas fisik dari 200 negara di seluruh dunia dari tahun 2004 hingga 2025.
Melalui wawancara dengan 46 pemangku kepentingan utama termasuk pejabat pemerintah, akademisi, pemimpin kebijakan, dan perwakilan masyarakat sipil, para peneliti juga menemukan bahwa rendahnya prioritas politik terhadap aktivitas fisik menjadi hambatan utama dalam pelaksanaannya, meskipun perhatian terhadap hal ini mulai meningkat.
Hambatan lain adalah tidak ada lembaga pemerintah yang khusus menangani aktivitas fisik sehingga kepemimpinan dan tanggung jawabnya jadi terpecah-pecah.
Lemahnya kerja sama antar-sektor, yang mana faktor sosial, ekonomi, dan bisnis justru sering kali membuat lingkungan jadi tidak mendukung untuk aktif bergerak.
Baca juga:
Sementara itu, peneliti juga menyampaikan, tingkat aktivitas fisik masyarakat dunia tidak membaik selama dua dekade terakhir, meskipun kebijakan sudah banyak dibuat dan diterapkan.i
Hal ini menunjukkan upaya untuk mengajak orang bergerak masih belum cukup. Diperlukan tindakan yang terkoordinasi untuk memastikan aktivitas fisik dapat berkontribusi pada kesehatan masyarakat dan tujuan sosial yang lebih luas, termasuk ketahanan terhadap perubahan iklim.
Di seluruh dunia, lebih dari lima juta kematian setiap tahunnya disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik.
Meski begitu, sekitar satu dari tiga orang dewasa dan delapan dari sepuluh remaja belum memenuhi panduan aktivitas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Panduan ini menyarankan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 menit per minggu bagi orang dewasa dan 60 menit setiap hari bagi anak-anak.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya