IESR juga menyarankan sejumlah agenda untuk ketahanan energi di Indonesia dalam jangka panjang.
Pertama, Indonesia perlu memperbesar cadangan strategis dan kapasitas penyimpanan energi nasional agar memiliki bantalan yang memadai saat terjadi guncangan pasokan global.
Kedua, Indonesia harus mengurangi ketergantungan sistemik pada BBM impor melalui penguatan transportasi publik, percepat adopsi kendaraan listrik, dan pengembangan bioenergi berkelanjutan.
Dalam hal ini, Indonesia juga perlu mempertegas standar efisiensi energi. Salah satunya, dengan penerapat fuel economy standard untuk seluruh tipe kendaraan.
Ketiga, Indonesia perlu memercepat pembangunan energi terbarukan, akselerasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap untuk semua segmen pelanggan dan bangunan. Selain itu, memperkuat jaringan listrik supaya lebih fleksibel dan mengembangkan sistem penyimpanan energi agar kebutuhan maupun harga energi domestik semakin sedikit disetir volatilitas pasar minyak dunia.
Keempat adalah penataan kota untuk mendukung sistem mobilitas yang lebih hemat energi melalui integrasi antarmoda dan transit-oriented development. Penataan ruang difokuskan untuk mengurangi kebutuhan perjalanan harian berbasis kendaraan pribadi.
"Jadikan ketahanan energi sebagai agenda keamanan ekonomi nasional sehingga transisi energi dipandang bukan hanya sebagai isu iklim, tetapi juga sebagai strategi perlindungan fiskal, industri, dan daya beli masyarakat," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya