Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Nasib Dugong dan Penyu Makin Suram

Kompas.com, 20 Maret 2026, 17:34 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Konflik antara Amerika Serikat-Israel versus Iran mengancam kehidupan satwa di Teluk Persia. Dari dugong hingga penyu, satwa itu menghadapi risiko yang makin besar setiap hari.

Teluk Persia merupakan rumah bagi ribuan spesies laut, tapi wilayah ini tergolong rapuh, dilansir dari AFP, Rabu (18/3/2026).

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari 2026, ekosistem di wilayah tersebut sudah tertekan oleh perubahan iklim dan lalu lintas kapal. Saat ini situasinya jauh lebih buruk.

Baca juga:

Nasib dugong dan penyu di tengah konflik AS-Israel vs Iran 

Dugong, paus, dan penyu terancam

Konflik AS-Israel vs Iran membawa dampak besar bagi satwa laut di Teluk Persia. Penyu, dugong, dan burung kini terancam.SHUTTERSTOCK/Craig Lambert Photography Konflik AS-Israel vs Iran membawa dampak besar bagi satwa laut di Teluk Persia. Penyu, dugong, dan burung kini terancam.

Menurut laporan dari Conflict and Environment Observatory (CEOBS), lebih dari 300 insiden berisiko lingkungan terjadi sejak konflik dimulai. Insiden ini termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak.

Adapun Teluk Persia memiliki karakter unik. Perairannya dangkal, dengan kedalaman rata-rata sekitar 50 meter.

Airnya tidak cepat berganti sehingga butuh waktu dua hingga lima tahun untuk siklus pembaruan air. Hal tersebut juga berarti dampak pencemaran bisa bertahan lama. 

Di perairan ini hidup sekitar 5.000 hingga 7.500 dugong. Mamalia laut ini dikenal sebagai "sapi laut" dan masuk kategori rentan punah.

Selain itu, ada sekitar 12 spesies mamalia laut lain, termasuk paus bungkuk (humpback whales) dan hiu paus.

Tak hanya itu, lebih dari 2.000 spesies laut tercatat hidup di Teluk Persia. Ada lebih dari 500 jenis ikan dan lima jenis penyu laut. Salah satunya adalah penyu sisik (hawksbill sea turtle) yang berstatus sangat terancam punah.

Ekosistem ini juga memiliki sekitar 100 jenis karang, serta hutan mangrove dan padang lamun yang penting bagi kehidupan laut.

Namun, saat ini, satwa tersebut berada dalam bahaya.

Baca juga:

Bom waktu ekologis

Konflik AS-Israel vs Iran membawa dampak besar bagi satwa laut di Teluk Persia. Penyu, dugong, dan burung kini terancam.wirestock/freepik Konflik AS-Israel vs Iran membawa dampak besar bagi satwa laut di Teluk Persia. Penyu, dugong, dan burung kini terancam.

Greenpeace memperingatkan adanya "bom waktu ekologis". Hal ini berkaitan dengan puluhan kapal tanker yang membawa sekitar 21 miliar liter minyak yang terjebak di Teluk Persia.

Jika terjadi kebocoran atau serangan, dampaknya bisa sangat besar.

Sejak awal Maret 2026, tercatat sembilan insiden yang melibatkan kapal tanker telah dilaporkan ke United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Delapan di antaranya dikonfirmasi oleh International Maritime Organization (IMO).

Dampak konflik tidak hanya terjadi di laut. Serangan terhadap depot bahan bakar di Teheran, Iran, juga menimbulkan pencemaran tanah dan air.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebutnya sebagai “ecocide” atau kejahatan terhadap lingkungan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Robot AI Diperkirakan Bisa Lebihi Jumlah Pekerja Manusia
Robot AI Diperkirakan Bisa Lebihi Jumlah Pekerja Manusia
LSM/Figur
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Nasib Dugong dan Penyu Makin Suram
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Nasib Dugong dan Penyu Makin Suram
LSM/Figur
Budi Daya Maggot, Kualitas Pakan Berdampak pada Emisi CO2 dan Produksi Protein
Budi Daya Maggot, Kualitas Pakan Berdampak pada Emisi CO2 dan Produksi Protein
LSM/Figur
Daya Rusak Spesies Invasif Ternyata Jauh Melampaui Kepunahan Lokal
Daya Rusak Spesies Invasif Ternyata Jauh Melampaui Kepunahan Lokal
LSM/Figur
Garis Putih di Belakang Pesawat Bisa Picu Pemanasan Global, Ini Cara Menguranginya
Garis Putih di Belakang Pesawat Bisa Picu Pemanasan Global, Ini Cara Menguranginya
LSM/Figur
Pekerja Makin Minat Microshifting dan Tinggalkan Jam Kerja 9-to-5
Pekerja Makin Minat Microshifting dan Tinggalkan Jam Kerja 9-to-5
LSM/Figur
Musim Kemarau Bikin Kering Daratan, tapi Jadi Berkah di Lautan
Musim Kemarau Bikin Kering Daratan, tapi Jadi Berkah di Lautan
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Turun Saat Cemas Tak Bisa Beli Makan untuk Bertahan Hidup
Produktivitas Pekerja Turun Saat Cemas Tak Bisa Beli Makan untuk Bertahan Hidup
LSM/Figur
Nanoplastik Berisiko Bikin Sayuran Ini Terkontaminasi Logam Beracun
Nanoplastik Berisiko Bikin Sayuran Ini Terkontaminasi Logam Beracun
LSM/Figur
Masa Depan Roti Ramah Lingkungan Tergantung Rasa dan Harga
Masa Depan Roti Ramah Lingkungan Tergantung Rasa dan Harga
LSM/Figur
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Pemerintah
Fenomena 'Sticky Floor', Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Swasta
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Pemerintah
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau