KOMPAS.com - Seiring bertambahnya populasi global mendekati perkiraan 10 miliar orang pada tahun 2050, permintaan pangan diperkirakan akan meningkat hampir 20 persen.
Masalahnya, memenuhi permintaan tersebut sembari mengurangi kerusakan lingkungan termasuk tantangan terbesar yang dihadapi sistem pangan global, dilansir dari Know ESG, Kamis (12/3/2026).
Baca juga:
Menanggapi hal itu, para ilmuwan dan perusahaan makanan banyak beralih ke teknologi AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk membantu sistem pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Beberapa hal yang dilakukan AI dalam proses pembuatan makanan, antara lain menemukan bahan-bahan baru, meracik resep, menganalisis kandungan gizi, dan menguji keamanan pangan, dilansir dari KnowESG, Kamis (12/3/2026).
Dengan populasi dan permintaan pangan yang meningkat, AI bisa membantu menjaga ketahanan pangan global. Simak caranya.Membuat produk makanan baru biasanya membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal.
Para ahli pangan harus mencoba berbagai campuran protein, lemak, pengikat, dan bahan tambahan untuk mendapatkan rasa, tekstur, dan kandungan gizi yang pas.
Proses ini sering kali dilakukan dengan cara uji coba berulang. Namun, penggunaan AI dalam pengembangan makanan mengubah cara lama tersebut.
Dengan menggunakan model komputer dan pembelajaran mesin (machine learning), sistem AI dapat memprediksi bagaimana bahan-bahan makanan akan bercampur, memperkirakan nilai gizinya, dan mensimulasikan rasa atau teksturnya bahkan sebelum contoh produk aslinya dibuat.
Hal ini mengurangi jumlah percobaan yang diperlukan dan mempercepat proses pembuatan makanan baru.
Pada saat yang sama, sistem AI juga memindai pusat data tanaman yang sangat besar untuk menemukan sumber protein baru yang bisa menggantikan bahan makanan dari hewan.
Kemajuan terbaru dalam model bahasa dan analisis data semakin memperluas peran kecerdasan buatan dalam industri makanan.
Model AI yang dilatih dengan data bahan makanan dan gizi saat ini dapat memperkirakan kandungan nutrisi dari resep baru.
Seiring bertambahnya data tentang rasa, tekstur, dan kimia pangan, model-model ini nantinya akan mampu merancang produk makanan yang benar-benar baru.
Di tingkat konsumen, sistem rekomendasi berbasis AI juga mendukung gizi presisi. Dengan menggabungkan ilmu gizi, data perilaku, dan catatan kesehatan pribadi, platform digital dapat menyarankan pola makan yang disesuaikan khusus dengan kebutuhan kesehatan setiap orang.
Selain inovasi produk, teknologi AI pangan juga membantu mengatasi tantangan gizi global.
Model pembelajaran mesin sedang dikembangkan untuk mendeteksi makanan yang diproses berlebih, menganalisis risiko pola makan, dan mengidentifikasi masyarakat yang sulit mendapatkan akses makanan sehat.
Beberapa sistem bahkan menggunakan data satelit dan indikator sosial-ekonomi untuk memetakan wilayah yang kekurangan pangan serta memandu kebijakan kesehatan publik.
Di lingkungan fasilitas kesehatan, alat-alat AI juga sedang diuji coba untuk mengenali risiko kurang gizi pada lansia, sehingga penanganan pola makan bisa dilakukan lebih awal.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya