KOMPAS.com - Seiring meningkatnya tekanan terkait keberlanjutan, dampak lingkungan bisnis kini diawasi lebih ketat. Laporan ESG tradisional yang hanya berdasarkan pengakuan perusahaan sendiri kini dianggap tidak lagi cukup.
Untuk memenuhi aturan yang lebih ketat, perusahaan kini mulai menggunakan citra satelit agar pemantauan penggundulan hutan dan penggunaan lahan menjadi lebih akurat serta transparan.
Melansir Know ESG, Kamis (22/4/2026) kunci dari perubahan ini adalah Program Copernicus dari Badan Antariksa Eropa.
Satelit Sentinel-2 milik mereka mampu memotret bumi setiap beberapa hari sekali. Hal ini membantu perusahaan beralih dari sekadar tebakan kasar menjadi data kinerja lingkungan yang nyata dan bisa diperiksa kebenarannya.
Baca juga: Otoritas Perbankan Eropa Berencana Pangkas Aturan Pelaporan ESG
Selama ini, penebangan hutan masih menjadi penyebab utama perubahan iklim. Kegiatan penggunaan lahan, seperti pertanian dan kehutanan, menyumbang porsi besar dalam emisi global, di mana penebangan hutan menjadi penyumbang terbesarnya.
Bagi banyak perusahaan, hal ini termasuk dalam emisi Scope 3 (emisi tidak langsung) yang biasanya paling sulit dilacak.
Memastikan rantai pasok bebas dari penebangan hutan sudah lama menjadi tantangan. Cara tradisional seperti sertifikat, inspeksi lapangan, atau surat pernyataan dari pemasok terasa mahal, lambat, dan terkadang tidak akurat.
Dengan adanya aturan baru yang lebih ketat, terutama di pasar seperti Uni Eropa, perusahaan kini wajib membuktikan bahwa produk mereka tidak terkait dengan penebangan hutan terbaru. Di sinilah pemantauan satelit menjadi sangat penting.
Pemantauan lewat satelit menawarkan solusi yang bisa mencakup wilayah luas dan bersifat objektif. Dengan gambar dari satelit Sentinel-2, perusahaan bisa melihat perubahan penggunaan lahan secara detail dan rutin. Hal ini memudahkan mereka untuk mendeteksi penebangan hutan atau kerusakan hutan, bahkan dalam skala kecil sekalipun.
Selain itu, alat seperti ESA WorldCover menggabungkan data radar dan foto satelit untuk membuat peta tutupan lahan dunia yang akurat. Informasi tersebut membantu bisnis mengenali risiko lingkungan lebih awal sehingga mereka bisa bertindak sebelum masalahnya menjadi lebih besar.
Selain melacak penebangan hutan, data satelit juga membantu pengelolaan lahan yang lebih baik. Teknologi ini bisa mendeteksi aktivitas ilegal, memantau penggunaan air, hingga menilai kesehatan tanah. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya dengan lebih ramah lingkungan sesuai dengan target keberlanjutan mereka.
Analisis satelit modern menggunakan teknik canggih untuk memantau perubahan lingkungan. Salah satu cara yang sering digunakan adalah NDVI, yang mengukur kesehatan tanaman lewat pantulan cahaya. Ada juga NDMI, yang melacak kadar air pada tanaman.
Rumus-rumus ini, jika digabungkan dengan algoritma pendeteksi perubahan, memungkinkan para ahli untuk membandingkan foto dari waktu ke waktu dan melihat perubahan lahan dengan sangat akurat.
Hasilnya, perusahaan bisa mendeteksi penebangan hutan dengan cepat, bahkan sebelum ada laporan resmi yang masuk.
Meskipun manfaatnya jelas, menggunakan pemantauan satelit memerlukan perencanaan.
Perusahaan harus memasukkan data satelit ke dalam sistem laporan lingkungan (ESG) mereka agar data tersebut bisa langsung digunakan untuk mengambil keputusan. Mereka juga perlu memastikan akurasi data dengan mencocokkan hasil pantauan satelit dengan informasi nyata di lapangan.
Baca juga: Ketertelusuran akan Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Laporan ESG
Keahlian teknis juga menjadi faktor kunci. Memahami gambar satelit membutuhkan pengetahuan tentang analisis peta dan pengindraan jauh. Banyak perusahaan mungkin perlu mempekerjakan ahli atau bekerja sama dengan pihak luar yang berpengalaman.
Kendati demikian, teknologi satelit dengan cepat mengubah cara perusahaan mematuhi aturan lingkungan (ESG). Dengan alat seperti satelit Sentinel-2, perusahaan bisa melihat secara langsung dampak lingkungan dan kondisi rantai pasok mereka kapan saja.
Perubahan ini membantu bisnis beralih dari sekadar "melaporkan masalah yang sudah terjadi" menjadi "mencegah masalah sebelum muncul," yang pada akhirnya membangun kepercayaan publik.
Seiring standar ESG yang terus berkembang, penggunaan citra satelit akan menjadi bagian penting dalam praktik bisnis berkelanjutan. Teknologi ini menawarkan transparansi, tanggung jawab yang nyata, serta jalur yang lebih jelas untuk mencapai target nol emisi (net-zero).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya