KOMPAS.com - Sekitar 569,07 km atau 10,60 persen dari total panjang jalan di Kota Semarang berisiko tergenang banjir rob. Artinya, sekitar 11,46 persen volume lalu lintas harian di Semarang akan terdampak banjir rob.
Rata-rata jumlah kendaraan yang melintasi jalan padat atau estimasi total volume lalu lintas di Semarang mencapai 7.729.580 per hari.
Semarang mengalami penurunan muka tanah akibat pembangunan yang masif dan ekstraksi air tawar secara berlebihan. Sebagai kota di kawasan pesisir, Semarang juga terancam oleh kenaikan muka air laut akibat krisis iklim sehingga meningkatkan risiko banjir rob di Semarang pada masa mendatang.
Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat
"Belum lagi ketika nanti di musim hujan, air dari atas itu akan terhambat untuk dialirkan menuju ke laut, karena ketika terjadi banjir rob, air akan tetap terjebak di kawasan pesisir, sehingga akan mengancam banyak aktivitas, termasuk mobilitas perkotaan di Semarang," ujar Sustainable Mobility Analyst WRI Indonesia, Afrizal Ma'arif dalam webinar Mengelola Risiko Banjir; Politik Kebijakan, Tata Ruang, dan Adaptasi di Kota-Kota Pesisir di Indonesia, Rabu (8/4/2026).
Banjir rob melanda jaringan jalur utama dan jalan kecil di bagian utara Semarang, yang mengindikasikan sudah menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan infrastruktur serta mobilitas perkotaan.
Berdasarkan riset WRI pada 2025, segmen jalan dengan kerentanan sangat tinggi dan tinggi terkonsentrasi pada kawasan pesisi utara Semarang, terutama Kecamatan Tugu, Semarang Utara, Semarang Timur, Gayamsari, dan Genuk.
Terdapat sejumlah dampak banjir rob terhadap mobilitas perkotaan di Semarang. Pertama, banjir rob dengan ketinggian 10-50 cm memperlambat laju kendaraan dan menimbulkan kemacetan.
Kedua, waktu tempuh perjalanan meningkat sekitar 1-2 jam, atau bahkan bisa 2 kali lipat jika banjir rob sangat parah.
Ketiga, kendaraan kecil terpaksa memilih rute alternatif sejauh belasan kilometer demi menghindari jalan terdampak banjir rob. Kelima, angkutan umum Trans Semarang koridor 2,3A, 3B, 4, serta Feeder 2A, 2B, dan 2C terdampak banjir rob karena rute, halte, atau pool terendam.
"Ketika banjir rob menggenangi fasilitas-fasilitas tersebut, dilakukan beberapa penyesuaian, seperti pengalihan atau pemendekan rute, dan bahkan penghentian layanan sementara apabila banjir robnya itu cukup parah," tutur Afrizal.
Baca juga: Kenaikan Permukaan Air Laut Bisa Jadi Bencana, meski Target 1,5°C Tercapai
Keenam, aktivitas bekerja, bersekolah, dan beribadah terganggu banjir rob, yang terkadang terpaksa diliburkan. Ketujuh, kendaraan menjadi mudah rusak, karena air laut yang korosif menyebabkan karat, merusak mesin, dan kelistrikan.
Ketujuh, pengeluaran untuk mobilitas meningkat karena konsumsi BBM lebih banyak akibat harus memilih rute memutar dan kenaikan biaya perawatan kendaraan.
"Jadi, pengeluaran rumah tangga itu meningkat karena mereka perlu untuk mencuci motor lebih sering dan juga ke bengkel untuk servis lebih sering, karena sifat dari air laut itu korosif," ucapnya.
Bahkan, bagi perusahaan, biaya logistik bisa naik sebesar 30-40 persen lantaran waktu tempuh, BBM, dan risiko barang rusak yang meningkat akibat banjir rob.
Kedelapan, melakukan mobilitas saat banjir rob akan memperburuk risiko terpapar diare dan berbagai penyakit lainnya terkait sanitasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya