KOMPAS.com - Limbah batang kelapa sawit (Oil Palm Trunk/OPT) dapat diolah menjadi bioetanol atau bahan bakar nabati untuk campuran bensin. OPT adalah lignoselulosa padat dalam jumlah besar yang dihasilkan dari peremajaan (replanting) tanaman kelapa sawit tua atau berusia di atas 25 tahun.
Hasil fotosintesis pada tanaman kelapa sawit mengubah sinar matahari menjadi energi kimia yang disimpan dalam bentuk pati, dengan salah satu bentuknya nira atau cairan manis.
Nira memiliki kandungan gula tinggi yang bisa diubah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi. Tidak seperti aren dan kelapa yang berasal dari bunga, nira tanaman kelapa sawit disadap pada OPT, yang ditumbangkan karena sudah tidak produktif.
Baca juga: Konflik di Timur Tengah Picu Singapura Tunda Pungutan SAF Penerbangan
Selama ini, limbah OPT hanya dicacah agar terurai dan terdekomposisi ke tanah. Padahal, pemanfaatan nira dari OPT bisa menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
"Bisa lebih termanfaatkan gitu kan. Tadinya kan selama ini hanya untuk pemanfaatan secara pertanian ya, dikembalikan ke tanah gitu ya. Tapi ini kan bisa dimanfaatkan secara lebih ekonomi.," ujar Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2026).
Selain untuk campuran bensin, nira dari OPT yang difermentasi menjadi bioetanol, juga dapat diubah ke bioavtur (Sustainable Aviation Fuel/SAF) melalui teknologi Alcohol-to-Jet (ATJ). Namun, kandungan etanol dari OPT terhitung sedikit jika dibandingkan dengan total bobot batang kelapa sawit secara keseluruhan.
Untuk memperoleh nira, OPT akan dipres dan sisa ampasnya akan digunakan kembali oleh pertanian dalam bentuk yang berbeda.
"Dapat nira juga dapat limbah yang lain. Iya ampas dari peresan nira ini bisa untuk yang lain. Bisa untuk pakan ternak, ada ya di Jambi (digunakan untuk) pakan ternak. Ada juga ampasnya bisa balik ke lapangan lagi (perkebunan kelapa sawit) gitu buat pupuk ya, kompos ya," tutur Dimas.
Untuk mengoptimalkan potensi pengelolaan limbah OPT secara keseluruhan, kata dia, diperlukan pengembangan teknologi dan perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit. Ia menganggap, pengelolaan limbah OPT menjadi proyek masa depan untuk industri kelapa sawit di Indonesia.
Di sisi lain, produk bioetanol dari OPT akan dihitung nol emisi gas rumah kaca (GRK). Ini karena bioetanol dari OPT diproduksi dengan mengelola limbah kelapa sawit tanpa alih fungsi lahan secara tidak langsung (Indirect Land Use Change / ILUC).
Ilustrasi perkebunan sawit: Memperingti Hari Sawit Nasional 18 November 2025Hingga saat ini, Indonesia belum mencoba memanfaatkan nira dari OPT yang difermentasi menjadi bioetanol untuk diubah ke bioavtur melalui teknologi ATJ.
"Ini (bioetanol dari OPT untuk bioavtur) masih dalam proses usulan kita ke International Civil Aviation Organization (ICAO) juga nih. Oh, tadi pagi meeting tadi di Working Group 5 malam ini online ya kami ikut meeting-nya online. Kalau bioetanol jad bensin (masih) belum. Belum ke jalur itu," ujar Dimas.
Hasil estimasi dari IPOSS, Indonesia dapat memproduksi bioetanol dari OPT sebanyak 1,2 juta kiloliter per tahun. Sedangkan estimasi produksi bioetanol dari OPT untuk seluruh dunia mencapai 2-3 juta kiloliter per tahun.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya