Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Masih Turun di Indonesia, Diprediksi hingga Sepekan ke Depan

Kompas.com, 13 Maret 2026, 11:07 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hujan ringan hingga sedang diperkirakan masih terjadi selama sepekan ke depan di Indonesia. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi itu disebabkan dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.

"Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprediksi makin bergeser ke timur, sehingga konsentrasi pembentukan awan hujan lebih dominan terjadi di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur," kata BMKG dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).

Baca juga: 

Hujan ringan hingga sedang diprediksi masih ada di Indonesia

Wilayah mana yang harus waspada?

Menurut BMKG, hujan ringan hingga sedang terjadi sepekan ke depan di beberapa wilayah. Simak wilayah mana saja yang harus waspada.Pexels/??????? ????? Menurut BMKG, hujan ringan hingga sedang terjadi sepekan ke depan di beberapa wilayah. Simak wilayah mana saja yang harus waspada.

Selain itu, gelombang kelvin dan gelombang rossby ekuatorial diprediksi aktif dari Laut Sulawesi, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua.

Hal itu dapat meningkatkan aktivitas konvektif serta potensi hujan signifikan di wilayah tersebut.

BMKG menambahkan, daerah tekanan rendah persisten terpantau berada di daratan Australia bagian utara.

Daerah itu memicu peningkatan kecepatan angin di Laut Arafuru hingga Pesisir Utara Australia bagian utara, serta membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang di Samudra Hindia Selatan Pulau Timor sampai Laut Arafuru.

Hujan turut dipicu kelembapan udara yang masih cukup tinggi. Berdasarkan prediksi BMKG, periode Jumat (13/3/2026) sampai Minggu (15/3/2026), cuaca di Indonesia umumnya didominasi kondisi hujan ringan hingga hujan sedang.

Wilayah yang perlu waspada peningkatan hujan intensitas sedang hingga lebat antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jakarta, dan Jawa Barat.

Kemudian, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, serta Papua Selatan. 

"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," ucap BMKG.

Sementara itu, cuaca dari Senin (16/3/2026) sampai Kamis (19/3/2026) diprediksi didominasi hujan ringan hingga hujan sedang.

Perlu diwaspadai hujan intensitas sedang hingga lebat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, serta Papua Selatan.

Baca juga: 

Hujan hingga Lebaran

Menurut BMKG, hujan ringan hingga sedang terjadi sepekan ke depan di beberapa wilayah. Simak wilayah mana saja yang harus waspada.Pandawa Borniat/kompas.com Menurut BMKG, hujan ringan hingga sedang terjadi sepekan ke depan di beberapa wilayah. Simak wilayah mana saja yang harus waspada.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyatakan, selama momen libur Lebaran Idul Fitri 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam masa peralihan musim hujan.

Kondisi tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di sejumlah wilayah.

“Berdasarkan analisis BMKG, potensi peningkatan intensitas curah hujan utamanya terjadi pada minggu pertama hingga minggu kedua Maret 2026. Selanjutnya intensitas tersebut diperkirakan akan menurun," ucap Faisal, Kamis (12/3/2026).

Memasuki April 2026, curah hujan diperkirakan masih berada pada kategori menengah hingga tinggi dengan potensi sangat tinggi terutama di Papua Tengah.

Oleh sebab itu, Faisal mengungkapkan, BMKG menyiapkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional dan berbasis kebutuhan untuk menekan intensitas curah hujan di wilayah yang berpotensi terdampak.

Langkah ini bertujuan untuk memitigasi potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang dapat mengganggu aktivitas transportasi khususnya penyeberangan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau