KOMPAS.com - Panas ekstrem memicu penurunan tingkat aktivitas fisik secara signifikan di seluruh dunia, yang pada gilirannya meningkatkan lonjakan kematian dini dan kerugian produktivitas setiap tahunnya.
Studi terbaru yang diterbitkan The Lancet Global Health menganalisis data dari 156 negara selama periode 2000-2022, dengan membuat model bagaimana kenaikan suhu dapat mengurangi tingkat aktivitas global dalam beberapa dekade mendatang.
Baca juga:
Hasilnya, peningkatan 1,5 poin persentase dalam kurangnya aktivitas fisik di seluruh dunia dikaitkan dengan kenaikan suhu rata-rata di atas 27,8 derajat celsius setiap bulannya. Peningkatan lebih parah atau 1,85 poin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
"Kenaikan suhu diperkirakan akan meningkatkan prevalensi kurangnya aktivitas fisik, yang berakibat pada bertambahnya angka kematian dini dan kerugian produktivitas, terutama di wilayah tropis," tulis para peneliti, dikutip dari The Lancet, Selasa (24/3/2026).
Panas ekstrem memicu penurunan tingkat aktivitas fisik secara signifikan di seluruh dunia, yang pada gilirannya meningkatkan lonjakan kematian dini.Kurangnya aktivitas fisik yang dipicu kenaikan suhu bisa terjadi karena panas meningkatkan aliran darah ke kulit dan keringat, yang memperkuat tekanan kardiovaskular, risiko dehidrasi, serta persepsi kelelahan.
Padahal, kurangnya aktivitas fisik sudah menjadi faktor utama timbulnya penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker tertentu, serta kondisi kesehatan mental.
"(Itu) semuanya dapat mengurangi harapan hidup," ujar penulis utama studi tersebut, Christian García-Witulski, dilansir dari Euronews.
Studi tersebut memperkirakan, kurangnya aktivitas fisik sudah menyumbang sekitar lima persen dari seluruh kematian orang dewasa di seluruh dunia.
Kurangnya aktivitas fisik telah menjadi tantangan kesehatan global yang berat. Sekitar sepertiga populasi dewasa global tidak mematuhi pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Pedoman WHO menetapkan minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas fisik intensitas tinggi setiap minggunya.
Peningkatan tingkat kurangnya aktivitas fisik terkait panas pada 2050 berisiko menyebabkan sekitar 500.000 kematian dini tambahan setiap tahunnya.
Selain itu, peningkatan tingkat kurangnya aktivitas fisik terkait panas pada 2050 juga menimbulkan kerugian produktivitas sekitar 2,4 miliar dollar Amerika Serikat atau AS (sekitar Rp 40 triliun) hingga 3,68 miliar dollar AS (sekitar Rp 62 triliun) setiap tahunnya.
Peningkatan tingkat kurang aktivitas fisik tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah yang sudah mengalami beratnya cuaca panas, di antaranya, Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan Asia Tenggara khatulistiwa, di mana angka pengangguran dapat meningkat lebih dari empat poin persentase per bulan.
Baca juga:
Panas ekstrem memicu penurunan tingkat aktivitas fisik secara signifikan di seluruh dunia, yang pada gilirannya meningkatkan lonjakan kematian dini.Studi tersebut mengusulkan kota-kota dirancang untuk mendorong peningkatan aktivitas fisik warganya.
Salah satunya membangun infrastruktur kota yang mampu meningkatkan kenyamanan, misalnya dengan memperbanyak fitur air dan membangun jaring peneduh yang saling terhubung satu sama lain.
Cara lainnya adalah memakai material bangunan dan jalan yang memantulkan sinar matahari atau permukaan reflektif demi meredam suhu panas, serta mendesain ruang publik yang terlindungi dari krisis iklim.
Di sisi lain, infrastruktur kota yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan warganya untuk menghadapi kenaikan suhu juga dapat menghasilkan manfaat tambahan yang jarang diukur secara kuantitatif oleh model kerusakan standar.
Manfaat tambahan itu adalah mengurangi gangguan tidur akibat panas, menjaga kinerja kognitif, dan melindungi produktivitas kerja.
Baca juga:
Di dalam jurnal berjudul Effects of Climate Change on Physical Inactivity: A Panel Data Study Across 156 Countries from 2000 to 2022, Christian García-Witulski dan ketiga rekannya juga merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi untuk meminimalisasi risiko merosotnya aktivitas fisik akibat kenaikan suhu.
Langkah-langkahnya adalah mengintegrasikan pesan risiko panas ke dalam pedoman olahraga, serta mengarahkan pendanaan iklim ke koridor transportasi aktif yang kaya akan naungan.
Selanjutnya, melakukan subsidi fasilitas olahraga berpendingin untuk populasi berisiko dan menegakkan standar keselamatan kerja yang kuat terkait panas.
"Oleh karena itu, memperlakukan aktivitas fisik sebagai kebutuhan yang peka terhadap iklim, bukan sebagai pilihan gaya hidup yang opsional, akan sangat penting untuk mencegah transisi gaya hidup tidak aktif yang disebabkan oleh panas dan lonjakan penyakit kardiometabolik serta kerugian ekonomi yang menyertainya," demikian keterangan studi itu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya