Konsentrasi gas rumah kaca diukur dengan indikator Global Warming Potential (GWP). Dalam pengukuran Global Warming Potential (GWP), metana memiliki nilai sekitar 28–30 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam periode 100 tahun.
Dalam jangka waktu 20 tahun, metana jauh lebih intensif dengan potensi dampak pemanasan mencapai lebih dari 80 kali lebih tinggi daripada CO2.
Guna mengantisipasi dampak tersebut, Pandji mengusulkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah termasuk mengurangi produksi limbah dari sumbernya.
Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan refuse serta replace. Masyarakat juga didorong untuk lebih bijak dalam konsumsi kemasan plastik.
"Refuse dengan mengganti barang-barang yang kelihatannya akan berdampak terhadap lingkungan misalkan plastik sekali pakai, atau pembuatannya tidak menggunakan energi yang terbarukan. Kita bisa mengganti misalkan saya pakai baterai sekali pakai menjadi baterai yang rechargeable, memang harganya lebih mahal tetapi baterainya bisa dipakai berulang-ulang," ucap Pandji.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya