Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Kebijakan Iklim yang Tepat Sasaran Efektif Kurangi Karbon

Kompas.com, 25 Februari 2026, 17:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Negara-negara dengan kebijakan iklim yang lebih ketat dan tepat sasaran berhasil memangkas emisi karbon lebih cepat, menurut sebuah studi besar baru oleh para peneliti di Inggris dan Uni Eropa.

Studi ini disimpulkan setelah peneliti menganalisis lebih dari 3.900 kebijakan yang diterapkan sejak tahun 2000 di 43 negara ekonomi utama yang bertanggung jawab atas lebih dari tiga perempat emisi global.

Sebagaimana yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, studi ini menemukan bahwa negara-negara dengan kebijakan iklim ketat dapat melakukan dekarbonisasi lebih cepat, studi ini juga mencatat beberapa hasil temuan lainnya.

Baca juga: Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan

Melansir Phys, Selasa (24/2/2026) menurut studi target kebijakan sangat penting. Kebijakan yang ditujukan pada sektor-sektor penyumbang polusi terbesar seperti energi, industri, dan transportasi memberikan dampak yang paling besar.

Target iklim juga memperkuat dampak kebijakan. Negara-negara dengan tujuan iklim jangka panjang yang berlandaskan hukum dan memiliki kementerian khusus untuk membantu menjaga jalur tersebut, mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari setiap kebijakan yang mereka ambil.

Selain itu juga kerja sama internasional sangat membantu di mana keanggotaan dalam badan-badan seperti Badan Energi Internasional (IEA) atau Clean Energy Ministerial meningkatkan efektivitas kebijakan.

Tanpa kebijakan yang ketat, bumi akan jauh lebih kotor hari ini. Sementara dengan kebijakan yang lebih ketat, peneliti menemukan lebih dari 3 miliar CO2 berhasil dikurangi pada tahun 2022.

"Kebijakan iklim bukan sekadar tindakan simbolis, kebijakan tersebut benar-benar berhasil. Negara-negara yang memfokuskan kebijakan pada sektor-sektor dengan emisi tertinggi sedang memetik manfaat terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa rancangan yang cermat dan fokus strategis sangatlah krusial," kata Prof. Charlie Wilson, salah satu penulis studi.

Baca juga: Lebih dari 10.000 Perusahaan Miliki Target Iklim Berbasis Sains

Lebih lanjut, Dr. Theo Arvanitopoulos peneliti lain yang terlibat dalam studi mengungkapkan target iklim jangka panjang dan kementerian khusus bukan hanya formalitas, hal itu meningkatkan dampak nyata dari kebijakan iklim.

"Analisis kuat kami terhadap portofolio kebijakan yang besar menunjukkan bahwa hal itu memperkuat apa yang dapat dicapai pemerintah, terlepas dari meningkatnya perdebatan politik tentang efektivitasnya," katanya.

Studi ini memberikan pelajaran yang jelas bagi para pembuat kebijakan bahwa kuantitas dan fokus kebijakan sama pentingnya. Selain itu juga baik itu organisasi nasional maupun kerja sama internasional membuat kebijakan tersebut lebih efektif.

Studi ini merupakan kolaborasi antara para peneliti di Universitas Cardiff, Universitas Oxford, Universitas East Anglia, London School of Economics (Inggris), Universitas Heidelberg (Jerman), dan IIASA, Institut Internasional untuk Analisis Sistem Terapan (Austria).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau