KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem masih terjadi selama 17-23 Februari 2026.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menyampaikan menurut prediksi BMKG, cuaca di Indonesia sepekan ke depan umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan sedang.
Namun, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang sampai lebat di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Baca juga: Banjir Bandang Berulang Jadi Tanda Rusaknya Ekosistem Hutan
Kemudian, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, serta Papua Selatan.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," kata Andri dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).
Adapun selama periode 12-16 Februari 2026, BMKG mengamati cuaca ekstrem dengan hujan sangat lebat di sebagian wilayah Indonesia.
Pada periode ini, puncak curah hujan harian berada pada kategori sangat lebat, masing-masing tercatat di wilayah Lampung (143 mm/hari), Sulawesi Selatan (140,5 mm/hari), Bangka Belitung (134,4 mm/hari), Kalimantan Barat (113,7 mm/hari), DI Yogyakarta (110 mm/hari).
Aktivitas fenomena atmosfer pada skala global, regional, dan lokal diperkirakan masih berpengaruh signifikan terhadap cuaca di Indonesia. Andri menjelaskan bahwa La Nina lemah meningkatkan potensi awan hujan di Indonesia bagian timur.
Baca juga: Hujan Ekstrem Makin Meningkat, Jawa Barat Berpotensi Paling Rentan Bencana
Selain itu, fenomena madden julian oscillation (MJO) turut memengaruhi kondisi atmosfer sepekan ke depan.
"Aktivitas MJO diprakirakan masih berada pada fase indian ocean dalam beberapa hari ke depan, sehingga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di hampir seluruh wilayah," ungkap dia.
Andri menambahkan, kombinasi MJO, gelombang kelvin, gelombang rossby ekuator dan low frequency terpantau aktif di Samudra Hindia barat Sumatera hingga barat daya Jawa. Lalu, Perairan barat Sumatera, Sumatra bagian utara hingga tengah, Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Samudra Pasifik utara Papua hingga timur laut Papua Nugini.
Di sisi lain, monsun Asia diprediksi masih aktif dan memberikan suplai massa udara serta perpindahan uap air menuju wilayah Indonesia yang cukup signifikan.
"Dengan kelembapan udara yang juga masih tinggi, kondisi di atas berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia," ucap Andri.
BMKG lantas mengimbau masyarakat maupun para pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir.
"Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta berbagai kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata," beber Andri.
BMKG lantas mengingatkan masyarakat memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui kanal informasi BMKG, antara lain laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg. Lainnya, melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem.
Andri menyebut, kini BMKG juga menyediakan layanan informasi cuaca khusus jalur perjalanan melalui Digital Weather for Traffic (DWT) yang telah terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia.
Layanan ini memungkinkan masyarakat memperoleh informasi cuaca sepanjang rute perjalanan, mulai dari lokasi keberangkatan hingga tujuan akhir sesuai kebutuhan pengguna, dan dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG maupun laman signature.bmkg.go.id/dwt.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya