Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan

Kompas.com, 3 Maret 2026, 11:50 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak Sabtu (28/2026), yang juga dibalas rudal oleh Iran, kembali memicu lonjakan harga minyak dan gas. 

Situasi ini menunjukkan ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang membuat banyak negara rentan. 

Baca juga:

"Selain biaya manusia yang sangat besar, gejolak terbaru ini sekali lagi menunjukkan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat ekonomi, bisnis, pasar, dan masyarakat berada di bawah belas kasihan setiap konflik baru atau perubahan kebijakan perdagangan,” kata Kepala Badan Iklim PBB, Simon Stiell, dilansir dari Antara, Selasa (3/3/2026).

Konflik AS-Israel vs Iran tekankan pentingnya energi terbarukan

Energi terbarukan bisa jadi jawaban, tapi..

Serangan AS-Israel ke Iran picu lonjakan harga minyak dan gas. PBB menilai energi terbarukan jadi solusi ketahanan energi global.Dok. SHUTTERSTOCK Serangan AS-Israel ke Iran picu lonjakan harga minyak dan gas. PBB menilai energi terbarukan jadi solusi ketahanan energi global.

Harga gas di Eropa, yang sebelumnya mengalami peningkatan tajam, melonjak drastis pada Senin (2/3/2026) pagi. Hal itu terjadi setelah perusahaan energi Qatar mengumumkan penghentian gas alam cair (LNG) akibat serangan drone Iran terhadap fasilitasnya. 

Tidak hanya itu, harga minyak dunia juga naik sekitar delapan persen karena perang membuat Selat Hormuz terganggu. Jalur ini sangat penting karena hampir seperempat pasokan minyak dunia lewat di perairannya.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran global. Sebab, banyak negara masih bergantung pada impor minyak dan gas.

Saat konflik meletus, pasokan terhambat dan harga melonjak dalam waktu singkat. Masyarakat dan dunia usaha pun harus membayar lebih mahal untuk energi.

Baca juga:

Menurut Stiell, ada sejumlah solusi untuk mengatasi kekacauan biaya akibat fosil. Salah satunya dengan energi baru terbarukan (EBT).

"Namun, ada solusi yang jelas untuk kekacauan biaya bahan bakar fosil ini, energi terbarukan saat ini lebih murah, lebih aman, dan lebih cepat dipasarkan, menjadikannya jalur yang jelas menuju keamanan dan kedaulatan energi," ucap Stiell.

Kendati demikian, ia mengingatkann bahwa transisi energi global masih berjalan terlalu lambat.

Banyak negara berkembang belum mendapat dukungan yang cukup. Padahal negara-negara ini sangat membutuhkan sistem energi yang lebih mandiri.

Tanpa dukungan finansial dan teknologi, mereka akan terus bergantung pada impor fosil.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau