KOMPAS.com - Kualitas udara di Asia Tenggara dilaporkan buruk dengan kategori tidak sehat dan sangat tidak sehat pada beberapa kota besar, Jumat (17/4/2026).
IQAir, perusahaan pemantau kualitas udara, melaporkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi, sehingga menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi masyarakat terutama anak-anak dan orang tua,
Pada pukul 14.00 (waktu setempat, UTC+7), beberapa pusat kota mencatat angka AQI antara 100 hingga 300, yang memicu peringatan kesehatan otomatis.
Baca juga: Sektor Perbankan Dinilai Lalai Tangani Polusi Metana
Berikut daftar kota paling berpolusi di Asia Tenggara:
"Warga disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela, memakai masker saat berada di luar ruangan, dan menggunakan alat pembersih udara di dalam ruangan," kata IQAir dalam keterannya, Sabtu (18/4/2026).
Baca juga: Emisi Jepang Turun di Bawah 1 Miliar Ton, Tapi Masih Jauh dari Target 2030
Menurut pemantauan, tingkat rata-rata PM2.5 di Asia Tenggara pada 2025 melebihi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indonesia mencatat sekitar 30 mikrogram per meter kubik (µg/m3), enam kali lipat dari pedoman. Sementara Vietnam mencapai 29,7 µg/m³, atau 5,9 kali lipat lebih tinggi.
Myanmar dan Laos masing-masing mencapai 4,7 dan 4,5 kali lipat dari batas yang ditetapkan, sementara Thailand dan Kamboja masing-masing sekitar 3,6 kali lipat di atas batas yang ditetapkan, menggarisbawahi tantangan kualitas udara di kawasan ini.
IQAir menyebutkan, kualitas udara kawasan tersebut umumnya mulai membaik pada akhir April seiring dengan perubahan pola cuaca dan mendekatnya musim hujan.
"Curah hujan dan peningkatan pencampuran atmosfer yang membantu menyebarkan partikel asap dan mengurangi konsentrasi PM2.5," jelas mereka.
Pada pertengahan April, kualitas udara di Thailand utara biasanya lebih baik. Untuk wilayah maritim Asia Tenggara, musim kemarau berlangsung hingga Oktober, yang berarti perbaikan di sana bergantung pada datangnya musim hujan timur laut.
IQAir menyampaikan bahwa memburuknya kualitas udara di Asia Tenggara karena adanya dua musim kebakaran hutan dan lahan berbeda seyiap tahunntya.
"Negara-negara daratan termasuk Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam terkena dampaknya dari bulan November hingga Mei, sementara negara-negara maritim yang berada di garis khatulistiwa seperti Indonesia dan Malaysia mengalami puncak aktivitas kebakaran pada Juni hingga Oktober," beber IQAir.
Pembakaran biomassa menyumbang sekitar 48 persen dari konsentrasi PM2.5 rata-rata tahunan di seluruh daratan Asia Tenggara. Sementara, kebakaran hutan, kebakaran semak belukar, dan pembakaran sisa-sisa tanaman mencapai puncaknya pada Maret dengan rata-rata PM2.5 bulanan mencapai 45 µg/m3.
Baca juga: Polusi Udara Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Depresi hingga Cemas
"Indonesia merupakan kontributor utama kabut asap lintas batas di seluruh wilayah, karena pembakaran biomassa dan tanah gambut organik menghasilkan sejumlah besar partikel halus berkarbon yang terbawa angin ke Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan negara-negara tetangga," ucap IQAir.
Di samping itu, lonjakan polusi dipicu emisi kendaraan, pembangkit listrik tenaga batu bara, dan aktivitas industri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya