Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tapak Tilas Kejayaan Tanggulangin, Sentra Tas yang Jadi Incaran Pejabat dan Turis

Kompas.com, 26 Maret 2026, 08:09 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

SIDOARJO, KOMPAS.com - Pernah dengar nama Tanggulangin? Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ini terkenal sebagai kawasan khusus untuk industri tas dan koper, utamanya pada era 1990-an. 

"Luar biasa lah makmur Tanggulangin saat itu (era 1990-an). Jarang pegawai negeri, bisa dihitung, enggak minat pegawai negeri. Memang bayaran pegawai negeri berapa," kata salah seorang pedagang, Munaim (65), kepada Kompas.com, Rabu (18/3/2026). 

Baca juga:

Laki-laki yang merantau ke Sidoarjo tahun 1974 itu menuturkan, mulanya ia bekerja sebagai perajin koper di salah satu UMKM (usaha mikro, kecil, menengah) di Tanggulangin, lalu pindah kerja di pabrik di sekitarnya tahun 1982. 

Selanjutnya, warga Desa Kludan ini beralih profesi sebagai penjual tas perempuan tahun 1996, ketika produk itu mulai banyak dicari.

Menurut Munaim, saat itu produk dari Tanggulangin sudah terkenal berkualitas dan harganya terjangkau.

"Banyak tamu (pengunjung) mencari tas wanita, hampir setiap minggu itu banyak orang dari luar pulau, bahkan luar negeri ke sini. (Karyawan dari) perusahaan besar dari Jakarta, (turis dari) Filipina, Thailand, dan orang-orang penting semua ke sini," kenang dia. 

Mengenang kejayaan industri tas dan koper Tanggulangin

Lahirnya istilah Koper Gendeng

Toko Koperasi Intako di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (18/3/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Toko Koperasi Intako di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (18/3/2026).

Dalam sebuah skripsi karya Bagus Prio Utomo, UMKM dari Desa Kedensari di Kecamatan Tanggulangin sudah memproduksi koper yang berkualitas tahun 1957.

Hal tersebut tercantum dalam skripsi bertajuk "Koperasi Industri Tas dan Koper (INTAKO) Tanggulangin Sidoarjo tahun 1976-1990".

Waktu itu, para perajin koper yang juga pelaku UMKM sebenarnya buruh lepas pabrik tas dan koper milik etnis China yang merantau ke kota industri, Surabaya, sejak tahun 1933.

Setelah diberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 Tahun 1959, warga negara asing, terutama China, pergi meninggalkan Indonesia dan memicu lonjakan permintaan koper untuk mengemas barang.

"Keseharian masyarakat Kedensari yang sebagian berprofesi sebagai petani kemudian beralih menjadi aktivitas produksi koper. Di era ini kawasan Kedensari dikenal dengan istilah 'Koper Gendeng'," tulis skripsi karya Bagus Prio Utomo itu.

Kenaikan jumlah UMKM di Desa Kedensari dan wilayah sekitarnya menimbulkan berbagai permasalahan, termasuk persaingan tidak sehat dengan cara membanting harga.

Untuk mengatasinya, pemerintah daerah Sidoarjo memfasilitasi pelatihan manajemen industri dan organisasi, yang pada gilirannya melahirkan koperasi INTAKO pada 7 April 1976.

Baca juga:

Jadi langganan bos-bos perusahaan

Selama periode 1980-an dan 1990-an, banyak tamu pemerintahan, karyawan perusahaan, dan wisatawan mancanegara berkunjung ke Kecamatan Tanggulangin untuk berbelanja.

Bahkan, lahan parkir dan jalanan di Kecamatan Tanggulangin bisa sangat padat setiap hari Sabtu dan Minggu.

Munaim menuturkan, bos-bos perusahaan kerap menraktir karyawannya dengan membebaskan mereka membeli produk apa pun di Kecamatan Tanggulangin.

"Bos-bos pesannya (produk berbahan) kulit. Orang-orang zaman Pak Harto (Presiden kedua Indonesia, Soeharto) menghabiskan uang kantor itu lumrah, rombongan dari mana-mana ke sini semua, 'Wes entekno duit kantor (sudah habiskan duit kantor)'," tutur Munaim.

"Ada juga yang pesan tas harganya Rp 50.000, tetapi minta ditulis Rp 75.000 di notanya. Kalau beli, mereka sering rombongan," tambah dia.

Kebal krisis moneter tahun 1997-1998

Munaim (65) mengenang betapa banyaknya pengunjung di Kecamatan Tanggulangin pada masa kepresidenan Soeharto, termasuk berbagai tamu penting negara. Foto diambil di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Rabu (18/3/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Munaim (65) mengenang betapa banyaknya pengunjung di Kecamatan Tanggulangin pada masa kepresidenan Soeharto, termasuk berbagai tamu penting negara. Foto diambil di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Rabu (18/3/2026).

Suasana pertokoan di Kecamatan Tanggulangin masih sangat ramai dikunjungi selama tahun 1997-1998.

Munaim mengaku usahanya tidak terdampak krisis moneter dan justru mengalami peningkatan penjualan. Hal itu mengingat pada periode 1995-1996, model tas yang diproduksi di Kecamatan Tanggulangan semakin bervariasi.

Ia memperkirakan bisa meraup untung hingga Rp 3 juta dalam sebulan pada tahun 1997.

"Krisis moneter 1997-1998 enggak ada masalah di sini sebenarnya. Krisis tidak seberapa berpengaruh, malah orang itu, bahkan tiap minggu toko-toko sudah siap, nanti ada tamu dari luar negeri, luar pulau. Belum toko yang besar-besar itu, INTAKO itu kalau satu bulan bisa (Rp) 2-3 miliar omset waktu itu, waktu ramai-ramainya," jelas Munaim.

Senada, warga Desa Kedensari, M. Khozin (65) mengatakan, bahwa tas dari Kecamatan Tanggulangin justru semakin laris selama krisis moneter periode 1997-1998.

"Krisis moneter malah enggak sepi, permasalahannya kan krisis moneter itu nilai mata uang rupiah anjlok, Tanggulangin malah senang, bisa bikin tas dengan belanja material (bahan baku) yang murah, kami naikkan, kami jual dengan dollar ya, ramai kok, enggak berpengaruh sama sekali," tutur M. Khozin yang juga mantan sekretaris Koperasi INTAKO periode 2001-2007 ini.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau