KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan tiga negara berkembang saat ini tengah beralih dari penggunaan energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).
Di Afrika Timur, Kenya mejadi pemimpin global dalam transisi EBT, terutama pada pengunaan energi panas bumi yang menghasilkan sebagian besar listrik negara ini.
Kemudian, Chili, Amerika Selatan, menjadi salah satu pasar energi terbarukan dengan pertumbuhan tercepar di dunia.
Chili beralih dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menjadi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listri tenaga angin atau bayu (PLTB), memanfaatkan kondisi alam seperti di Gurun Atacama.
Baca juga: Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
India turut meningkatkan bauran EBT dengan penggunaan PLTS dan PLTB. Pemerintah India mengintegrasikan EBT ke dalam strategi pembangunan hingga kelistrikan nasional, kendati masih bergantung pada minyak dan gas yang biasanya dikirimkan melalui Selat Hormuz dari negara-negara yang berbatasan dengan Teluk Persia.
Saat ini, negara-negara di dunia mengalami krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz pasca pecahnya konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran.
"Di era perang ini ketergantungan kita pada bahan bakar fosil mendestabilisasi iklim dan keamanan global," kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).
Menurut dia, kekhawatiran atas penggunaan bahan bakar fosil biasanya dikaitkan dengan perubahan iklim karena efek pemanasan dari gas yang dihasilkannya saat dibakar, tetapi sekarang keamanan energi menjadi fokus utama.
Baca juga: Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
Sejak perang antara tiga negara tersebut, pasokan minyak dan gas terkonsentrasi di wilayah yang rentan terhadap kondlik. Lainnya, rute transportasi terganggu akibat eskalasi militer.
“Tiga perempat umat manusia tinggal di negara-negara yang merupakan importir bersih bahan bakar fosil, bergantung pada energi yang tidak mereka kendalikan, dengan harga yang tidak dapat mereka prediksi,” ucap Guterres.
Dia memperingatkan risiko anggaran pembangunan yang dialokasikan untuk pembelian bahan bakar.
Sementara itu, Kepala iklim PBB, Simon Stiell, menyatakan bahwa energi terbarukan biasanya bersumber dari lokal dan diproduksi dalam negeri sehingga kurang rentan terhadap gejolak global yang dapat dipicu konflik geopolitik.
"Energi terbarukan adalah jalan paling jelas dan termurah menuju keamanan dan kedaulatan energi, melindungi negara dan perekonomian dari guncangan yang disebabkan perang, gejolak perdagangan, dan politik yang kuat adalah yang menang yang membuat setiap negara menjadi lebih miskin," tutur Stiell.
Meski keamanan energi merupakan isu geopolitik yang berkembang dan perlu ditangani negara-negara berdaulat, hal ini juga memengaruhi keluarga dan individu di dunia lantaran masyarakat mengaami kenaikan harga minyak serta gas hingga melonjaknya biaya hidup secara keseluruhan.
Karenanya PBB menyatakan bahwa EBT lebih murah daripada batu bara, minyak, atau gas, sehingga dapat secara langsung menurunkan biaya listrik bagi rumah tangga.
Selain itu, dapat melindungi masyarakat dari lonjakan harga di masa depan dengan menyediakan listrik yang lebih murah dan lebih stabil secara langsung kepada masyarakat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya