Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali

Kompas.com, 4 April 2026, 17:10 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Taiwan mempercepat upaya untuk menstabilkan pasokan kantong plastik dan mendorong program penggunaan kembali (reuse).

Langkah ini diambil setelah gangguan pasokan bahan baku kimia akibat konflik AS-Israel Vs Iran memicu aksi panic buying di seluruh penjuru negeri.

Melansir, Eco Business, Kamis (2/4/2026) konflik di Timur Tengah baru-baru ini menghambat pasokan bahan baku kimia, sehingga produk turunannya seperti kemasan plastik menjadi langka.

Situasi ini memicu apa yang disebut media lokal sebagai 'panik kantong plastik', di mana terjadi penimbunan barang dan kelangkaan di berbagai daerah di Taiwan.

Kementerian Ekonomi Taiwan menyatakan terus memantau ketat kondisi pasokan sektor kimia dan telah berkoordinasi dengan produsen besar untuk memastikan produksi plastik stabil di bulan April.

Baca juga: Ada 3 Spesies Mikroba yang Bantu Hancurkan Limbah Plastik

Perusahaan plastik Formosa Petrochemical akan tetap memproduksi bahan baku plastik untuk pabrik-pabrik, sementara perusahaan negara CPC Corp mempercepat pengoperasian kembali mesin pengolahnya demi menggenjot produksi.

CPC menyatakan bahwa kapasitas produksi pabrik tersebut telah dinaikkan dari 60.000 ton menjadi sekitar 79.000 ton. Hal ini diharapkan dapat membantu mengatasi kekurangan bahan baku untuk pembuatan berbagai produk plastik.

Perusahaan tersebut juga mengadakan pertemuan dengan produsen plastik besar, seperti Formosa Plastics dan Asia Polymer, dan berjanji akan memasok bahan baku yang cukup.

Para produsen menyatakan siap meningkatkan produksi, namun mereka mengingatkan bahwa kenaikan harga bahan baku dunia bisa membuat biaya produksi membengkak, yang kemungkinan akan dibebankan kepada pembeli.

Strategi Reuse

Secara terpisah, kementerian lingkungan Taiwan tengah memperluas program penggunaan kembali plastik di seluruh negeri. Tujuannya adalah untuk menekan permintaan kantong plastik baru dan mengurangi beban pada rantai pasokan.

Program ini mengajak masyarakat untuk menyumbangkan kantong kertas dan tas pakai ulang yang tidak terpakai, lalu menyalurkannya ke toko dan pasar tradisional melalui sebuah platform khusus.

Baca juga: Kesadaran Lingkungan Meningkat, Korsel Mulai Tinggalkan Botol Plastik

Perusahaan juga bisa membuat tempat pengumpulan tas dengan biaya murah menggunakan desain standar yang sudah disediakan pemerintah.

Menteri Lingkungan Hidup, Peng Chi-ming, mengatakan bahwa kebijakan ini menandai perubahan arah, dari yang tadinya hanya sekadar membatasi penggunaan plastik, kini menjadi penyediaan alternatif yang praktis untuk mendorong perubahan kebiasaan masyarakat.

Kementerian kemudian melaporkan bahwa uji coba di Pasar Bunga Jianguo, Taipei, menunjukkan jumlah pembeli yang tidak menggunakan plastik naik dari 1,5 persen menjadi 10 persen berkat adanya sistem tas bekas pakai.

Lebih lanjut, kementerian juga mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk memperkuat daur ulang dan menekan biaya operasional perusahaan di tengah situasi dunia yang tidak menentu, sekaligus mengajak perusahaan untuk ikut serta dalam aksi lingkungan (ESG).

Kementerian menambahkan bahwa mereka akan memberikan penghargaan bagi perusahaan yang ikut serta dalam program ini. Langkah ini diambil agar ekonomi Taiwan lebih tangguh dan tidak mudah goyah oleh perubahan harga pasar kimia dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
BUMN
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
LSM/Figur
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
Pemerintah
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Swasta
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah
AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah
AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah
Pemerintah
Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam  Kedaulatan Negara
Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam Kedaulatan Negara
Pemerintah
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Pemerintah
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Pemerintah
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Pemerintah
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Pemerintah
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
LSM/Figur
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
Pemerintah
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Pemerintah
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau