Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi WWF-CSF: Pendanaan Sektor Perusak Hutan 14 Kali Lebih Besar dari Konservasi

Kompas.com, 9 April 2026, 14:08 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Laporan terbaru WWF Indonesia dan Conservation Strategy Fund (CSF) mengungkap ketimpangan besar dalam aliran pendanaan terkait hutan di Indonesia.

Pendanaan untuk sektor yang berpotensi merusak lingkungan tercatat sekitar 14 kali lebih besar dibandingkan dana untuk konservasi.

Indonesia Country Director CSF Indonesia, Desta Pratama, mengatakan kesenjangan pendanaan hutan di Indonesia mencapai sekitar 5,3 miliar dollar AS atau Rp 79 triliun per tahun.

Baca juga: GASP Nilai Kebijakan Uni Eropa soal Sawit Tak Selesaikan Masalah Deforestasi

“Angka ini kami hitung dengan melihat kebutuhan pembiayaan konservasi dan membandingkannya dengan aliran dana yang ada saat ini,” ujar Desta dalam paparannya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Pendanaan Konservasi Masih Minim

Dalam studi tersebut, CSF menganalisis aliran keuangan di 18 provinsi dengan tutupan hutan di atas 50 persen, yang mencakup sekitar 70 juta hektare wilayah hutan.

Aliran dana kemudian diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni pendanaan positif yang mendukung konservasi dan pendanaan negatif yang berpotensi merusak hutan.

Hasilnya, rata-rata aliran pendanaan positif untuk konservasi hanya mencapai sekitar 244 juta dollar AS (Rp 3,8 triliun) per tahun.

Sebaliknya, aliran pendanaan negatif yang masuk ke sektor seperti pertanian, peternakan, industri pulp dan kertas, pertambangan, serta pembangunan infrastruktur di kawasan hutan mencapai sekitar 3,4 miliar dollar AS (Rp 52 triliun) per tahun.

“Pendanaan yang ada saat ini baru mampu memenuhi sekitar 5 persen dari total kebutuhan konservasi dan pengelolaan hutan,” kata Desta.

Perhitungan Berbasis Kebutuhan Nyata

Desta menjelaskan, perhitungan kebutuhan pendanaan dilakukan dengan mengacu pada target nasional, seperti *Nationally Determined Contribution* (NDC) dan FOLU Net Sink 2030, serta estimasi biaya konservasi per hektare.

Selain itu, studi juga memasukkan komponen yang selama ini kerap terabaikan, seperti dukungan bagi masyarakat adat, biaya penegakan hukum, hingga operasional di tingkat komunitas.

“Dalam inisiatif berbasis komunitas, ada biaya yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh anggaran pemerintah,” ujarnya.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pendanaan konservasi di Indonesia masih sangat bergantung pada dana publik, terutama hibah internasional.

Beberapa negara seperti Norwegia, Inggris, dan Amerika Serikat menjadi penyumbang utama melalui berbagai skema pendanaan, baik melalui pemerintah, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), maupun lembaga non-pemerintah.

Baca juga: Tanaman Pangan Pokok Sumbang 11 Persen Deforestasi Global

Sementara itu, kontribusi sektor swasta masih relatif kecil, meskipun mulai menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Potensi Perubahan Arah Pendanaan

CSF menilai terdapat peluang untuk meningkatkan pendanaan yang berpihak pada konservasi melalui berbagai instrumen keuangan.

Dalam skenario ambisi tinggi, aliran pendanaan positif diperkirakan dapat meningkat hingga 3 miliar dollar AS (Rp 46 triliun) per tahun, sementara sebagian aliran pendanaan negatif hingga 2 miliar dollar AS (Rp 31 triliun) berpotensi dialihkan ke sektor berkelanjutan.

Instrumen yang dinilai berpotensi besar antara lain obligasi berkelanjutan, mekanisme pasar karbon seperti REDD+, peningkatan bantuan pembangunan resmi, serta peningkatan anggaran domestik.

Baca juga: Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi

Selain itu, skema Tropical Forests Forever Facility (TFFF) diperkirakan dapat menyumbang sekitar 200 juta dollar AS per tahun untuk mendukung pembiayaan hutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau