Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Momentum satu abad pengembangan panas bumi di Indonesia dinilai menjadi titik awal untuk memperluas pemanfaatan energi panas bumi, tidak hanya sebagai sumber pembangkit listrik, tetapi juga untuk mendukung berbagai sektor industri dan ekonomi rendah karbon.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Andi Joko Nugroho, mengatakan pengembangan panas bumi pada abad kedua perlu diarahkan pada inovasi teknologi, diversifikasi pemanfaatan, serta penguatan kolaborasi agar potensi panas bumi Indonesia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
"Seratus tahun perjalanan panas bumi Indonesia membuktikan bahwa energi panas bumi telah menjadi salah satu fondasi penting ketahanan energi nasional. Ke depan, fokusnya adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan Andi dalam keterangan resmi, Senin (13/7/2026).
Baca juga: Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 477,87 Juta Dollar AS
Pemanfaatan panas bumi Indonesia dimulai dari survei manifestasi panas bumi di Kamojang yang kemudian dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926.
Dalam satu abad terakhir, Indonesia berkembang menjadi salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di dunia dengan potensi mencapai sekitar 24 gigawatt (GW), terbesar kedua secara global.
Menurut Andi, potensi tersebut dapat menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional, terutama di tengah upaya mempercepat transisi menuju energi bersih.
Selain menghasilkan listrik yang dapat beroperasi selama 24 jam, panas bumi dinilai memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara lebih luas, seperti mendukung kebutuhan energi industri, sektor pertanian, hingga pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen) sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.
Akademisi panas bumi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nenny Miryani Saptadji, mengatakan keberlanjutan pemanfaatan panas bumi bergantung pada pengelolaan reservoir yang tepat agar sumber daya tersebut tetap produktif dalam jangka panjang.
Menurut dia, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dapat menjadi salah satu contoh pengelolaan panas bumi yang berkelanjutan.
"Panas bumi tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang. Karena itu, saya mengajak para mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan panas bumi sebagai bagian dari masa depan energi Indonesia," kata Nenny.
Dalam forum tersebut, PGE juga memaparkan sejumlah langkah pengembangan panas bumi, antara lain melalui digitalisasi operasi, pengembangan teknologi pengujian sumur, serta diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi di luar pembangkitan listrik.
Baca juga: Isu Sosial Jadi Kendala Investasi Panas Bumi di Indonesia
Perusahaan menargetkan kapasitas pembangkit yang dikelola secara mandiri mencapai 1 gigawatt pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 gigawatt pada 2034 sebagai bagian dari pengembangan energi panas bumi nasional.
Pada kesempatan yang sama, PGE menerima dua penghargaan dari penyelenggara IIGW 2026 atas kontribusinya dalam mendukung pendanaan riset serta komitmen jangka panjang terhadap pengembangan industri panas bumi di Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya