TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Mulanya, Iim Suherman (51 tahun) menjual manggis dari pohon liar di lahan warisan orang tuanya. Setiap berhasil meraup keuntungan banyak dari manggis, Iim berinvestasi dengan membeli lahan.
Kini, Iim sudah mempunyai enam titik lahan kebun yang terpencar-pencar di Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, dengan total lebih dari 400 pohon manggis. Iim membeli lahan kebun yang sudah ada banyak pohon manggisnya.
Kebunnya rerata sudah berumur 50 tahun dan masih akan terus menghasilkan buah sampai beberapa dekade ke depan. Iim dan warga lainnya tidak melakukan penanaman pohon manggis secara khusus di kebun mereka, meski di sana saat ini sudah ada pembibitan dan hasilnya sudah dikirim ke berbagai daerah di Jawa dan Sumatera.
Baca juga: Krisis Iklim Ganggu Siklus Produksi Manggis, Hasil Panen Petani Turun
"Tidak terlalu banyak 'hama' di sini. Paling ya seperti ini, jamur alga gitu kalau terlalu banyak hujan pasti itu, tapi, enggak merusak buah. Kelelawar enggak (ada), tupai yang makan buah yang enak, paling manis, tapi enggak terlalu merusak," ujar Iim di Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (8/4/2026).
Sebelum merawat kebun manggis, Iim bekerja sebagai perajut untuk baju yang diekspor ke China. Iim beralih mengurus kebun manggis karena pendapatannya bisa lebih tinggi dan merasa sudah enggak cocok kerja sebagai perajut.
Jika belum musim panen, Iim mengelola kebunnya, serta ikut mendatangkan mengemas manggis dari luar Tasikmalaya dan bekerja pada bagian pengemasan perusahaan eksportir buah tropis Indonesia, Java Fresh.
"Dulu jual sendiri, biasanya saya borongkan, ijonkan satu musim, wah beda banget (pendapatannya dengan sekarang). Kalau diijonkan per tahun kontraknya, satu musim, misalkan ada 10 pohon mau ditebas berapa gitu enggak mau repot saya saat itu. Sekarang sudah bekerja dengan Java Fresh lebih dari enam tahun, mending ini (juga) daripada bikin baju," tutur Iim.
Iim juga menanam pisang, singkong, dan talas untuk mengisi lahan kosong di sekitar pohon manggis. Hampir semua buah manggis dari kebun Iim diserap Java Fresh.
Buah manggis yang akan diekspor Java Fresh ke supermarket di Jerman.Chief Marketing Officer Java Fresh, Swasti Adicita Karim menyebut, sekitar 80 persen buah manggis dari kebun Iim dan warga sekitarnya berkualitas ekspor.
Java Fresh membeli manggis langsung dari petani, yang kebanyakan di daerah pelosok, dan mengirim sekitar 200-250 ton manggis ke 25 negara tujuan ekspor setiap tahunnya, dengan sebagian besar pasarnya di Eropa. Java Fresh menjual satu buah manggis di Eropa dengan harga 3 Euro atau setara Rp 59.790.
"Jadi, saat kami mencoba masuk ke market di Eropa, mereka (konsumen) sudah tahu 'oh manggis tuh buah yang ada di muka bumi ini' kurang lebih itu, tetapi enggak tahu itu dari Indonesia. Selama ini, mereka cuma dapat dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam," tutur Swasti.
Baca juga: Lestari Summit & Awards 2025: Buah-buahan Lokal dan Coffee Cup Gratis untuk Peserta
Dari sisi pembeli Eropa, nilai tambah terpenting adalah bisa memperoleh pasokan buah manggis sepanjang tahun. Konsumen Eropa menginginkan buah manggis berukuran sedang, berbeda dengan Timur Tengah yang menyukai lebih kecil darinya dan China justru harus semakin besar.
"Jadi mereka nggak perlu ganti-ganti supplier karena ibaratnya ibaratnya kalau ke supermarket kita tahu ketika mau beli mangis, kita mau selalu dan selalu ada gitu, terlepas dari ya mereka tutup mata lah mau musimnya kayak gimana gitu ya," ucapnya.
Menurut Swasti, Java Fresh mengoptimalkan keuntungan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, dengan memasok buah manggis berpindah-pindah secara bergantian mengikuti musim panen dari Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, sampai Sumatera.
Eropa juga menetapkan regulasi yang sangat ketat untuk batas residu maksimum (MRL) bagi produk buah ekspor. Oleh karena itu, Java Fresh harus memastikan manggisnya diperoleh dari kebun yang dikelola dengan cara 'natural' atau tanpa menggunakan pestisida kimia.
Untuk meyakinkan pembeli-pembeli Eropa, Java Fresh harus konsisten dalam menjaga kualitas dan kuantitas dari produk, dengan grading system, di mana sebagian kecil buah manggis yang tidak lolos dijual di pasar domestik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya