Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kementerian UMKM Sebut Produk China Lebih Disukai Dibanding Produk Indonesia, Ini Sebabnya

Kompas.com, 22 Desember 2025, 18:35 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Helvi Yuni Moraza mengakui bahwa produk China lebih disukai pelaku UMKM dibandingkan produk lokal. Hal itu dikarenakan harga produk China relatif lebih murah dengan kualitas yang bagus.

Oleh karena itu, pemerintah saat ini menargetkan penguatan UMKM pada sektor produksi agar mampu meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

Baca juga: 

"Jika tadi pertanyaannya (terkait gempuran produk China), enggak mungkin sekonyong-konyong kita bisa mengalahkan China kalau kita tidak mulai tahapan dan prosesnya," ujar Helvi di sela Holding UMKM Expo 2025 di Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (22/12/2025).

Produk China disebut lebih disukai dibanding produk lokal

Salah satu solusinya adalah pendekatan klasterisasi

Di sisi lain, Helvi menekankan, persoalan tersebut dapat diatasi salah satunya melalui pendekatan klasterisasi. Dengan begitu, UMKM dapat menekan biaya serta menjaga standar kualitas produk.

"Ketika mereka sudah dikasterisasi, mereka akan bisa dapat permintaan (pasar) dan otomatis kualitas yang terjaga. Seterusnya masalah efisiensi dari pembiayaan, kami juga mencari pembiayaan alternatif," jelas dia.

Kementerian UMKM mengakui produk Indonesia kalah dari gempuran produk China karena harganya yang murah dengan kualitas baik. Lantas, apa solusinya?SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Kementerian UMKM mengakui produk Indonesia kalah dari gempuran produk China karena harganya yang murah dengan kualitas baik. Lantas, apa solusinya?

Dia tak memungkiri, UMKM dalam negeri kalah melawan gempuran produk impor China. Helvi menyatakan, instansinya tidak bisa membina 57 juta UMKM yang tersebar di seluruh Indonesia karena terbatasnya sumber daya manusia (SDM).

Klaster dalam Holding UMKM, nantinya bakal membimbing pengusaha mikro lainnya untuk meningkatkan pendapatan, mutu, mendapat pembiayaan, sekaligus membuka pasar ekspor.

"Kalau kita tidak tempuh ini ya jangan salahkan siapa-siapa, kita tidak bisa menyalahkan China. Kalau kita berhasil membina cluster dan Holding UMKM kemudian kerja sama dengan perusahaan besar, bukan tidak mungkin suatu ketika produk kita yang akan terpanjang di sana," tutur Helvi.

Baca juga:

Meski begitu, ia menekankan banyak produk Indonesia yang bernilai di pasar internasional. Poduk buatan tangan, misalnya, yang banyak diminati pengusaha luar negeri.

"Selama ini orang luar yang membangun cluster ke sini, dia berbisnis, dia bayar secara upah. Ini yang kami usahakan untuk bagaimana UMKM yang kami bina, kami kasih pembiayaan, kasih penampingan sehingga dia menikmati nilai tambah itu," jelas Helvi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
LSM/Figur
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
LSM/Figur
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
LSM/Figur
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
Pemerintah
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau