JAKARTA, KOMPAS.com - Pusat kajian SUSTAINABILITAS di bawah Universitas Harkat Negeri (UHN) meluncurkan ulang Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) sebagai upaya mendorong pembiayaan dan edukasi ekonomi hijau di Indonesia, Selasa (7/4/2026).
TLFF sebelumnya telah diluncurkan pada 2016 sebagai platform pembiayaan campuran (blended finance) yang berfokus pada pengurangan deforestasi, pengembangan pertanian berkelanjutan, serta energi baru terbarukan (EBT).
Inisiatif ini melibatkan sejumlah lembaga internasional seperti UNEP dan ICRAF, bersama pelaku industri keuangan.
Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said mengatakan, peluncuran ulang TLFF dilakukan dengan pendekatan yang lebih adaptif di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Banyak agenda jangka panjang yang kini terabaikan karena kita terjebak pada kepentingan jangka pendek,” ujar Sudirman.
Ia menilai, sejumlah kebijakan di Indonesia masih cenderung berorientasi jangka pendek, seperti ketergantungan pada impor, lambatnya transisi energi, serta kurangnya perhatian terhadap pengembangan transportasi publik.
SUSTAINABILITAS sebagai pusat kajian yang menaungi TLFF juga mengusung pendekatan perubahan perilaku, termasuk dalam penggunaan transportasi publik.
Lokasi pusat kajian yang berada di kawasan transportasi terpadu Dukuh Atas, Jakarta, dipilih untuk mendorong peralihan dari penggunaan kendaraan pribadi ke moda transportasi massal.
Direktur SUSTAINABILITAS William Sabandar mengatakan, pembangunan infrastruktur perlu diiringi perubahan budaya masyarakat.
“Dalam krisis selalu ada peluang. Tantangannya bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, pusat kajian ini akan menjadi ruang kolaborasi untuk merumuskan rekomendasi kebijakan, mengembangkan skema pembiayaan, serta membangun kemitraan dalam mendukung agenda keberlanjutan.
Sekretaris Jenderal Global Alliance for a Sustainable Planet Satya Tripathi menilai, peluncuran ulang TLFF menjadi relevan di tengah kebutuhan percepatan transisi menuju ekonomi hijau.
Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar, termasuk dari sisi sumber daya alam dan cadangan karbon, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung target pembangunan berkelanjutan.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi hijau yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Satya menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan program pembiayaan berkelanjutan dapat berjalan efektif.
Peluncuran kembali TLFF diharapkan dapat memperkuat ekosistem pembiayaan hijau di Indonesia, sekaligus mendorong integrasi antara kebijakan, investasi, dan praktik lapangan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya