Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur

Kompas.com, 2 April 2026, 19:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Limbah batang kelapa sawit (Oil Palm Trunk/OPT) dapat diolah menjadi bioetanol atau bahan bakar nabati untuk campuran bensin. OPT adalah lignoselulosa padat dalam jumlah besar yang dihasilkan dari peremajaan (replanting) tanaman kelapa sawit tua atau berusia di atas 25 tahun.

‎Hasil fotosintesis pada tanaman kelapa sawit mengubah sinar matahari menjadi energi kimia yang disimpan dalam bentuk pati, dengan salah satu bentuknya nira atau cairan manis.

Nira memiliki kandungan gula tinggi yang bisa diubah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi. Tidak seperti aren dan kelapa yang berasal dari bunga, nira tanaman kelapa sawit disadap pada OPT, yang ditumbangkan karena sudah tidak produktif.

Baca juga: Konflik di Timur Tengah Picu Singapura Tunda Pungutan SAF Penerbangan

Selama ini, limbah OPT hanya dicacah agar terurai dan terdekomposisi ke tanah. Padahal, pemanfaatan nira dari OPT bisa menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

‎"Bisa lebih termanfaatkan gitu kan. Tadinya kan selama ini hanya untuk pemanfaatan secara pertanian ya, dikembalikan ke tanah gitu ya. Tapi ini kan bisa dimanfaatkan secara lebih ekonomi.," ujar Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2026).

Selain untuk campuran bensin, nira dari OPT yang difermentasi menjadi bioetanol, juga dapat diubah ke bioavtur (Sustainable Aviation Fuel/SAF) melalui teknologi Alcohol-to-Jet (ATJ). Namun, kandungan etanol dari OPT terhitung sedikit jika dibandingkan dengan total bobot batang kelapa sawit secara keseluruhan.

Untuk memperoleh nira, OPT akan dipres dan sisa ampasnya akan digunakan kembali oleh pertanian dalam bentuk yang berbeda.

"Dapat nira juga dapat limbah yang lain. Iya ampas dari peresan nira ini bisa untuk yang lain. Bisa untuk pakan ternak, ada ya di Jambi (digunakan untuk) pakan ternak. Ada juga ampasnya bisa balik ke lapangan lagi (perkebunan kelapa sawit) gitu buat pupuk ya, kompos ya," tutur Dimas.

Tata Kelola Sawit

Untuk mengoptimalkan potensi pengelolaan limbah OPT secara keseluruhan, kata dia, diperlukan pengembangan teknologi dan perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit. Ia menganggap, pengelolaan limbah OPT menjadi proyek masa depan untuk industri kelapa sawit di Indonesia.

‎Di sisi lain, produk bioetanol dari OPT akan dihitung nol emisi gas rumah kaca (GRK). Ini karena bioetanol dari OPT diproduksi dengan mengelola limbah kelapa sawit tanpa alih fungsi lahan secara tidak langsung (Indirect Land Use Change / ILUC).

Ilustrasi perkebunan sawit: Memperingti Hari Sawit Nasional 18 November 2025canva.com Ilustrasi perkebunan sawit: Memperingti Hari Sawit Nasional 18 November 2025


‎"Karena karbonnya enggak dilepas di lapangan lagi, tetapi bisa diolah ya. Diolah menjadi pupuk baru balik ke tanahnya dengan format yang berbeda, batang kelapa sawit tidak dicacah di lapangan seperti sekarang," ucapnya.

Hingga saat ini, Indonesia belum mencoba memanfaatkan nira dari OPT yang difermentasi menjadi bioetanol untuk diubah ke bioavtur melalui teknologi ATJ.

‎"Ini (bioetanol dari OPT untuk bioavtur) masih dalam proses usulan kita ke International Civil Aviation Organization (ICAO) juga nih. Oh, tadi pagi meeting tadi di Working Group 5 malam ini online ya kami ikut meeting-nya online. Kalau bioetanol jad bensin (masih) belum. Belum ke jalur itu," ujar Dimas.

Hasil estimasi dari IPOSS, Indonesia dapat memproduksi bioetanol dari OPT sebanyak 1,2 juta kiloliter per tahun. Sedangkan estimasi produksi bioetanol dari OPT untuk seluruh dunia mencapai 2-3 juta kiloliter per tahun.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
BUMN
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
LSM/Figur
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
Pemerintah
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Swasta
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah
AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah
AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah
Pemerintah
Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam  Kedaulatan Negara
Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam Kedaulatan Negara
Pemerintah
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Pemerintah
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Pemerintah
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Pemerintah
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Pemerintah
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
LSM/Figur
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
Pemerintah
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Pemerintah
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau