KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan perdagangan satwa liar legal dan ilegal berisiko memicu penularan penyakir ke manusia. Tim peneliti dari University of Fribourg di Swiss mengungkapkan, mamalia yang diperdagangkan 1,5 kali lebih mungkin menjadi inang penyakit zoonosis atau menular dari hewan ke manusia.
Dalam jurnal yang dipublikasikan di jurnal Science, peneliti menyebut penularan dapat terjadi di seluruh tahapan perdagangan termasuk penangkapan, pembiakan, transportasi, penimbunan, penjualan, konsumsi, hingga pemeliharaan hewan.
“Sebagai contoh, seseorang yang membeli tiga tupai Finlayson di pasar satwa liar di Laos diperkirakan memiliki peluang 83 persen untuk mendapatkan setidaknya satu hewan yang terinfeksi leptospirosis,” kata tim peneliti dilansir dari ABC News, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Melacak Perdagangan Satwa Liar di Era Pasar Online
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa dari 2.079 spesies mamalia yang diperdagangkan secara global, sekitar 41 persen di antaranya berbagi setidaknya satu patogen dengan manusia. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hanya 6,4 persen pada mamalia yang tidak diperdagangkan.
Sejumlah wabah besar sebelumnya, seperti HIV, epidemi Ebola Afrika Barat 2014, wabah mpox 2003 di Amerika Utara, hingga pandemi Covid-19, disebut memiliki keterkaitan dengan perdagangan satwa liar.
“Namun, dampak jangka panjang dari perdagangan satwa liar dalam membentuk pertukaran patogen antara manusia dan hewan liar masih belum jelas," ucap mereka.
Para penelitu menggunakan tiga dataset berbeda yang mencakup perdagangan satwa liar sejak 1975, kemudian membandingkannya dengan database CLOVER, basis data terbesar terkait hubungan antara mamalia dengan patogen.
Hasilnya, makin lama suatu spesies diperdagangkan maka makin besar pula jumlah patogen yang dapat ditularkan ke manusia.
Baca juga: Pestisida Kian Beracun, Studi Ungkap Ancaman Serius bagi Satwa Liar
“Kami memperkirakan bahwa satu spesies mamalia liar akan berbagi satu patogen tambahan dengan manusia untuk setiap 10 tahun keberadaannya dalam perdagangan,” tulis laporan itu.
Temuan ini mengindikasikan, patogen yang saat ini belum menginfeksi manusia berpotensi menular di masa depan terutama jika spesies tersebut terus diperdagangkan secara luas. Lantaran spesies baru diperkirakan akan terus masuk ke perdagangan satwa liar global, patogen tambahan berpotensi bakal menginfeksi manusia.
“Hal ini akan meningkatkan risiko wabah penyakit zoonosis di masa depan, termasuk kemungkinan epidemi dan pandemi dari patogen baru,” beber peneliti.
Tim peneliti menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan hayati atau bio-surveillance guna mencegah potensi wabah di masa depan. Koordinator nasional dan COO Wildlife Health Australia, Tiggy Grillo menilai studi baru itu sebagai data yang sangat penting dalam memahami risiko perdagangan satwa liar.
“Ini menunjukkan kepada kita interaksi perdagangan satwa liar mana yang paling berisiko. Ini memberikan angka-angka untuk membantu pengambilan keputusan guna memulai mengidentifikasi dan mendukung tindakan tertentu yang dapat mengurangi risiko terkait perdagangan satwa liar," jelas Grillo.
Organisasinya menjalankan sistem pengawasan kesehatan satwa liar dengan mengumpulkan data dari kasus satwa sakit maupun mati di seluruh Australia untuk mengantisipasi potensi ancaman bagi manusia.
Baca juga: Terobosan Investigasi: Pakai AI untuk Bongkar Perdagangan Satwa Liar Global
“Kami mengumpulkan informasi dari investigasi terhadap satwa liar yang sakit dan mati di seluruh Australia dan itu digunakan untuk menentukan bagaimana kami mengelola risiko di Australia," kata dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya