JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Vanguard yang terdiri dari siswa SMAN 1 Kedamean, Gresik, Jawa Timur, menciptakan sistem hydrotech, dirancang untuk memantau kualitas tanah dan air. Sistem ini berbasis internet of things (IoT) bertenaga surya.
SMAN 1 Kedamean sendiri memiliki Taman School Food Care (SFC) yang menjadi pusat kegiatan ketahanan pangan sekolah. Di area ini terdapat beberapa petak tanaman dengan kebutuhan perawatan yang berbeda serta kolam ikan yang harus dijaga kualitas airnya.
Mereka menjelaskan, selama ini pengecekan kelembapan tanah serta kondisi kolam dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu dan tidak selalu memberikan data yang cepat.
“Kami melihat taman SFC memerlukan pengawasan lebih, sementara cara yang ada masih manual. Dari situ kami berpikir membuat alat yang bisa memantau kondisi tanah dan air secara otomatis,” ungkap anggota tim Vanguard dalam keterangan resminya, Rabu (15/4/2026).
Baca juga: MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Dari sinilah, tim Vanguard yang beranggotakan Abdul Aziz Khotami Asyiam, Achmad Ezza Wijaya, Khansa Kharisma Helga, Puspita Catur Anggraini, dan Shila Aprilia Dewi, mengembangkan ide mengenai sistem hydrotech, pemantau ini mampu membaca suhu, curah hujan, kelembaban tanah, hingga pH air secara real-time melalui sebuah aplikasi.
Sistem tersebut dirancang untuk membantu sekolah mengambil keputusan lebih cepat, misalnya kapan harus menyiram tanaman atau mengganti air kolam. Penggunaan panel surya dimaksudkan agar alat pemantauan dapat bekerja tanpa bergantung dengan listrik sekolah.
Sementara, data dari sensor dikirim ke aplikasi yang dapat diakses guru maupun siswa, sehingga pemantauan tidak harus dilakukan dengan berkeliling ke setiap petak tanaman.
Baca juga: ASRI Awards, Penghargaan bagi Siswa hingga Sekolah lewat Inovasi Keberlanjutan
Dalam proses pengembangan aplikasi, tim Vanguard melakukan beberapa tahap uji coba untuk menyesuaikan sensitivitas sensor dengan kondisi lapangan. Mereka menyederhanakan tampilan aplikasi agar mudah dipahami pengguna yang tidak memiliki latar belakang teknis.
“Alat ini kami rancang untuk melengkapi program ketahanan pangan sekolah. Harapannya bisa membantu mencegah kerusakan tanaman dan kematian ikan akibat keterlambatan pengecekan,” tutur mereka.
Menurut Vanguard, tantangan terbesar dalam pengembangan sistem ini bukan pada merakit alat, melainkan menjaga konsistensi pengujian di tengah aktivitas sekolah yang padat. Beberapa komponen harus diganti setelah tidak sesuai dengan kondisi cuaca di Kedamean.
Para siswa berharap perangkat itu ke depannya dapat digunakan secara rutin di Taman SFC sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik. Perawatan berkala dan dukungan sekolah menjadi faktor penting agar sistem tetap berfungsi dalam jangka panjang.
Mereka ingin menunjukkan, penerapan teknologi tidak selalu harus berangkat dari masalah besar. Kebutuhan yang ada di halaman sekolah sendiri juga dapat menjadi titik awal untuk membangun solusi yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Ide mengenai hydrotech kemudian dipresentasikan pada ASRI Awards 2025 dan berhasil meraih kategori The Most Sustainable Idea. Melalui kompetisi tersebut, tim Vanguard mendapatkan masukan mengenai standar kalibrasi sensor dan rencana perawatan jangka panjang.
Fasilitas mentoring yang telah disediakan oleh ASRI Kompas Gramedia mendorong tim untuk menyiapkan panduan penggunaan sederhana agar perangkat dapat dikelola siswa lain.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya