KOMPAS.com - Negara-negara dengan kebijakan iklim yang lebih ketat dan tepat sasaran berhasil memangkas emisi karbon lebih cepat, menurut sebuah studi besar baru oleh para peneliti di Inggris dan Uni Eropa.
Studi ini disimpulkan setelah peneliti menganalisis lebih dari 3.900 kebijakan yang diterapkan sejak tahun 2000 di 43 negara ekonomi utama yang bertanggung jawab atas lebih dari tiga perempat emisi global.
Sebagaimana yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, studi ini menemukan bahwa negara-negara dengan kebijakan iklim ketat dapat melakukan dekarbonisasi lebih cepat, studi ini juga mencatat beberapa hasil temuan lainnya.
Baca juga: Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Melansir Phys, Selasa (24/2/2026) menurut studi target kebijakan sangat penting. Kebijakan yang ditujukan pada sektor-sektor penyumbang polusi terbesar seperti energi, industri, dan transportasi memberikan dampak yang paling besar.
Target iklim juga memperkuat dampak kebijakan. Negara-negara dengan tujuan iklim jangka panjang yang berlandaskan hukum dan memiliki kementerian khusus untuk membantu menjaga jalur tersebut, mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari setiap kebijakan yang mereka ambil.
Selain itu juga kerja sama internasional sangat membantu di mana keanggotaan dalam badan-badan seperti Badan Energi Internasional (IEA) atau Clean Energy Ministerial meningkatkan efektivitas kebijakan.
Tanpa kebijakan yang ketat, bumi akan jauh lebih kotor hari ini. Sementara dengan kebijakan yang lebih ketat, peneliti menemukan lebih dari 3 miliar CO2 berhasil dikurangi pada tahun 2022.
"Kebijakan iklim bukan sekadar tindakan simbolis, kebijakan tersebut benar-benar berhasil. Negara-negara yang memfokuskan kebijakan pada sektor-sektor dengan emisi tertinggi sedang memetik manfaat terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa rancangan yang cermat dan fokus strategis sangatlah krusial," kata Prof. Charlie Wilson, salah satu penulis studi.
Baca juga: Lebih dari 10.000 Perusahaan Miliki Target Iklim Berbasis Sains
Lebih lanjut, Dr. Theo Arvanitopoulos peneliti lain yang terlibat dalam studi mengungkapkan target iklim jangka panjang dan kementerian khusus bukan hanya formalitas, hal itu meningkatkan dampak nyata dari kebijakan iklim.
"Analisis kuat kami terhadap portofolio kebijakan yang besar menunjukkan bahwa hal itu memperkuat apa yang dapat dicapai pemerintah, terlepas dari meningkatnya perdebatan politik tentang efektivitasnya," katanya.
Studi ini memberikan pelajaran yang jelas bagi para pembuat kebijakan bahwa kuantitas dan fokus kebijakan sama pentingnya. Selain itu juga baik itu organisasi nasional maupun kerja sama internasional membuat kebijakan tersebut lebih efektif.
Studi ini merupakan kolaborasi antara para peneliti di Universitas Cardiff, Universitas Oxford, Universitas East Anglia, London School of Economics (Inggris), Universitas Heidelberg (Jerman), dan IIASA, Institut Internasional untuk Analisis Sistem Terapan (Austria).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya