KOMPAS.com - Dewan Penasihat PBB bersama lembaga PBB lainnya yakni UN-Habitat dan UNEP telah memilih 20 kota di dunia yang menjadi pionir kota ramah lingkungan.
Kota yang terpilih melalui program 20 Cities Towards Zero Waste (20 Kota Menuju Tanpa Sampah) ini menyoroti kota-kota yang menunjukkan cara-cara berani dan inovatif dalam mengurangi sampah.
Kota-kota tersebut juga memajukan solusi ekonomi sirkular serta membangun sistem perkotaan yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan ramah bagi semua orang.
Melansir Eco Business, Rabu (8/4/2026) kota-kota yang terpilih itu antara lain Accra (Ghana), Bologna (Italia), Chefchaouen (Maroko), Dar es Salaam (Tanzania), Kota Dehiwala (Sri Lanka), Florianópolis (Brasil), Gaziantep (Turki), George Town (Malaysia), Kota Hangzhou (China).
Selain itu juga Kota Iloilo (Filipina), Kisumu (Kenya), Kuala Lumpur (Malaysia), Lilongwe (Malawi), San Fernando (Filipina), San Francisco (Amerika Serikat), Kota Sanya (China), Kota Suzhou (China), Varkala (India), Kota Yokohama (Jepang) dan Zapopan (Meksiko).
Baca juga: Polusi Udara di 19 Kota Besar Turun Drastis, Ini Sebabnya
Umat manusia menghasilkan lebih dari 2,1 miliar ton sampah rumah tangga setiap tahunnya. Hal ini membuat kota menjadi kunci utama dalam mengatasi krisis sampah yang berdampak buruk pada iklim, alam, kesehatan masyarakat, hingga sumber penghasilan warga.
Itu mengapa melalui inisiatif 20 Cities Towards Zero Waste, kota-kota di dunia diharapkan bisa lebih cepat beralih ke gaya hidup tanpa sampah serta mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Meski masih menghadapi masalah sampah, kota-kota yang terpilih ini sudah mulai menjalankan berbagai solusi, seperti mencegah sisa makanan terbuang, mengolah sampah organik, sistem isi ulang dan pakai kembali, serta model daur ulang yang membantu para pemulung.
Kota-kota yang terpilih juga membuat kebijakan untuk mengurangi produk sekali pakai dan mengajak masyarakat untuk mengubah kebiasaan membuang sampah.
"20 kota ini penting bukan karena mereka punya rencana bagus di atas kertas, tapi karena mereka benar-benar bekerja. Yang membedakan mereka adalah keberanian untuk menjalankan solusi nyata, mulai dari memilah sampah sejak dari rumah, membuat kompos, sistem pakai ulang, merangkul pemulung, hingga mengajak warga terlibat," ungkap José Manuel Moller, Wakil Ketua Dewan Penasihat PBB.
Kota-kota tersebut membuktikan bahwa hidup tanpa sampah bukanlah sekadar mimpi atau sekadar iklan belaka. Hal ini sangat mungkin dilakukan jika kota mau memberi contoh. Di saat kota lain masih sibuk berencana, kota-kota ini membuktikan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang langsung beraksi.
Baca juga: Menteri LH: Pengelolaan Sampah Naik Jadi 26 Persen Dibanding 2024
Anacláudia Rosbach, Direktur Eksekutif UN-Habitat menambahkan bahwa kota-kota berada di garis depan transisi nol limbah.
“Inisiatif ini menggarisbawahi peran penting kota sebagai pelaksana perubahan. Ini menunjukkan bagaimana tindakan lokal, ketika didukung oleh tata kelola dan kemitraan yang kuat, dapat mempercepat perubahan menuju sistem perkotaan yang lebih tangguh, sirkular, dan inklusif,” katanya.
Inisiatif ini pun berkontribusi langsung pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Aksi Iklim).
Seiring bertambahnya jumlah penduduk di perkotaan, keberanian kota-kota ini menunjukkan betapa pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendorong perubahan menuju masa depan yang bebas sampah dan penuh dengan sistem daur ulang.
sumber https://www.eco-business.com/press-releases/un-advisory-board-names-20-city-leaders-in-zero-waste/
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya