KOMPAS.com - Ada beberapa pekerjaan yang diprediksi sulit digantikan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan), menurut laporan bertajuk Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence dari Anthropic, perusahaan pengembang AI.
Dalam laporan itu, perusahaan tersebut mencatat sekitar 30 persen pekerja memiliki tingkat paparan nol (zero coverage) terhadap AI.
Baca juga:
"Karena tugas-tugas mereka sangat jarang atau tidak pernah muncul dalam data penggunaan AI saat ini," kata salah satu penulis, Maxim Massenkoff dikutip dari laporannya, Senin (9/3/2026).
Kelompok pekerjaan yang dimaksud, antara lain juru masak, mekanik sepeda motor, penjaga pantai atau kolam renang, bartender, pencuci piring, petugas ruang ganti, teknisi listrik, serta perawat.
Sebanyak 30 persen pekerjaan diprediksi sulit digantikan oleh AI, tapi ada kesenjangan upah yang harus diperhatikan. Apa saja?Massenkoff dan rekannya, Peter McCrory menggunakan data penggunaan Large Language Model (LLM) dari Anthropic Economic Index, yang menggambarkan bagaimana orang memanfaatkan AI Claude dalam pekerjaan profesional.
Hasilnya menunjukkan bahwa AI masih jauh dari mencapai potensi teoretisnya. Saat ini, Claude hanya mampu mencakup 33 persen dari keseluruhan tugas dalam kategori pekerjaan komputer dan matematika.
"Masih ada area besar yang belum tercakup, banyak tugas yang tentu saja masih berada di luar jangkauan AI mulai dari pekerjaan pertanian fisik seperti memangkas pohon dan mengoperasikan mesin pertanian, hingga tugas hukum seperti mewakili klien di pengadilan," tutur Massenkoff.
Di sisi lain, penelitian memetakan pekerjaan yang paling membutuhkan AI, antara lain pemrogram komputer, petugas layanan pelanggan, penginput data, pencatat data kesehatan, spesialis pemasaran, analis keuangan dan investasi, analis dan penguji jaminan kualitas perangkat lunak, analis keamanan informasi, dan spesialis dukungan pengguna komputer.
Baca juga:
Sebanyak 30 persen pekerjaan diprediksi sulit digantikan oleh AI, tapi ada kesenjangan upah yang harus diperhatikan. Apa saja?Pekerja dengan paparan AI rendah umumnya adalah mereka yang harus hadir langsung di lokasi.
Secara demografis, kelompok pekerja yang tidak terpapar AI ini cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah.
Laporan tersebut juga mencatat pekerja yang sering menggunakan AI rata-rata memperoleh bayaran sekitar 32,69 dollar Amerika Serikat (AS) per jam atau sekitar Rp 555.272.
Sementara itu, pekerja yang tidak menggunakan AI rata-rata menerima lebih rendah yakni 22,23 dollar AS per jam atau sekitar R p377.000.
"Kami tidak menemukan peningkatan pengangguran secara sistematis pada pekerja yang sangat terdampak sejak akhir 2022, meskipun kami menemukan indikasi bahwa perekrutan pekerja muda melambat pada pekerjaan yang lebih terekspos AI," jelas Massenkoff.
Para peneliti menekankan, bukti dampak AI terhadap lapangan kerja masih terbatas. Oleh karena itu, mereka mengembangkan pendekatan tertentu untuk terus memantau bagaimana AI memengaruhi pasar tenaga kerja di masa depan.
"Kami berharap temuan masa depan dapat lebih andal dalam mengidentifikasi gangguan ekonomi, dibandingkan analisis yang dilakukan setelah dampaknya terjadi. Ada kemungkinan bahwa dampak AI akan menjadi sangat jelas dan tidak dapat disangkal," tutur para peneliti.
"Namun, kerangka penelitian ini justru paling berguna ketika dampaknya masih belum pasti, karena dapat membantu mengidentifikasi pekerjaan yang paling rentan bahkan sebelum terjadi penggantian tenaga kerja secara nyata," imbuh mereka.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya