Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pekerja Keamanan Siber Makin Dibutuhkan, Swasta dan Pemerintah Perlu Berinvestasi

Kompas.com, 23 April 2026, 21:33 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Country Manager perusahaan keamanan siber, Cyble, Rangga F menganggap, sekitar 40 persen keberhasilan ketahanan digital suatu perusahaan atau organisasi ditentukan oleh faktor sumber daya manusia (SDM).

Bahkan, urgensi peningkatan SDM sebagai faktor penentu kesuksesan keamanan siber suatu perusahaan atau organisasi lebih tinggi ketimbang teknologi itu sendiri.

"Ke depannya, swasta harus bisa berperan aktif untuk sisi SDM keamanan siber di sebuah teknologi informasi departemen. Kenapa? Karena sekarang jangankan bicara perihal teknologi, perihal komunikasi ke luar (publik), perihal marketing, perihal sosial media, apakah hari ini bisa tanpa keterlibatan orang security (keamanan siber)?," ujar Rangga dalam Shaping Secure Data Intelligence for Digital Resilience, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI

Keterlibatan bidang keamanan siber sudah berdampak terhadap keberlanjutan bisnis berbagai industri strategis di sektor perbankan, logistik, sampai pertambangan.

Saat ini, industri-industri strategis tersebut sudah mengadopsi Internet of Things (IoT), drone, dan kecerdasan buatan (artificial intelligent / AI).

Rangga mengaku sangat heran dengan kesaksian Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Ismail, yang menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan bisnis dengan produk utama berbentuk digital masih menganggap keamanan siber sebagai biaya atau pengeluaran (cost). Padahal, dampak serangan siber saat ini sudah sangat destruktif.

"Kita enggak perlu bilang bahwa ada ancaman Indonesia bisa bangkrut ya (akibat serangan siber). Dari ancaman kepercayaan saja, data bocor segala macam, itu sudah hal yang enggak bisa kita nilai. Belum lagi kita bicara ransomware," tutur Rangga.

Pemerintah Ikut Berinvestasi

Ismail menyingung masih banyaknya perusahaan di Indonesia belum memiliki budaya keamanan siber untuk menjaga data yang mereka kelola dari potensi kebocoran.

Ia mengimbau perusahaan-perusahaan di Indonesia paradigma dalam memandang keamanan siber, dari sekadar cost, menjadi investment (investasi). Apalagi, keamanan siber dapat menjadi investasi jangka panjang bagi perusahaan untuk menjaga reputasi, pendapatan, sampai keberlanjutan bisnis.

Dalam jangka panjang, Komdigi harus berani ikut berinvestasi dalam bidang keamanan siber. Ini mengingat tidak semua kebutuhan bisa diserahkan kepada pelaku usaha, karena ada investasi yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri oleh perusahaan. Salah satunya, investasi dalam mencetak talenta digital nasional.

"Kondisi kasus-kasus tertentu harusnya pemerintah itu juga harus
siap untuk melakukan investasi. Karena tidak sedikit aktivitas-aktivitas itu yang tidak mungkin investasinya itu menunggu para operator atau para pelaku usaha. Karena apa? Karena mungkin cost-nya terlalu besar," ucap Ismail.

Baca juga: Menyiapkan Anak Hadapi Era AI, Jangan Cuma Jadi Pengguna

Selain itu, dalam jangka panjang, Komdigi juga memiliki peran sebagai pembuat regulasi dan orkestrator. Sebagai pembuat kebijakan, Komdigi bisa berkontribusi dalam penyusunan berbagai aturan sebagai bagian dari penguatan tata kelola keamanan siber. Sedangkan sebagai orkestrator, Komdigi berperan mengoordinasikan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan keamanan, pemanfaatan data, dan ekosistem digital secara keseluruhan.

"Ini tugas yang berat," ujar Ismail.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Target PLTS 100 GW Dinilai Bikin RI Lebih Tahan Guncangan Krisis Energi
Target PLTS 100 GW Dinilai Bikin RI Lebih Tahan Guncangan Krisis Energi
LSM/Figur
Pekerja Keamanan Siber Makin Dibutuhkan, Swasta dan Pemerintah Perlu Berinvestasi
Pekerja Keamanan Siber Makin Dibutuhkan, Swasta dan Pemerintah Perlu Berinvestasi
Pemerintah
EV Lebih Efisien dari WFH, Pemerintah Berpotensi Hemat Rp 12 Triliun
EV Lebih Efisien dari WFH, Pemerintah Berpotensi Hemat Rp 12 Triliun
LSM/Figur
BSSN: Serangan Siber Naik 7 Kali Lipat pada 2025 dan Berlanjut di Awal 2026
BSSN: Serangan Siber Naik 7 Kali Lipat pada 2025 dan Berlanjut di Awal 2026
Pemerintah
Indef: Cukai Emisi Kendaraan Berpotensi Hasilkan Rp 40 Triliun Per Tahun
Indef: Cukai Emisi Kendaraan Berpotensi Hasilkan Rp 40 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Program 'Reuse' Global Mandek Akibat Aturan yang Berbeda di Tiap Negara
Program "Reuse" Global Mandek Akibat Aturan yang Berbeda di Tiap Negara
Pemerintah
PLTS hingga EV Diprediksi Bakal Dongkrak Produksi Tembaga di Indonesia
PLTS hingga EV Diprediksi Bakal Dongkrak Produksi Tembaga di Indonesia
BUMN
Banyak CEO Tak Anggap Keamanan Siber sebagai Investasi
Banyak CEO Tak Anggap Keamanan Siber sebagai Investasi
Swasta
Studi Sebut 98 Persen Janji Keberlanjutan Industri Daging dan Susu Hanya Greenwashing
Studi Sebut 98 Persen Janji Keberlanjutan Industri Daging dan Susu Hanya Greenwashing
Pemerintah
BRIN Temukan Subspesies Baru Buah Bisbul Asli Papua
BRIN Temukan Subspesies Baru Buah Bisbul Asli Papua
Pemerintah
Percepat Ubah Sampah Jadi Energi, Pemerintah Tawarkan Berbagai Kemudahan untuk Pengelola
Percepat Ubah Sampah Jadi Energi, Pemerintah Tawarkan Berbagai Kemudahan untuk Pengelola
Pemerintah
Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Jadi Alarm Pencemaran Sungai Ciliwung
Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Jadi Alarm Pencemaran Sungai Ciliwung
Pemerintah
IDX Carbon Permudah Individu dan Retail Hapus Jejak Karbon
IDX Carbon Permudah Individu dan Retail Hapus Jejak Karbon
Swasta
Pemerintah Lelang Proyek 'WtE' di Medan-Bekasi, untuk Olah 7.000 Ton Per Hari
Pemerintah Lelang Proyek "WtE" di Medan-Bekasi, untuk Olah 7.000 Ton Per Hari
Pemerintah
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau