KOMPAS.com - Sebuah analisis terbaru mengungkapkan bahwa kawasan laut lindung di sepanjang pesisir tropis sering kali justru mengalami pencemaran limbah yang lebih parah dibandingkan perairan sekitarnya yang tidak dilindungi.
Temuan ini menunjukkan bahwa batas wilayah di laut tidak mampu membendung aliran polusi yang datang dari daratan.
Melansir Earth, Senin (6/4/2026) temuan didapat setelah peneliti dari University of Queensland di Australia melakukan survei global terhadap 16.491 kawasan laut lindung.
David E. Carrasco Rivera dari University of Queensland menganalisis peta tersebut dan menemukan bahwa status 'dilindungi' tidak menjamin airnya lebih bersih.
Peneliti juga justru menemukan bahwa pola pencemaran terlihat semakin jelas di 1.855 lokasi tropis yang berada dalam jarak 50 kilometer dari pantai.
Hal tersebut membuat setiap kawasan konservasi pantai rentan, karena upaya perlindungan menjadi sia-sia jika limbah dari hulu terus berdatangan.
Baca juga: Tekanan Besar di Laut Lepaskan Karbon-Nitrogen, Bisa Jadi Model Iklim Masa Depan
Terumbu karang, padang lamun, dan hutan bakau semuanya akan rusak jika terkena limbah rumah tangga di perairan pesisir.
Begitu limbah tersebut sampai di perairan dangkal, bakteri berbahaya akan menyebar bersama zat sisa yang memicu pertumbuhan alga, sehingga air menjadi keruh dan menghalangi sinar matahari.
Sebuah model global memperkirakan bahwa 58 persen terumbu karang dan 88 persen padang lamun sudah terpapar polusi nitrogen dari air limbah.
Paparan terus-menerus ini menghambat pertumbuhan, memicu penyakit, dan membuat habitat tersebut sulit pulih saat dilanda cuaca panas atau badai.
Menurut studi, area dengan polusi limbah paling parah ada di Afrika Timur, Timur Tengah, dan Afrika Utara, di mana rata-rata dan puncak tingkat pencemaran tercatat paling tinggi.
Sebaliknya, wilayah Australasia dan Melanesia memiliki jauh lebih banyak kawasan taman laut dengan tingkat paparan rendah, di mana hampir 80 persen wilayahnya berada dalam kategori terendah di seluruh dunia.
Di seluruh enam wilayah tersebut, terdapat sejumlah kecil titik panas (hotspots) yang membuat rata-rata polusi melonjak jauh di atas tingkat normal, menunjukkan betapa tajamnya lonjakan tekanan limbah yang bisa terjadi.
Pola yang tidak merata ini sangat penting untuk diperhatikan, karena rencana konservasi yang hanya dibuat berdasarkan angka rata-rata wilayah bisa melewatkan titik-titik lokasi yang justru akan hancur lebih dulu.
"Kawasan laut lindung yang dikelola dengan sempurna sekalipun akan gagal memberikan manfaat bagi alam dan manusia jika air limbah terus mengalir masuk dari daratan," ujar Dr. Amelia Wenger, pimpinan Global Water Pollution di Wildlife Conservation Society (WCS).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya