Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Viral Tak Sama dengan Valid, Ahli Soroti Pentingnya Visual dalam Praktik Greenwashing

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:29 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dampak maraknya greenwashing, atau praktik menciptakan kesan ramah lingkungan secara tidak jujur, jadi semakin kompleks. Salah satunya akibat persepsi konsumen yang cenderung ke arah visual dibanding data.

Media sosial mempercepat penyebaran narasi keberlanjutan perusahaan, bahkan sebelum sempat diverifikasi. Dalam kondisi ini, persepsi lebih cepat terbentuk dibandingkan proses verifikasi.

Baca juga:

"Di berbagai penelitian itu sering sekali atau internal saya melakukan penelitian terhadap mahasiswa, seberapa besar kepercayaan mahasiswa terhadap influencer dibandingkan dengan katakanlah ahli di bidangnya. Mereka akan lebih cenderung untuk mempercayai influencer tanpa membandingkan atau melakukan proses verifikasi," ujar dosen Universitas Teknologi Bandung, Erni Nurjanah dalam webinar Greenwashing; Digital Transparency & ESG Data Importance, Selasa (31/3/2026).

Greenwashing di media sosial dan persepsi dari visual

Didorong pertimbangan emosional

Banyak konsumen terjebak greenwashing karena lebih percaya visual aesthetic dan penjelasan selain dari pakar. Bagaimana menyikapinya?Freepik Banyak konsumen terjebak greenwashing karena lebih percaya visual aesthetic dan penjelasan selain dari pakar. Bagaimana menyikapinya?

Keterlibatan emosional dalam membentuk persepsi konsumen sangat tinggi, salah satunya dengan influencer sebagai pihak yang mengamplifikasi narasi keberlanjutan perusahaan.

Strategi greenwashing bisa efektif dengan mendorong konsumen membeli produk melalui keputusan yang lebih didasarkan pada pertimbangan emosional ketimbang logika.

Konsumen dinilai sering memakai jalan pintas dalam berpikir, terutama generasi muda yang terpapar informasi sangat cepat.

Persepsi konsumen lebih banyak dibentuk oleh visual daripada data. Padahal, tidak semua produk yang tampak "hijau" benar-benar diproduksi dengan berkelanjutan. Apalagi mayoritas praktik greenwashing terjadi pada level komunikasi, bukan produksi.

"Ya, semua informasi datang serba cepat, berpilih-pilih berganti-ganti sehingga cara pengambilan keputusan sering dilakukan dengan jalan pintas. Misalnya, dalam kasus greenwashing ada istilah Halo Effect. Ketika tampilan hijau, itu kemudian langsung diasosiasikan dengan kebaikan, ya. Entah itu misalnya gambar daun, warna hijau, atau label tadi, label natural, eco-friendly, atau label organik, tanpa melakukan pembandingan atau tanpa verifikasi," jelas Erni.

Saat ini, produk dengan klaim green sedang bertumbuh di Indonesia, dengan didominasi sektor skincare (perawatan kulit), fesyen, dan makanan.

Namun, transparansi dan regulasi masih dalam tahap perkembangan sehingga kesadaran atas greenwashing menciptakan kesenjangan antara persepsi dan realitas.

Misalnya, banyak produk skincare dengan label natural, meski tidak semuanya benar-benar menggunakan bahan alami atau berkelanjutan dalam proses produksinya.

Baca juga:

Dosen Universitas Teknologi Bandung, Erni Nurjanah saat menjelaskan betapa kompleksnya dampak greenwashing di era digital dalam webinar Greenwashing; Digital Transparency &ESG Data Importance, Selasa (31/4/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Dosen Universitas Teknologi Bandung, Erni Nurjanah saat menjelaskan betapa kompleksnya dampak greenwashing di era digital dalam webinar Greenwashing; Digital Transparency &ESG Data Importance, Selasa (31/4/2026).

Dalam kasus ini, praktik greenwashing merujuk pada penggunaan bahan sintesis jauh lebih banyak dibandingkan yang organik.

Tidak ada penjelasan proses produksi dan sertifikasi konkret yang mendukung klaim green atas produk skincare tersebut sehingga labelnya bukan benar-benar keberlanjutan.

Selain kebohongan dalam pemasaran, greenwashing juga merupakan permasalahan transparansi penerapan environmental, social, dan governance (ESG) perusahaan. 

Dalam praktik greenwashing, perusahaan menyampaikan informasi secara selektif, dengan menonjolkan sisi positif sembari menyembunyikan dampak negatif yang lebih besar.

Tidak memberikan gambaran ESG perusahan secara utuh menjadi modus greenwashing untuk menutupi kesenjangan antara apa yang dikomunikasikan dengan tindakan operasional nyata.

"Perusahaan bisa saja menyampaikan sebagian kebenaran. Hal ini membuat greenwashing menjadi lebih sulit dideteksi oleh konsumen. Inilah yang dimaksud dengan penyampaian informasi selektif sehingga tampil saja yang indah-indah tapi yang buruknya tidak ditampilkan. Konteksnya bisa berupa klaim yang berlebihan atau tidak adanya data yang dapat diverifikasi," ujar Erni.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau