KOMPAS.com - Sebuah studi baru memberikan bukti nyata untuk pertama kalinya bahwa ada hubungan langsung antara bantuan dana iklim dengan berkurangnya risiko konflik perebutan sumber daya di negara berkembang.
Dampaknya sangat terasa pada bantuan dana yang fokus mengatasi krisis air dan mempercepat proyek energi terbarukan. Studi ini juga menemukan bahwa semakin besar dana iklim yang diberikan, semakin besar pula dampaknya dalam menciptakan perdamaian.
Melansir Phys, Kamis (23/4/2026) penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan penyebab utama munculnya konflik akibat perebutan sumber daya. Kelangkaan sumber daya, ketidakpuasan sosial, dan ketidakadilan adalah faktor-faktor yang memicu konflik tersebut.
Namun, studi baru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Climate Policy membuktikan secara sistematis bahwa bantuan dana iklim dapat mengurangi risiko terjadinya konflik.
Sebelumnya, para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai apakah bantuan internasional bisa mengurangi atau justru memicu konflik. Namun, studi ini menunjukkan dengan jelas bahwa dana iklim dapat membantu menurunkan risiko konflik akibat perebutan sumber daya alam.
Baca juga: Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Para peneliti mengamati data dari 85 negara berkembang selama lebih dari 20 tahun. Dalam laporan ini, dana iklim diartikan sebagai bantuan uang internasional yang ditujukan untuk pembangunan rendah karbon dan proyek yang tahan terhadap perubahan iklim.
"Studi kami menunjukkan bahwa dana iklim berperan penting dalam mengurangi konflik, terutama kerusuhan kecil di dalam negeri dan konflik akibat perebutan sumber daya. Jika dilihat lebih teliti, investasi pada infrastruktur sosial memberikan dampak yang paling besar," ungkap penulis utama Chin-Hsien Yu.
Bantuan ini tidak hanya mendukung pembangunan, tapi juga memperkuat ketahanan dan kesejahteraan masyarakat yang rentan. Caranya adalah dengan mempermudah akses ke kebutuhan dasar seperti air dan energi, yang sangat penting bagi kehidupan dan bisa membantu menurunkan risiko konflik."
"Selain itu, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa semakin banyak dana iklim yang mengalir ke sebuah negara, semakin jarang terjadi konflik akibat perebutan sumber daya," terang Yu lagi.
Menurutnya, investasi pada pertahanan banjir, pengelolaan air, dan pertanian yang tahan perubahan iklim membantu suatu daerah beradaptasi dengan cuaca yang tidak menentu. Hal ini mengurangi tekanan pada penduduk setempat dan memperkecil peluang terjadinya konflik.
Rekan penulis, Xinrui Li menambahkan bahwa dana iklim melakukan jauh lebih banyak hal daripada sekadar membantu negara beradaptasi dengan perubahan iklim.
Dana tersebut juga membantu menciptakan perdamaian dan stabilitas di wilayah yang rawan konflik. Pemerintah, pembuat kebijakan, dan pemberi bantuan harus mempertimbangkan dampak yang lebih luas ini saat memutuskan berapa banyak yang akan diinvestasikan untuk dana iklim.
Baca juga: Dana Iklim Dunia Melimpah, tapi Belum Menjangkau Kelompok Rentan
Dalam studi ini juga peneliti memberikan beberapa rekomendasi agar dana iklim dapat tersalurkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut mereka, lembaga keuangan dan pemberi bantuan harus mengutamakan daerah yang alamnya rusak sekaligus rawan konflik. Dengan begitu, dana yang terbatas bisa digunakan secara maksimal untuk menciptakan perdamaian.
Para pembuat kebijakan perlu memprioritaskan investasi pada air bersih dan energi terbarukan di wilayah yang rawan konflik, karena dua hal ini terbukti paling ampuh mengurangi risiko kerusuhan.
Baca juga: 65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
Sementara itu, di lokasi proyek, diperlukan tata kelola yang kuat dengan melibatkan masyarakat setempat dan kelompok yang selama ini terabaikan.
Penyelenggara proyek juga harus membantu negara penerima bantuan untuk memperkuat sistem perencanaan dan pengawasan mereka. Tujuannya agar uang tersebut bisa dipakai secara efisien, bahkan dalam situasi yang sulit atau tidak stabil sekalipun.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya