Editor
MALANG, KOMPAS.com - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina berupaya memenuhi kebutuhan pasokan energi dalam jangka panjang.
Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PT Pertamina Hulu Energi, Edi Karyanto menyatakan di tengah dinamika geopolitik global, disrupsi rantai pasok energi, serta volatilitas harga minyak dan gas dunia, penguatan fondasi energi domestik menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional.
“Kami di PHE berkomitmen menjaga keberlanjutan produksi migas nasional melalui optimalisasi aset eksisting, eksplorasi sumber daya baru, serta penerapan teknologi untuk meningkatkan recovery rate. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memastikan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan,” ujarnya dalam acara "Media Gathering", Kamis (9/4/2026).
Baca juga: Pengamat UGM Sebut Pemerintah Harus Batasi BBM Subsidi Saat Harga Minyak Naik
Sepanjang 2025, PHE mencatatkan produksi sebesar 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD), yang terdiri dari 557.000 barel minyak per hari (MBOPD) dan 2,8 miliar kaki kubik gas per hari (BCFD).
Hingga saat ini, PHE berkontribusi terhadap 65 persen produksi minyak nasional dan 35 persen produksi gas di Indonesia.
Untuk memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan, pada 2026 PHE menjalankan berbagai program, antara lain pengembangan lapangan migas, implementasi Enhanced Oil Recovery (EOR), eksplorasi wilayah prospektif, minyak non konvensional, serta evaluasi peluang merger dan akuisisi guna memperkuat portofolio hulu migas.
Selain itu, PHE juga mempersiapkan transformasi energi melalui upaya pengembangan bisnis rendah karbon sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Ketahanan energi ke depan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap transisi energi. Karena itu, PHE mendorong inisiatif dekarbonisasi operasi serta pengembangan bisnis Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS)/ Carbon Capture Storage (CCS)” tambah Edi.
Baca juga: Kapan Permintaan Minyak Bumi Global Mencapai Puncak?
Edi juga mengungkapkan perseroan terus melakukan standby di berbagai lokasi di luar negeri guna menjaga pasokan migas nasional terjaga akibat ketegangan di Timur Tengah.
Adapun negara-negara yang menjadi wilayah kerja PHE meliputi Aljazair (lapangan migas), Malaysia (blok hulu migas), Irak (Blok West Qurna 1), Prancis (lapangan migas), Italia (lapangan migas), Tanzania (proyek hulu migas), Gabon (aset lapangan migas), Nigeria (aset lapangan migas), Kolombia (aset lapangan migas), Angola (aset lapangan migas), serta Venezuela (aset lapangan migas).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya