Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru

Kompas.com, 9 Maret 2026, 13:01 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Anthropic

KOMPAS.com - Ada beberapa pekerjaan yang diprediksi sulit digantikan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan), menurut laporan bertajuk Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence dari Anthropic, perusahaan pengembang AI. 

Dalam laporan itu, perusahaan tersebut mencatat sekitar 30 persen pekerja memiliki tingkat paparan nol (zero coverage) terhadap AI.

Baca juga:

"Karena tugas-tugas mereka sangat jarang atau tidak pernah muncul dalam data penggunaan AI saat ini," kata salah satu penulis, Maxim Massenkoff dikutip dari laporannya, Senin (9/3/2026).

Kelompok pekerjaan yang dimaksud, antara lain juru masak, mekanik sepeda motor, penjaga pantai atau kolam renang, bartender, pencuci piring, petugas ruang ganti, teknisi listrik, serta perawat.

Pekerjaan yang sulit digantikan AI

Pekerja dengan paparan AI rendah umumnya harus hadir di lokasi

Sebanyak 30 persen pekerjaan diprediksi sulit digantikan oleh AI, tapi ada kesenjangan upah yang harus diperhatikan. Apa saja?Unsplash/National Cancer Institute Sebanyak 30 persen pekerjaan diprediksi sulit digantikan oleh AI, tapi ada kesenjangan upah yang harus diperhatikan. Apa saja?

Massenkoff dan rekannya, Peter McCrory menggunakan data penggunaan Large Language Model (LLM) dari Anthropic Economic Index, yang menggambarkan bagaimana orang memanfaatkan AI Claude dalam pekerjaan profesional.

Hasilnya menunjukkan bahwa AI masih jauh dari mencapai potensi teoretisnya. Saat ini, Claude hanya mampu mencakup 33 persen dari keseluruhan tugas dalam kategori pekerjaan komputer dan matematika.

"Masih ada area besar yang belum tercakup, banyak tugas yang tentu saja masih berada di luar jangkauan AI mulai dari pekerjaan pertanian fisik seperti memangkas pohon dan mengoperasikan mesin pertanian, hingga tugas hukum seperti mewakili klien di pengadilan," tutur Massenkoff.

Di sisi lain, penelitian memetakan pekerjaan yang paling membutuhkan AI, antara lain pemrogram komputer, petugas layanan pelanggan, penginput data, pencatat data kesehatan, spesialis pemasaran, analis keuangan dan investasi, analis dan penguji jaminan kualitas perangkat lunak, analis keamanan informasi, dan spesialis dukungan pengguna komputer.

Baca juga: 

Upah dan pendidikan yang tidak sama

Sebanyak 30 persen pekerjaan diprediksi sulit digantikan oleh AI, tapi ada kesenjangan upah yang harus diperhatikan. Apa saja?Pexels Sebanyak 30 persen pekerjaan diprediksi sulit digantikan oleh AI, tapi ada kesenjangan upah yang harus diperhatikan. Apa saja?

Pekerja dengan paparan AI rendah umumnya adalah mereka yang harus hadir langsung di lokasi.

Secara demografis, kelompok pekerja yang tidak terpapar AI ini cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah.

Laporan tersebut juga mencatat pekerja yang sering menggunakan AI rata-rata memperoleh bayaran sekitar 32,69 dollar Amerika Serikat (AS) per jam atau sekitar Rp 555.272.

Sementara itu, pekerja yang tidak menggunakan AI rata-rata menerima lebih rendah yakni 22,23 dollar AS per jam atau sekitar R p377.000.

"Kami tidak menemukan peningkatan pengangguran secara sistematis pada pekerja yang sangat terdampak sejak akhir 2022, meskipun kami menemukan indikasi bahwa perekrutan pekerja muda melambat pada pekerjaan yang lebih terekspos AI," jelas Massenkoff.

Para peneliti menekankan, bukti dampak AI terhadap lapangan kerja masih terbatas. Oleh karena itu, mereka mengembangkan pendekatan tertentu untuk terus memantau bagaimana AI memengaruhi pasar tenaga kerja di masa depan.

"Kami berharap temuan masa depan dapat lebih andal dalam mengidentifikasi gangguan ekonomi, dibandingkan analisis yang dilakukan setelah dampaknya terjadi. Ada kemungkinan bahwa dampak AI akan menjadi sangat jelas dan tidak dapat disangkal," tutur para peneliti.

"Namun, kerangka penelitian ini justru paling berguna ketika dampaknya masih belum pasti, karena dapat membantu mengidentifikasi pekerjaan yang paling rentan bahkan sebelum terjadi penggantian tenaga kerja secara nyata," imbuh mereka.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Tak Cukup Bayar Retribusi, Pengguna Air Tanah Bakal Wajib Pulihkan Cadangan Air
Tak Cukup Bayar Retribusi, Pengguna Air Tanah Bakal Wajib Pulihkan Cadangan Air
Pemerintah
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau