KOMPAS.com - Ilmuwan selama ini berdebat apakah ekonomi suatu negara dapat terus tumbuh tanpa meningkatkan emisi gas rumah kaca.
Sebuah studi baru yang dilakukan oleh peneliti dari Pennsylvania State University menemukan bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi, namun hanya di bawah kondisi yang ketat dan sebagian besar berlaku bagi negara-negara terkaya di dunia.
Kesimpulan ini didapat setelah analisis data selama lebih dari tiga dekade negara-negara yang menggunakan basis data Climate Actions and Policies Measurement Framework (CAPMF) milik Organisation for Economic Co-operation and Development ( OECD ).
Peneliti tidak menyertakan Amerika Serikat dalam pengujiannya untuk melihat kebijakan iklim memengaruhi hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi gas rumah kaca.
Baca juga: Studi: Kebijakan Iklim yang Tepat Sasaran Efektif Kurangi Karbon
Melansir Phys, Selasa (17/3/2026) peneliti menemukan bahwa negara-negara berpenghasilan tinggi ternyata mampu mengurangi atau menetralkan emisi meskipun ekonomi mereka sedang tumbuh.
Kuncinya adalah penerapan kebijakan iklim yang ketat, seperti pajak karbon, subsidi untuk teknologi ramah lingkungan, serta larangan dan standar teknologi tertentu.
Ryan Thombs, salah satu penulis studi mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan iklim yang ketat itu penting dan dapat bermanfaat bagi upaya keberlanjutan.
Para peneliti menemukan bahwa secara umum, kebijakan iklim yang tegas mampu memutus hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi.
Kebijakan yang lebih ketat tersebut terbukti berhasil membuat 32 negara yang dianalisis tetap bisa memajukan ekonominya tanpa harus menambah polusi secara drastis atau bahkan berhasil menurunkannya.
"Pemerintah harus menerapkan kebijakan yang lebih ketat daripada yang berlaku saat ini. Studi kamu menemukan kebijakan yang paling ketat saat ini belum cukup ketat," kata Thombs.
Sejumlah besar penelitian yang terus berkembang sebelumnya menemukan hubungan antara emisi gas rumah kaca suatu negara dan pertumbuhan ekonomi.
Menurut peneliti, seiring pertumbuhan ekonomi, emisi juga meningkat.
Baca juga: Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
“Beberapa pihak berpendapat bahwa pertumbuhan tidak dapat dipisahkan dari emisi karena membutuhkan sumber daya alam yang terus meningkat, sementara pihak lain berpendapat bahwa hal itu dapat dipisahkan melalui kemajuan teknologi,” kata Thombs.
Jika kita ingin beralih ke ekonomi yang lebih berkelanjutan, maka kita membutuhkan kebijakan yang lebih ketat untuk mengantarkan transisi ini.
Namun, Thombs menambahkan, hanya sedikit penelitian yang meneliti pengaruh kebijakan iklim ini terhadap hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi.
Lebih lanjut, Thombs juga menyebut bahwa ke depan perlu penelitian lebih lanjut mengenai perbedaan dampak yang terlihat antara negara kaya dan negara berpenghasilan rendah.
Selain itu, perlu diteliti juga apakah hasil ini didorong oleh kebijakan tertentu saja atau merupakan gabungan dari berbagai macam kebijakan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya