Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah

Kompas.com, 9 April 2026, 19:37 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tengah menyiapkan kilang minyak (refinery) untuk memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur dari minyak jelantah. Presiden Prabowo Subianto menyebutkan, hal itu merupakan langkah Indonesia meninggalkan pengunaan energi fosil yang memicu emisi karbon.

"Kita harus tinggalkan energi dari karbon, dari fosil, kita gunakan hanya untuk yang strategis. Sekarang avtur pun bisa dari kelapa sawit dan kita punya banyak kelapa sawit, avtur nanti dari jelantah, limbah, dari sisanya minyak goreng, kita bisa olah menjadi avtur," kata Prabowo dalam peresmian pabrik kendaraan komersial listrik PT VKTR Sakti Industries yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (9/4/2026).

Pemerintah, lanjut dia, bakal membuka pusat-pusat pengolahan SAF secara bertahap. Kendati demikian, Prabowo belum memerinci seberapa besar produksi SAF pada kilang yang akan dibangun.

Baca juga: SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori

"Kami akan investasi besar-besaran di bidang itu," ucap Prabowo.

Selain itu, pemerintah mendorong efisiensi energi dan percepatan penggunaan energi terbarukan termasuk elektrifikasi di berbagai sektor. Dengan begitu, dapat mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan energi saat ini.

"Kita akan menghadapi tantangan berapa bulan yang akan datang, tapi kita punya resources, kita punya sumber-sumber yang sangat kuat, sangat banyak. Walaupun bagaimana, kita harus hemat energi. walaupun bagaimana, kita harus sekarang menuju energi yang bersih, energi terbarukan," tutur dia.

Baca juga: Program Bioetanol Berisiko Bebani Keuangan Negara dan Ancam Ketahanan Pangan

SAF Produksi Pertamina 

Bahan bakar pesawat ramah lingkungan ini dipasok Pertamina Patra Niaga dan digunakan pertama kali pada penerbangan komersial Pelita Air rute Jakarta–Bali yang lepas landas dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Rabu (20/8/2025) lalu. 

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra menyampaikan bahwa distribusi SAF berjalan sesuai rencana. Menurutnya, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku utama bukan hanya mendukung transisi energi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru.

“Kami memastikan distribusi Pertamina SAF berjalan dengan baik sehingga penerbangan perdana ini dapat terlaksana dengan lancar. Lebih dari itu, bahan baku SAF berasal dari minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat, mulai dari restoran, rumah tangga, hingga usaha kecil," beber Mars.

"Dengan cara ini, pengembangan ekosistem Pertamina SAF tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” lanjut dia. 

Sebagai informasi, pasar SAF global diperkirakan akan berkembang dari estimasi sebesar 1,40 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 23,4 triliun) pada 2024 menjadi 74,20 miliar dollar AS (Rp 1.244,5 triliun) pada 2032.

Baca juga: Pertamina Bakal Ekspansi dan Replikasi Proyek Bahan Bakar Pesawat dari Jelantah

Komitmen tersebut disebabkan oleh target pengurangan emisi yang ketat, serta janji net zero oleh badan pengatur dan maskapai penerbangan. Adopsi SAF juga dinilai sebagai solsui utama untuk mengurangi emisi karbon dari perjalanan udara.

SAF diproduksi dari bahan baku terbarukan dan berbasis limbah seperti minyak goreng bekas dan residu pertanian. Bahan bakar tersebut dapat secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca sepanjang siklus hidupnya, sembari tetap kompatibel dengan mesin pesawat dan infrastruktur pengisian bahan bakar bandara yang ada.

Sektor penerbangan menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengurangi emisi sehingga SAF semakin dipandang sebagai solusi jangka pendek yang paling layak, dikutip dari Know ESG.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau