Vegetasi di tepi jalan berperan penting dalam keanekaragaman hayati, dengan membentuk jalur habitat yang panjang sekaligus terhubung.
Jalur habitat tersebut bisa mendukung serangga, lumut, lumut kerak, dan organisme kecil lainnya. Koridor sempit ini mampu membantu spesies berpindah antar habitat yang terfragmentasi di tengah lanskap yang banyak dibentuk oleh pertanian atau pembangunan perkotaan.
Tepi jalan yang didominasi lumut dapat menyediakan mikrohabitat bagi invertebrata dan mikroorganisme yang bergantung pada lingkungan yang lembap dan teduh.
Peningkatan keragaman struktural di sepanjang tepi jalan bisa memperkuat konektivitas ekologis.
Peningkatan keragaman tersebut juga berkontribusi pada upaya yang lebih luas untuk mendukung keanekaragaman hayati di lanskap yang dikelola. Namun, studi tentang potensi dari sistem tepi jalan yang berlumut masih terbatas.
Kendati memiliki berbagai potensi, lumut tetaplah bukan solusi universal. Pertumbuhan yang lambat menjadi salah satu masalah utama dari lumut.
Lingkungan di pinggir jalan berisiko lebih keras daripada tanggul, yang mana ternyata lumut membutuhkan waktu beberapa tahun untuk membentuk lapisan dengan stabil.
Garam yang digunakan untuk mencairkan es di jalan selama musim dingin juga dapat merusak banyak spesies lumut. Kondisi kering yang berkepanjangan juga bisa membatasi pertumbuhan di lereng yang terbuka.
Selain itu, akumulasi polutan menjadi permasalahan utama lumut lainnya. Lumut dapat menyerap polutan di udara, dengan zat-zat ini tetap tersimpan di dalam material tumbuhan sehingga seiring waktu perlu pemantauan atau pembuangan secara berkala.
Menurut Vousoughi, lumut lebih menyukai lingkungan teduh dan lembap, yang menjadikannya kurang cocok dengan tepi jalan raya.
Dengan kondisi yang cerah atau kering, tepi jalan raya kemungkinan memang lebih cocok diisi vegetasi lain ketimbang lumut.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya