Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dwi Munthaha
Peneliti, Konsultan

Lulusan Sekolah Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta, anggota Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI). Lebih dari dua dekade bergiat sebagai konsultan, peneliti, dan fasilitator pendidikan kritis masyarakat berbasis andragogi. Kini sedang aktif mendampingi komunitas di berbagai daerah untuk memperkuat sustainable livelihood, terutama pada bidang pertanian dan perikanan berkelanjutan, pencegahan stunting, serta respons terhadap perubahan iklim. Selalu terus berusaha menulis refleksi tentang arah dinamika perjalanan Indonesia dan tantangan sosial-politik masa kini.

Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?

Kompas.com, 3 April 2026, 18:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Dalam kaitannya dengan konservasi berbasis investasi, kehadiran local strongman dan local bossism berpotensi mempercepat proses eksklusi.

Elite lokal dapat berperan sebagai “gatekeeper” yang menentukan siapa yang mendapat akses terhadap proyek investasi, sekaligus sebagai aktor yang mengamankan kepentingan investor melalui kontrol sosial maupun politik.

Alih-alih menjadi jembatan bagi kesejahteraan masyarakat, mereka justru dapat memperkuat relasi patronase dan mempersempit distribusi manfaat ekonomi.

Bagi desa-desa penyangga yang sebagian besar masih tergolong tertinggal, konfigurasi kekuasaan semacam ini berisiko memperdalam ketimpangan.

Akses terhadap manfaat ekonomi akan dikuasai oleh aktor bermodal dan terhubung dengan jejaring kekuasaan lokal, sementara masyarakat tetap berada dalam posisi marginal.

Dalam situasi ini, konservasi tidak hanya menghadapi ancaman degradasi ekologis, tetapi juga menjadi arena reproduksi ketidakadilan sosial yang dilegitimasi oleh logika pasar dan kekuasaan politik.

Etika dan Politik Konservasi

Masalah utama dari investasi bukan sekadar kebijakan, tetapi paradigma. Rezim pascareformasi selalu berusaha membuktikan kekuasaanya efektif untuk mengatasi masalah ekonomi yang semrawut warisan Orde Baru.

Problem utama yang mudah teridentifikasi adalah kemampuan fiskal untuk membangun. Atas dasar itulah terbentuklah mental investasi dengan asumsi bahwa setiap entitas harus menghasilkan nilai ekonomi.

Dalam perspektif ini, alam direduksi maknanya hanya bernilai sejauh dapat dikapitalisasi.

Pandangan ini berseberangan secara mendasar dengan etika lingkungan yang dikembangkan oleh Arne Naess (1973) melalui konsep deep ecology atau ekologi dalam.

Dalam kerangka ini, alam tidak diposisikan sebagai instrumen bagi kepentingan manusia, melainkan sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, nilai yang melekat pada dirinya sendiri, terlepas dari apakah ia berguna secara ekonomi atau tidak.

Naess menekankan bahwa krisis ekologis modern bersumber dari cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan ukuran segala sesuatu.

Karena itu, solusi yang ditawarkan bukan sekadar reformasi kebijakan, tetapi transformasi etis: dari eksploitasi menuju relasi yang setara antara manusia dan alam.

Dalam konteks ini, pendekatan konservasi berbasis investasi justru problematik, karena tetap beroperasi dalam logika reduksionis, mengubah hutan, keanekaragaman hayati, dan jasa ekosistem menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan.

Di sisi lain yang berhubungan dengan perilaku kekuasaan dapat dilihat dalam perspektif ekologi politik, di mana konservasi tidak pernah netral secara politik.

Piers Blaikie dan Harold Brookfield (1987), serta Paul Robbins (2012), menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan selalu terikat pada relasi kuasa, distribusi sumber daya, dan kepentingan ekonomi-politik.

Dengan demikian, pertanyaan kunci bukan hanya bagaimana konservasi dilakukan, tetapi siapa yang memiliki otoritas untuk menentukan aturan, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang menanggung beban atau bahkan disingkirkan.

Dalam banyak kasus, kebijakan konservasi justru melanggengkan ketimpangan dengan membatasi akses masyarakat lokal atas sumber daya yang selama ini menopang kehidupan mereka, sementara aktor negara dan korporasi memperoleh legitimasi untuk mengontrol wilayah tersebut.

Pendekatan ini mengingatkan bahwa tanpa analisis kuasa, konservasi berisiko menjadi proyek teknokratis yang menutupi praktik eksklusi sosial.

Alternatif di luar inisiasi negara sebenarnya telah ada. meski sering tidak diakui. Komunitas masyarakat di adat di beberapa wilayah masih menjalankan praktik tata kelola yang alami.

Demikian juga di beberapa tempat lainnya, masyarakat desa berkolaborasi dengan organisasi nonpemerintah membuat model konservasi partisipatif.

Dalam konteks desa-desa penyangga yang tertinggal, pendekatan ini bukan hanya relevan secara ekologis, tetapi juga strategis secara sosial-ekonomi karena membuka ruang pemberdayaan yang lebih adil.

Pada akhirnya, arah konservasi Indonesia akan ditentukan oleh pilihan paradigma: tunduk pada rasionalitas pasar atau menjaga etika keberlanjutan.

Jika taman nasional diposisikan sebagai objek investasi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian hutan, tetapi juga keadilan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya serta masa depan ekologis bangsa.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau