Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan

Kompas.com, 15 April 2026, 16:49 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Vanguard yang terdiri dari siswa SMAN 1 Kedamean, Gresik, Jawa Timur, menciptakan sistem hydrotech, dirancang untuk memantau kualitas tanah dan air. Sistem ini berbasis internet of things (IoT) bertenaga surya.

SMAN 1 Kedamean sendiri memiliki Taman School Food Care (SFC) yang menjadi pusat kegiatan ketahanan pangan sekolah. Di area ini terdapat beberapa petak tanaman dengan kebutuhan perawatan yang berbeda serta kolam ikan yang harus dijaga kualitas airnya.

Mereka menjelaskan, selama ini pengecekan kelembapan tanah serta kondisi kolam dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu dan tidak selalu memberikan data yang cepat. 

“Kami melihat taman SFC memerlukan pengawasan lebih, sementara cara yang ada masih manual. Dari situ kami berpikir membuat alat yang bisa memantau kondisi tanah dan air secara otomatis,” ungkap anggota tim Vanguard dalam keterangan resminya, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung

Dari sinilah, tim Vanguard yang beranggotakan Abdul Aziz Khotami Asyiam, Achmad Ezza Wijaya, Khansa Kharisma Helga, Puspita Catur Anggraini, dan Shila Aprilia Dewi, mengembangkan ide mengenai sistem hydrotech, pemantau ini mampu membaca suhu, curah hujan, kelembaban tanah, hingga pH air secara real-time melalui sebuah aplikasi.

Sistem tersebut dirancang untuk membantu sekolah mengambil keputusan lebih cepat, misalnya kapan harus menyiram tanaman atau mengganti air kolam. Penggunaan panel surya dimaksudkan agar alat pemantauan dapat bekerja tanpa bergantung dengan listrik sekolah.

Sementara, data dari sensor dikirim ke aplikasi yang dapat diakses guru maupun siswa, sehingga pemantauan tidak harus dilakukan dengan berkeliling ke setiap petak tanaman.

Baca juga: ASRI Awards, Penghargaan bagi Siswa hingga Sekolah lewat Inovasi Keberlanjutan

Dalam proses pengembangan aplikasi, tim Vanguard melakukan beberapa tahap uji coba untuk menyesuaikan sensitivitas sensor dengan kondisi lapangan. Mereka menyederhanakan tampilan aplikasi agar mudah dipahami pengguna yang tidak memiliki latar belakang teknis.

“Alat ini kami rancang untuk melengkapi program ketahanan pangan sekolah. Harapannya bisa membantu mencegah kerusakan tanaman dan kematian ikan akibat keterlambatan pengecekan,” tutur mereka.

Menurut Vanguard, tantangan terbesar dalam pengembangan sistem ini bukan pada merakit alat, melainkan menjaga konsistensi pengujian di tengah aktivitas sekolah yang padat. Beberapa komponen harus diganti setelah tidak sesuai dengan kondisi cuaca di Kedamean.

Para siswa berharap perangkat itu ke depannya dapat digunakan secara rutin di Taman SFC sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik. Perawatan berkala dan dukungan sekolah menjadi faktor penting agar sistem tetap berfungsi dalam jangka panjang.

Mereka ingin menunjukkan, penerapan teknologi tidak selalu harus berangkat dari masalah besar. Kebutuhan yang ada di halaman sekolah sendiri juga dapat menjadi titik awal untuk membangun solusi yang lebih terukur dan berkelanjutan.

Ide mengenai hydrotech kemudian dipresentasikan pada ASRI Awards 2025 dan berhasil meraih kategori The Most Sustainable Idea. Melalui kompetisi tersebut, tim Vanguard mendapatkan masukan mengenai standar kalibrasi sensor dan rencana perawatan jangka panjang.

Fasilitas mentoring yang telah disediakan oleh ASRI Kompas Gramedia mendorong tim untuk menyiapkan panduan penggunaan sederhana agar perangkat dapat dikelola siswa lain.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau