Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Kaya Bisa Tumbuh Tanpa Polusi, Kuncinya pada Kebijakan Iklim

Kompas.com, 21 Maret 2026, 08:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG


KOMPAS.com - Ilmuwan selama ini berdebat apakah ekonomi suatu negara dapat terus tumbuh tanpa meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh peneliti dari Pennsylvania State University menemukan bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi, namun hanya di bawah kondisi yang ketat dan sebagian besar berlaku bagi negara-negara terkaya di dunia.

Kesimpulan ini didapat setelah analisis data selama lebih dari tiga dekade negara-negara yang menggunakan basis data Climate Actions and Policies Measurement Framework (CAPMF) milik Organisation for Economic Co-operation and Development ( OECD ).

Peneliti tidak menyertakan Amerika Serikat dalam pengujiannya untuk melihat kebijakan iklim memengaruhi hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi gas rumah kaca.

Baca juga: Studi: Kebijakan Iklim yang Tepat Sasaran Efektif Kurangi Karbon

Negara Kaya Bisa Pangkas Emisi

Melansir Phys, Selasa (17/3/2026) peneliti menemukan bahwa negara-negara berpenghasilan tinggi ternyata mampu mengurangi atau menetralkan emisi meskipun ekonomi mereka sedang tumbuh.

Kuncinya adalah penerapan kebijakan iklim yang ketat, seperti pajak karbon, subsidi untuk teknologi ramah lingkungan, serta larangan dan standar teknologi tertentu.

Ryan Thombs, salah satu penulis studi mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan iklim yang ketat itu penting dan dapat bermanfaat bagi upaya keberlanjutan.

Para peneliti menemukan bahwa secara umum, kebijakan iklim yang tegas mampu memutus hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi.

Kebijakan yang lebih ketat tersebut terbukti berhasil membuat 32 negara yang dianalisis tetap bisa memajukan ekonominya tanpa harus menambah polusi secara drastis atau bahkan berhasil menurunkannya.

"Pemerintah harus menerapkan kebijakan yang lebih ketat daripada yang berlaku saat ini. Studi kamu menemukan kebijakan yang paling ketat saat ini belum cukup ketat," kata Thombs.

Sejumlah besar penelitian yang terus berkembang sebelumnya menemukan hubungan antara emisi gas rumah kaca suatu negara dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut peneliti, seiring pertumbuhan ekonomi, emisi juga meningkat.

Baca juga: Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?

“Beberapa pihak berpendapat bahwa pertumbuhan tidak dapat dipisahkan dari emisi karena membutuhkan sumber daya alam yang terus meningkat, sementara pihak lain berpendapat bahwa hal itu dapat dipisahkan melalui kemajuan teknologi,” kata Thombs.

Jika kita ingin beralih ke ekonomi yang lebih berkelanjutan, maka kita membutuhkan kebijakan yang lebih ketat untuk mengantarkan transisi ini.

Namun, Thombs menambahkan, hanya sedikit penelitian yang meneliti pengaruh kebijakan iklim ini terhadap hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi.

Lebih lanjut, Thombs juga menyebut bahwa ke depan perlu penelitian lebih lanjut mengenai perbedaan dampak yang terlihat antara negara kaya dan negara berpenghasilan rendah.

Selain itu, perlu diteliti juga apakah hasil ini didorong oleh kebijakan tertentu saja atau merupakan gabungan dari berbagai macam kebijakan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia
Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia
Pemerintah
BMKG Prediksi Jakarta Masuk Musim Kemarau Akhir Mei 2026
BMKG Prediksi Jakarta Masuk Musim Kemarau Akhir Mei 2026
Pemerintah
Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan
Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan
Swasta
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Swasta
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Pemerintah
Krisis Iklim Perluas Penyebaran Arenavirus, Ancam Jutaan Orang
Krisis Iklim Perluas Penyebaran Arenavirus, Ancam Jutaan Orang
LSM/Figur
PGN Mulai Implementasikan Program Pengelolaan Sampah Plastik yang Terintegrasi
PGN Mulai Implementasikan Program Pengelolaan Sampah Plastik yang Terintegrasi
BUMN
Menakar Risiko Pajak EV, Minim Pembeli hingga Ditinggal Investor
Menakar Risiko Pajak EV, Minim Pembeli hingga Ditinggal Investor
LSM/Figur
Air Limbah Jadi Aset Strategis di Arab Saudi
Air Limbah Jadi Aset Strategis di Arab Saudi
LSM/Figur
IWIP dan WBN Bangun Jaringan Air Bersih di Halmahera Tengah
IWIP dan WBN Bangun Jaringan Air Bersih di Halmahera Tengah
Swasta
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Pemerintah
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Swasta
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Swasta
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
Pemerintah
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau